Bagaimana Bank Syariah Memanejemen Risiko Perbankan

DEPOK POS – Manajemen risiko adalah suatu tindakan atau pendekatan yang dilakukan secara terstruktur, sebagai upaya untuk memonitor, melacak, dan mengelola ketidakpastian atau risiko agar dampak dari risiko tersebut bisa diminimalisir. Bagi sebuah perusahaan seperti bank, upaya memanajemen risiko adalah langkah yang sedari awal sangat perlu dilakukan. Hal ini dilakukan agar hal-hal yang tidak diinginkan, dapat dicegah ataupun diantisipasi.

Beberapa tahun kebelakang perbankan syariah sedang berada pada tren positif, perkembangan bank syariah baik di dunia maupun di tanah air Indonesia. Hal tentu saja membawa dampak baik bagi dunia perbankan, akan tetapi hal tersebut tidak membuat bank-bank syariah bisa terhindar sepenuhnya dari risiko perbankan. Untuk mengontrol atau mengantisipasi risiko-risiko tersebut, harus adanya sebuah manajemen yang terukur.

RISIKO PERBANKAN

Perbankan sebagai suatu entitas perusahaan tentu memiliki risiko, baik bank yang bersifat konvensional maupun bank syariah. Beberapa risiko yang dihadapi bank syariah diantaranya adalah, risiko pasar, risiko pembiayaan, dan risiko likuiditas. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi beragamnya risiko yang terjadi pada bank syariah diantara lain seperti, inovasi keuangan, peningkatan kompetisi, perubahan bisnis perbankan, penguapan pasar yang meningkat, serta lingkungan peraturan.

RISIKO PASAR

Risiko pasar dapat muncul akibat adanya pergerakan harga yang tidak baik atau tidak menentu, beberapa diantaranya seperti pergerakan hasil, pergerakan benchmark atau suku bunga, pergerakan tarif pertukaran asing, dan pergerakan harga komoditas. Hal-hal tersebut yang dapat memberikan dampak, yang berpotensi menjadi sebuah risiko atas nilai keuangan aset.

RISIKO PEMBIAYAAN/KREDIT

Risiko pembiayaan adalah risiko yang pasti membayangi sebuah bank syariah, hal ini dikarenakan adanya kemungkinan nasabah dari bak tersebut gagal untuk melaksanakan kewajibannya untuk membayar cicilan pembiayaan kepada bank. Bank syariah memiliki cara yang hampir sama dengan bank konvensional dalam mencegah terjadinya risiko pembiayaan, pihak bank akan melakukan teknik perhitungan risiko, serta menggunakan jaminan dan penjami piutang sebagai tindakan keamana atau langkah antisipasi terhadap risiko pembiayaan yang macet.

RISIKO LIKUIDITAS

Risiko likuiditas pada bank syariah dapat dibagi menjadi dua, yaitu kurangnya liquiditas dimana isntitusi keuangan dipaksa oleh aset illiquid untuk mendapat kewajiban dan obligasi keuangan. Bentuk kedua dari risiko likuiditas bank syariah adalah, saat dibutuhkan, bank syariah tidak memiliki akses untuk meminjam atau menaikan dana pada biaya yang sesuai.
Bank syariah selaku institusi keuangan syariah harus mampu memanajemen risiko likuiditas berdasarkan prinsip IFSB, bank syariah harus mampu mengambil alih risiko liqiuditas agar seimbang dengan kemampuannya untuk memiliki perlindungan syari’ah yang cukup agar dampak risiko tersebut dapat diminimalisir.

OPTIMALISASI PERAN DEWAN PENGAWAS SYARIAH (DPS)

Berdasarkan UU No.21 Tahun 2008, setiap perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah. Oleh karen itu, secara yuridis Dewan Pengawas Syariah memiliki kedudukan yang kuat karena keberadaannya sangat penting dan strategis. Adanya Dewan Pengawas Syariah berfungsi agar risiko-risiko yang ada pada Perbankan Syariah dapat diantisipasi, serta dicari solusinya apabila risiko tersebut sudah terjadi.

Muhammad Mahbub Mutawakkil
STEI SEBI Depok

Pos terkait