Upaya Sistem Pendidikan Dalam Mencegah Radikalisme

DEPOK POS – Pendidikan jika dilihat dari sudut pandang sebuah bangsa merupakan sebuah sistem yang digunakan dalam rangka membangun sumber daya manusia didalam bangsa agar memiliki keterampilan, serta moralitas dan karakter yang sesuai dengan nilai – nilai ideologi bangsa.

Peran pendidikan dalam bangsa sangat vital terutama dalam pembangunan karakter dan ideologi bangsa, karena jika suatu bangsa sumber daya manusianya memiliki banyak keterampilan dan kecerdasan namun justru tidak sesuai ideologinya dengan bangsa maka keterampilan dan kecerdasannya tidak akan dapat digunakan untuk membangun dan memajukan bangsa melainkan sebaliknya.

Bangsa Indonesia sendiri menganut ideologi pancasila. Ideologi tersebut tertuang dan tercermin dalam setiap butir sila di pancasila. Dalam aspek ketuhanan Indonesia bukanlah negara yang menganut satu agama tertentu. Hal tersebut tertuang dalam butir pancasila sila kesatu yang mana Indonesia mengakui adanya tuhan yang ESA namun tidak secara spesifik mencantumkan tuhan yang mana dan dalam agama apa.

Jika mengacu pada sejarah pembentukan pancasila kita ketahui bahwa negara Indonesia sendiri sedari awal memang memiliki kondisi kebaragaman suku dan agama sehingga ketika pembentukan sebuah negara Indonesia yang menyatukan berbagai pulau – pulau dan berbagai kerajaan menjadi sebuah konsekuensi logis bahwa dasar negara haruslah dapat mengakomodasi tiap keberagaman yang ada didalam bangsa Indonesia.

Edukasi terkait keberagaman dan toleransi telah pemerintah programkan dalam sistem pendidikan. Hal tersebut tercermin dalam berbagai kegiatan edukasi radikalisme dan nasionalisme dalam berbagai platform media sosial, dan media berita menggelorakan bahaya radikalisme dan nilai penting nasionalisme. Berbagai seminar antiradikalisme juga pemerintah gelar dengan berbagai lembaga sosial serta pihak kepolisian disekolah – sekolah. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menanamkan pendidikan karakter kepada seluruh masyarakat Indonesia agar memiliki karakter sesuai spirit ideologi bangsa yang mengusung nilai – nilai toleransi dan keberagaman.

BACA JUGA:   FK-KMK UGM Luncurkan Big Data Sistem Kesehatan

Namun pada faktanya dilapangan masih banyak pelajar di Indonesia yang terpapar nilai – nilai radikalisme yang fanatik terhadap satu aliran tertentu. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya fenomena kasus terorisme yang banyak terjadi diIndonesia seperti bom gereja serentak di malam Natal, bom JW Marriot dan Ritz Carlton, perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, bom masjid polres Cirebon Kota, Penyerangan terhadap tokoh agama, bom Bali dan masih banyak lagi. Disamping itu Telah ditemukan fenomena rekrutmen anggota NII yang telah dideteksi sebagai organisasi teroris oleh pihak aparat negara. Rekrutmen tersebut berhasil mencuci otak 77 anak berusia 13 tahun hingga dapat menjadi bagian dari mereka.
Dengan adanya permasalahan tersebut maka bagaimana upaya negara dalam sistem pendidikan untuk mencegah terorisme dikalangan pelajar.

Jika dilihat dari segi perspektif penanganan radikalisme menurut Kementrian Luar Negeri Indonesia memiliki dua strategi yakni deradikalisasi dan kontraradikalisasi. Deradikalisasi dilaksanakan dalam rangka mengarahkan orang – orang yang telah terpapar rasikalime yang mana penangananya langsung ditujukan kepada para narapidana terorisme sedangkan kontraradikalisasi merupakan sebuah pendidikan dalam rangka mencegah radikalisme dengan pendidikan nasionalisme dan pendidikan nilai – nilai pancasila.

BACA JUGA:   FK-KMK UGM Luncurkan Big Data Sistem Kesehatan

Dalam sistem kurikulum baru yakni kurikulum merdeka terdapat spirit yang mendasari kerangka kurikulum merdeka yakni penciptaan profil pelajar pancasila. Dalam profil pelajar pancasila sendiri memiliki tujuan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Dalam profil pelajar pancasila menekankan aspek tolerasi dan berkebihnekaan global. Hal tersebut dalam kurikulum merdeka diimplementasikan dalam program berbasis intrakulikuler dan juga program kokulikuler yang mana kokulikuler sendiri didesign dalam rangka bukan hanya mengasah soft skill pelajar tetapi juga menumbuhkan serta mengaplikasikan nilai – nilai panacsila dalam sebuah project sekolah diluar akademik.

Dalam pembelajaran intra kulikuler sendiri telah sisipkan pembelajaran yang menekankan nasionalisme dan nilai – nilai pancisal dalam pembelajaran PKN. Sehingga jika dilihat dari segi sistem pencengahan terorime dalam pendidikan nasional pemerintah telah mengatur dan mendesignnya melalui kurikulum merdeka dalam pembelajaran intrakulikuler dan kokulikuler.

Jika dilihat kembali kebelakang sebelum kurikulum merdeka terdapat kurikulum 2013 yang mana didalamnya tidak ada pembelajaran kokulikuler, yang ada hanya pembelajaran intrakulikuler dan ekstrakulikuler, sedangkan dalam kurikulum merdeka ke tiganya ada. Sehingga dalam pembentukan nilai – nilai nasionalisme dalam sistem kurikulium yang baru dapat lebih kuat karena nilai – nilai nasionalisme dan pancasila tidak hanya ditanamkan dalam pendidikan intrakulikuler melalui mata pelajaran tertentu saja tetapi juga didorong, diarahkan serta diawasi oleh guru untuk diimplementasikannya melalui berbagai project lapangan langsung sehingga dapat mendorong pelajar untuk bukan hanya memahami dan menghayati konsep nasionalisme dan nilai – nilai pancasila tapi juga tertuntut untuk menerapkannya.

BACA JUGA:   FK-KMK UGM Luncurkan Big Data Sistem Kesehatan

Biasanya project yang didesign pun akan berbau nasionalisme contohnya project kewirausahaan dalam memperingati hari pancasila. Sehingga dengan sistem pendidikan dalam kurikulum merdeka yang menekankan pembangunan profil pelajar pancasila dalam pembelajaran intrakulikuler dan kokulikuler dapat semakin menguatkan pendidikan kontraradikalisme pada pelajar dalam rangka mencegah paparan radikalisme.

Kesimpulan upaya negara dalam sistem pendidikan untuk mencegah terorisme dikalangan pelajar yakni melalui pendidikan kontraradikalisme yang didesign melalui kurikulum nasional yang didalamnya terdapat pembelajaran intrakulikuler dan kokulikuler dalam rangka membangun profil pelajar pancasila.

Adapun saran pembangunan nilai – nilai pancasila dalam sistem pendidikan dapat dikembangkan dan ditambahkan pendidikan yang membahas dan menekankan hakikat ideologi radikalisme serta ciri – cirinya dilpangan. Hal tersebut dikarenakan proses pemasaran nilai – nilai idelogi terus berkembang pesat, mereka dapat membuat sebuah konstruksi gagasan yang jika dilihat secara sepintas terlihat tidak menyimpang dengan nilai – nilai nasionalisme dan tidak terlihat radikalisme sehingga hal tersebut dikhawatirkan masih terdapar celah bagi para pelajar untuk terjerumus kedalam aliran radikalisme karena ketidak mampuan mereka diawal dalam mengidentifikasi mana sebuah aliran atau ideologi radikalisme dan mana yang bukan.

Nia Nurhaliza
Mahasiswa UHAMKA

Pos terkait