Mengenal Keanekaragaman Suku Buton

DEPOK POS – Keberagaman merupakan suatu kondisi dimana suatu negara atau daerah memiliki banyak sekali perbedaan. Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sekali pulau-pulau, ras, agama, serta suku dan budaya nya. Keberagaman yang dimiliki negara Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan yang harus kita jaga dan kita rawat.

Suku yang terdapat di Indonesia yaitu diantaranya Suku Jawa, Betawi, Sunda, Batak, Dayak dan lain sebagainya. Namun, dari banyaknya suku di Indonesia, terdapat salah satu suku yang berada di daerah Sulawesi Tenggara yang bernama Suku Buton. Suku Buton merupakan suku pelaut karena orang-orang Buton hidup merantau menggunakan perahu kecil untuk menelusuri Nusantara.

Buton adalah nama sebuah pulau sepanjang kurang lebih 100 km yang terletak di dalam sisi tenggara jazirah Sulawesi (Maula, dkk. 2011). Daerah Buton adalah daerah yang awalnya memiliki nama butuun dengan bentuk pemerintahan kesultanan ini memiliki peradaban yang luar biasa kaya. Masyarakat Buton terkenal ramah dan pekerja keras serta masih menjunjung beberapa kebiasaan yang mengesankan. Pelaksanaan adat istiadat yang sarat dengan nuansa Islam menjadi pemandangan seharihari di wilayah ini. Adanya pengantar adzan pada setiap akan dikumandangkannya adzan pada tiap waktuwaktu salat membuat senantiasa mengingatkan pada setiap orang bahwa masyarakat Buton ini adalah mayoritas penganut agama islam.

Masyarakat Buton yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan sempat bentuk otoritas kepemimpinan daerahnya berbentuk kesultanan ini, tak mengherankan jika hampir seluruh konsep kehidupannya dilandaskan pada konsep keislaman. Etika tradisional yang masih erat dijalankan dalam masyarakat Buton ini adalah ramah, suka menolong, menyayangi orang lain dan tidak suka menyendiri menjadi kebiasaan dalam tatanan hidup bernegara dan berbangsa (Zaadi, 2005). Dengan demikian masyarakat Buton menjadi pribadi yang menarik dan berwibawa dalam menjalani pergaulan dalam bermasyarakat luas.

Di dalam masyarakat Buton terdapat konsep berkeluarga yaitu Kabanti Kaluku Panda. Kabanti Kakulu Panda adalah salah satu karya sastra kuno Buton, sepanjang 12 halaman dan termasuk 70 jebakan. Panda Kaluku ini bernama La Ode Kobu (Yarona Labuandiri) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Arif Rahman dan disalin oleh Lambalangi pada tahun 2003. Panda Kaluku ini memiliki beberapa versi dan versi, namun untuk kejelasan dan kepastian. versi, penelitian lebih lanjut diperlukan. lanjutkan lagi. Dalam sebuah suku, ada ritual tradisional. Adat adalah kewajiban atau kebiasaan agama dalam kehidupan masyarakat hukum adat, yang menganut nilai dan norma suatu budaya yang saling bergantung dan menjadi suatu sistem atau peraturan adat. Sama halnya dengan masyarakat Buton, mereka juga memiliki ritual adat. Ritual adat Buton merupakan kewajiban atau kebiasaan keagamaan dalam kehidupan masyarakat adat, yang menganut nilai-nilai budaya dan norma-norma yang dengannya aturan-aturan tersebut saling terkait dan menjadi norma dalam suatu sistem atau peraturan adat.

Cumpe adalah sebuah ritual adat yang harus dilakukan bagi seorang wanita Buton yang anak pertamanya merupakan warisan leluhur suku Buton yang masih dilestarikan dan dilakukan oleh masyarakat Buton, meskipun perempuan dan laki-laki Buton dari suku Butone menikah dengan suku lain. , tetapi upacara mengikat harus dilakukan oleh seorang wanita yang telah memiliki anak pertama. Sedangkan sampua merupakan acara adat, merupakan warisan nenek moyang suku Buton yang lahir dan dimulai sebagai sumpah atau ucapan syukur. Acara ini merupakan ajang solidaritas kerakyatan untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam adat dan tradisi serta mempererat hubungan antar masyarakat. Selain melakukan ritual adat, masyarakat Buton juga memiliki simbol dan makna.

Simbol adalah objek sosial yang berinteraksi, digunakan sebagai representasi dan komunikasi, ditentukan pengguna dan makna, menciptakan dan memodifikasi objek dalam interaksi. Hubungan antara lambang sebagai penanda dengan sesuatu yang dilambangkan (signified) merupakan suatu konvensi, yang atas dasar itu masyarakat pemakai juga menafsirkan ciri-ciri hubungan, hubungan antara lambang dengan objek yang dirujuk dan menafsirkannya. arti. Salah satu kearifan lokal budaya Buton yang dapat dijadikan inovasi pendidikan anak usia dini adalah pakaian adat Buton Alana Bulua dan sarung tenun khas Buton. Umanailo (2015) berpendapat bahwa pakaian adat merupakan identitas atau makna tersendiri bagi yang memakainya. Pakaian adat Buton dapat diasosiasikan dengan perpisahan dengan kehidupan sosial masyarakat Buton yang beragam, mungkin tergantung pada usia, jenis kelamin, status sosial, status perkawinan, dan jenis upacara/tradisi. pengguna.

Karademir Hazlr (2017) berpendapat bahwa seseorang mengenakan pakaian tradisional tertentu untuk mendapatkan perhatian dan rasa hormat ketika tampil di depan banyak orang. Jenis dan fungsinya akan berbeda saat dipakai. Pakaian adat suku Buton bermacam-macam, berdasarkan jenis kelamin, golongan, umur, status dan jenis upacara adat. Keberagaman ini menjadi identitas, daya tarik budaya, sebagai wujud kecintaan dan kebanggaan masyarakat Buton yang masih dipertahankan hingga saat ini. Pemerintah dan masyarakat Buton selalu berusaha untuk melestarikan pakaian adat buton ini, seperti penggunaan pakaian adat buton dalam berbagai perayaan budaya, hari besar nasional dan daerah, pernikahan, berbagai upacara adat, serta penggunaan pakaian produksi. dari tekstil khas Butonnais pada hari-hari tertentu. mingguan untuk pejabat negara.

Pada masa Dinasti Buton, sarung tenun Buton digunakan sebagai alat negosiasi atau sebagai pengganti mata uang (Tradisi Tenun Buton Lama, 2017). Sarung tenun kancing dibuat dari benang katun asli dan kapas yang ditanam oleh masyarakat sebagai bahan baku utama. Namun saat ini, pada umumnya orang tidak lagi menggunakan kapas asli, dan semakin banyak orang yang menggunakan benang pabrik. Pria atau wanita dapat mengenakan sarung tenun Buton, dalam berbagai pola atau tekstur. Sarung pria memiliki pola persegi, dan untuk wanita, garis-garis kecil dan besar berjarak sama. Tema kombinasi warnanya cukup beragam dan banyak tema yang terinspirasi dari alam, seperti warna tanaman atau hijau. Sarung tenun buton hadir dalam berbagai desain tematik yang terinspirasi dari bagian tanaman seperti daun, buah, bunga, biji dan akar (Sahrun Buton, 2020).

Buton adalah nama sebuah pulau sepanjang kurang lebih 100 km yang terletak di dalam sisi tenggara jazirah Sulawesi (Maula, dkk). Etika tradisional yang masih erat dijalankan dalam masyarakat Buton ini adalah ramah, suka menolong, menyayangi orang lain dan tidak suka menyendiri menjadi kebiasaan dalam tatanan hidup bernegara dan berbangsa (Zaadi, 2005).

Bahasa yang digunakan dalam Kabanti ini adalah bahasa Wolio dan beraksara Wolio pula. Sama halnya dengan masyarakat Buton, mereka juga mempunyai upacara adat. Upacara adat Buton merupakan sebuah kewajiban atau kebiasaan yang bersifat religius dari kehidupan penduduk asli yang taat pada nilai-nilai dari sebuah budaya serta norma-norma yang aturanya saling berkaitan dan menjadi suatu sistem atau peraturan yang tradisional. Salah satu kearifan lokal budaya Buton yang dapat digunakan sebagai inovasi bagi pendidikan anak usia dini adalah pakaian adat Buton Alana Bulua dan sarung tenun khas Buton.

Feby Fadia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait