Mengenal Risiko Likuiditas pada Bank Syariah

DEPOK POS – Sejak dahulu hingga kini sudah sangat umum setiap suatu tindakan ataupun perbuatan memiliki risiko yang dimilikinya, semakin besar keinginan dan tujuan yang mau dicapai maka akan semakin besar pula risiko yang akan hadir. Tidak luput pula dalam dunia bisnis, begitu banyak risiko yang akan datang dan beragam, cara menanganinya agar terhindar dari risiko tersebut atau menghilangkan risiko tersebut walaupun jika risiko itu besar maka sangat kecil kemungkinan untuk dapat menghilangkan atau menghindarkannya maka untuk menanganinya yakni memperkecilkan risiko yang akan datang nanti.

Sedangkan Bank Syariah ialah badan usaha yang berupa jasa yang saat ini sangat digemari oleh kalangan masyarakat baik mereka itu islam maupun non islam, mereka percaya dapat menitipkan hartanya yang dapat berupa uang maupun barang berharga lainnya. Bank syariah juga tidak mungkin luput dari risiko itu sendiri, terlebih lagi beragamnya layanan jasa yang mereka tawarkan mengartikan bahawa risiko semua itu tidaklah sama cara penanganannya.

Lalu apa sih sebenarnya risiko likuiditas pada bank syariah itu? dan bagaimana cara menanganinya? namun sebelum menjelaskan risiko likuiditas, apakah likuiditas itu sendiri?

Pengertian dari likuiditas itu sendiri ialah suatu kemampuan pada perusahaan dalam menangkup seluruh kewajiban jangka pendek yang dimilikinya pada saat jatuh tempo. Jika dalam pengertian yang lebih simpel dan mudah dipahami ialah kemampuan seseorang maupun perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau hutangnya. Jadi likuiditas ialah bagaimana caranya suatu perusahaan dapat memenuhi kebutuhan perusahaan termasuk membayar kewajiban atupun hutangnya.

Sedangkan risiko likuiditas dalam pengertiannya ialah risiko yang memiliki potensi kerugian yang dapat dialami oleh bank syariah karena ketidakmampuannya dalam menangkup liabilitasnya yang telah jatuh tempo atau ketidakmampuan bank syariah dalam menandai peningkatan dalam asetnya dengan biaya yang relatif murah dan tanpa adanya kerugian yang berarti. Jika dalam pengertian lainnya yakni ketidakmampuannya bank syariah dalam memenuhi liabilitas yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas maupun aset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan tanpa menghambat atau menggangu aktivitas dan keuangan bank.

Jadi risiko likuitas ialah suatu risiko kerugian yang ada pada bank syariah ketika tidakmampuan dalam menangangi aktivitas pemenuhan kebutuhan perusahaan yang jatuh tempo atau dalam bentuk kewajiban maupun hutang suatu perusahaan.

Namun bagaimana risiko likuiditas dapat terjadi? berikut ialah beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya risiko likuiditas :

Ketika terjadinya penarikan dana simpanan dalam jumlah yang besar, namun bank syariah tidak memiliki cukup dana dan sumber dana yang cepat untuk dicairkan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas tersebut.

Ketika bank syariah telah memiliki komitmen dalam pembiayaan dengan jumlah besar yang belum terlealisasikan dengan debitur ketika saat realisasi, dikarenakan bank syariah tidak memiliki dana yang cukup.

Terjadinya penurunan besar-besaran terhadap aset bank syariah miliki dan dapat memicu ketidakpercayaan nasabah sehingga nasabah kemungkinan menarik dana simpanannya dalam jumlah yang besar di bank syariah.

Lantas bagaimana caranya agar bank syariah tidak terjadi risiko likuiditas?

Cara dalam menangani risiko likuiditas ialah dengan memanajemen risiko likuiditas itu sendiri dengan beberapa tahapan untuk dapat melihat dan menilai risiko tersebut dan bagaimana dengan cara untuk menghindari, mengurangi atau bahkan menghilangkan risiko tersebut. berikut ini merupakan tahapan dalam memanajemen risiko likuiditas :

Pengukuran risiko likuiditas
Proses manajemen risiko likoiditas diawali dengan pengumpulan data yang di dalamnya mencakup proses identifikasi berbagai sumber arus kas masuk (aset) dan arus kas keluar (liabilitas) yang telah dikelompokkan berdasarkan waktu jatuh tempo. Jika arus kas masuk lebih besar dibandingkan arus kas keluar, maka bank islam mengalami kondisi kelebihan likuiditas (excess liquidity) dan jika sebaliknya, maka bank Islam mengalami kekurangan likuiditas (shortage liquidity). Informasi tersebut berguna bagi bank Islam untuk menentukan kapan pendanaan kekurangan likuiditas harus dilakukan agar bank Islam terhindar dari masalah likuiditas.

Strategi mitigasi risiko likuiditas
Dengan mengetahui ukuran likuiditas pada setiap periode tertentu, bank Islam dapat menyusun berbagai strategi yang diperlukan untuk mengelola likuiditas, termasuk di dalamnya menentukan berbagai kebijakan mitigasi risiko likuiditas yang harus diambil untuk setiap kondisi. Kebijakan risiko likuiditas pada bank lalam biasanya terdiri atas empat hal, yaitu kebijakan investasi untuk mengalokasikan kelebihan likuiditas, kebijakan pendanaan untuk menatap kekurangan likuiditas, kebijakan terkait liquidity buffer, dan strategi mitigasi risiko yang bank Islam dapat lakukan untuk menghindari kerugian akibat terjadinya permasalahan liuiditas.

Kendala bank syariah dalam mitigasi risiko likuiditas
Kenala pada bank syariah dalam mitigasi risiko likuiditas yang pertama, terdapat batasan fiqh yang melarang bank Islam melakukan sekuritisasi aset berbasis utang, seperti pembiayaan murabahah, salam, dan istishna. Syariat Islam melarang jual beli utang (bai ad-dayn) sehingga bank Islam tidak dapat menggunakan cara sekuritisasi aset berbasis utang untuk mendapatkan likuiditas. Kedua, instrumen pasar uang yang sudah berkembang hampir semuanya berbasis bunga (riba) sehingga menyulitkan bank Islam dalam mencari instrumen pasar uang yang dapat digunakan untuk menjaga likuiditas. Di sisi lain, pasar uang Islam belum terlalu stabil dan instrumen instrumen yang ada pun masih sangat terbatas sehingga menyulitkan bank islam untuk mendapatkan akses pendanaan dari pasar uang.

Pengendalian dan mitigasi risiko likuiditas
Untuk melakukan pengendalian dan mitiga risiko likuiditas, terdapat beberapa hal seharusnya dilakukan bank :

  • Sebaiknya bank Islam melakukan diversifikasi atas sumber pendanaan yang digunakan untuk mendanai berbagai pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat.
  • Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek, bank Islam dapat menggunakan beberapa skema pendanaan jangka pendek. Contohnya skema mudharabah jangka pendek antarbank Islam. Kekurangan likuiditas dapat ditutupi dengan mencari dana likuid dari bank Islam lainnya di mana keduanya bertransaksi dengan akad mudharabah jangka pendek.
  • Bank syariah dapat melakukan sekuritisasi aset selama memungkinkan dan disetujui olch DPS dan DSN.
    Bank syariah seharusnya membuat kebijakan cadangan likuiditas dan memasukkannya pada perhitungan tingkat likuiditas optimal yang harus dijaga setiap periode.

Begitulah tahapan serta penjelasan pada manajemen risiko likuiditas, faktor menjadikan adanya risiko likuiditas dan juga pengertian-pengertian yang terkait tentang risiko likuiditas.

Khaerunnisa Taqiyah
STEI SEBI

Pos terkait