Kiat – Kiat Mendorong Industri Asuransi Syariah Guna Mewujudkan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2024

DEPOK POS – Asuransi syariah resmi didirikan di Indonesia pada tahun 1994. PT. Asuransi Takaful Keluarga berdiri pada tanggal 25 Agustus 1994 melalui SK Menkeu dan menjadi Asuransi Takaful Indonesia.

Yang membedakan asuransi syariah dengan asuransi konvensional adalah keterkaitan dengan hukum agama. Ketentuan- ketentuan yang membedakan antara lain sistem tolong-menolang, menghindarkan praktik riba, maysir, serta gharar.

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) mencatat kontribusi bruto industri asuransi syariah tumbuh 41,32 persen year-on-year (yoy) sampai dengan kuartal III/2021. Berdasarkan data yang dipaparkan Direktur Eksekutif AASI Erwin Noekman, industri asuransi syariah membukukan kontribusi bruto senilai Rp16,89 triliun per September 2021 atau tumbuh 41,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, senilai Rp11,95 triliun. Aset industri asuransi syariah juga tercatat meningkat 6,1 persen yoy, dari Rp41,16 triliun per September 2020 menjadi Rp43,68 triliun per September 2021.

Wapres Ma’ruf Amin mengatakan, industri asuransi syariah masih berpeluang besar untuk berkembang di dalam negeri. “karena pada hakikatnya asuransi syariah ini dapat mendorong prinsip tolong menolong atau ta’awwun yang sudah lekat dalam budaya masyarakat Indonesia, sekaligus menjadi aspek penting dalam maqashid syariah,” ujar Ma’ruf ketika membuka rapat Anggota Tahunan Asosiasi asuransi Syariah Indonesia (AASI) Tahun 2022, dikutip dari siaran pers, Rabu (9/3/2022). tetapi, Wakil Presiden juga mengingatkan bahwa dibalik besarnya peluang tersebut masih terdapat tantangan yang wajib dikelola dengan baik. Tantangan pertama yang dihadapi oleh industri asuransi syariah yakni minimnya diferensiasi dan keunikan produk asuransi syariah.kedua, minimnya promosi dan eksposur asuransi syariah untuk menjangkau pangsa pasar potensial. Ketiga, keterbatasan sumber daya manusia profesional.”Selain itu, juga masih ada tantangan efesiensi rapikan kelola dan permodalan. ada pula faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan asuransi syariah, seperti rendahnya minat masyarakat yang berkorelasi dengan minimnya literasi, promosi dan eksposur terkait asuransi syariah. Selanjutnya adalah ketidakpastian akibat pandemi serta diiringi dengan keterbukaan pasar regional melalui ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS),” kata Ma’ruf. Beliau pula kembali menegaskan kewajiban pemisahan unit syariah sebagaimana amanat Undang-Undang nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian yang mempunyai batas waktu paling lambat pada 2024.

Beliau juga mendorong Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) bersinergi dengan pemerintah serta semua pemangku kepentingan demi mewujudkan Ekonomi dan Keuangan Syariah pada 2024. Ma’ruf berkata kesamaan visi antara pemerintah serta asosiasi dapat membantu banyak bidang yang menjadi indikator dari pengembangan tersebut, salah satunya bidang finansial yang meliputi asuransi syariah. “Kemajuan ekonomi dan keuangan syariah yang kita harapkan dapat terwujud pada tahun 2024 tentunya membutuhkan segenap daya upaya secara inklusif dan partisipatif ,” kata Wapres. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa terkait dengan industri syariah kepercayaan adalah salah satu faktor kunci dalam perkembangannya. “kepercayaan yang berawal dari keterbukaan informasi dan kemudahan akses, akan mempermudah upaya peningkatan literasi masyarakat, khususnya terhadap produk dan manfaat asuransi,” tuturnya. Menurutnya, melalui digitalisasi, transparansi dan kemudahan akses, akan makin menarik minat masyarakat terhadap produk dan manfaat asuransi syariah. Bahkan, transparansi dan kejelasan mengenai klausul yang berlaku pada produk serta manfaat asuransi syariah tersebut akan terwujud apabila SDM sudah dibekali dengan pengetahuan yang tepat. “di sinilah letak peranan penting SDM profesional untuk memastikan bahwa kepercayaan menjadi fondasi dalam setiap proses bisnis perusahaan, utamanya agen-agen kompeten dan jujur dalam memberikan informasi asuransi syariah secara benar kepada masyarakat,” ujarnya. Selain dari sisi SDM yang profesional, lanjutnya, perusahaan asuransi syariah pun harus bisa mengelola dana investasi sesuai dengan hakikat asuransi jiwa syariah yang mempunyai nilai tambah serta keunggulan, karena bisa mendorong prinsip tolong-menolong (ta’awun). “Tentu ini harus pula diikuti dengan pengelolaan dana investasi yang dapat dipertanggungjawabkan, agar trust terus terjaga, tidak hanya mengejar profit, tetapi juga akuntabel dalam situasi apapun, termasuk ketika pandemi seperti saat ini,” kata Ma’ruf.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menilai, ada empat strategi spesifik yang wajib dilakukan untuk menaikkan kinerja industri asuransi syariah di Indonesia. “Pertama, perkuat inovasi produk dan perluas pangsa pasar. Produk asuransi syariah harus dikembangkan agar lebih kompetitif dan tepat sasaran,” kata Ma’ruf. Ma’ruf menilai, produk asuransi syariah masih mampu dikembangkan dengan potensi industri halal yang sangat besar di mana masih banyak UMKM yang belum tahu manfaat asuransi syariah. beliau mengatakan, ceruk pasar industri halal wajib terus digali agar industri asuransi syariah semakin bersinergi dan terintegrasi dengan ekosistem industri halal yang tengah dibangun. kedua, Ma’ruf meminta agar industri asuransi syariah terus menjajaki kerjasama lintas sektor, misalnya dengan fintech syariah. Selain itu, kata Ma’ruf, promosi asuransi syariah melalui beragam kanal mebeliau juga perlu dilakukan. “Jangan tertinggal dari industri jasa keuangan lain, karena awareness masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah terus meningkat dari waktu ke waktu,” ujar dia. Ketiga, Ma’ruf menilai tata kelola perusahaan asuransi syariah perlu didorong untuk mengadopsi praktik terbaik di negara-negara maju, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi dan digitalisasi di seluruh lini. Terakhir, Ma’ruf berpesan agar kualitas serta kuantitas sumber daya manusia ditingkatkan melalui sertifikasi. “AASI perlu mengoptimalkan peran Lembaga Sertifikasi Profesi (LPS) Perasuransian Syariah agar makin banyak pelaku industri asuransi syariah yang mumpuni, serta berkomitmen aktif mengembangkan industri serta membentuk kepercayaan masyarakat,” kata dia. Ma’ruf pula memberikan sejumlah tantangan yang dihadapi oleh industri asuransi syariah dewasa ini, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal.

Silviana Chairunnisa
STEI SEBI

Pos terkait