Strategi Manajemen Risiko Pembiayaan Bank Syariah

DEPOK POS – Pembiayaan adalah suatu proses mulai dari analisis kelayakan pembiayaan sampai kepada realisasinya. Namun realisasi pembiayaan bukanlah tahap terakhir dari proses pembiayaan. Setelah realisasi pembiayaan maka bank syariah perlu melakukan pemantauan dan pengawasan pembiayaan, karena dalam jangka waktu pembiayaan tidakmustahil terjadi pembiayaan bermasalah dikarenakan beberapa alasan.

Bank syariah harus mampu menganalisis penyebab pembiayaan bermasalah sehingga dapat melakukan upaya untuk melancarkan kembalikualitas pembiayaan tersebut. Bank syariah dalam menyalurkan pembiayaan wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan banksyariah dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya.

Pembiayaan bermasalah bahkan menjadi kategori macet menjadimasalah bagi bank syariah, karena dengan adanya pembiayaan bermasalah bukan saja menurunkan pendapatan bagi bank syariah tetapi juga menggerogoti jumlah dana operasional dan likuiditas keuangan banksyariah, yang akhirnya akan menggoyahkan kesehatan bank syariah dan pada akhirnya akan merugikan nasabah penyimpan/nasabah investor.

Pandemi Covid-19 yang menimbulkan efek sangat besar, sangat luar biasa dan berimbas tidak hanya ancaman pada sektor kesehatan dankeselamatan manusia melainkan juga pada sektor sosial, sektor ekonomidan sektor keuangan termasuk industri keuangan syariah.

Berbicara mengenai keuangan syariah, dampak pandemi Covid-19 juga menyerang berbagai lembaga keuangan syariah di Indonesia. Dalam sektor pasar
modal syariah, Jakarta Islamic Index (JII) terkena dampak yang sangatsignifikan pada bulan Maret 2020 saat pertama kali kasus Covid-19terkonfirmasi di Indonesia. Index pasar modal turun secara tajamsebanyak 6,44% di pertengahan Maret 2020.

Strategi Manajemen Risiko Pembiayaan Bank Syariah adalah di sektor pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah, menurut data OJKtahun 2020, mayoritas pembiayaan bank syariah disalurkan pada SektorBukan Lapangan Usaha seperti untuk Pemilikan Rumah Tinggal Rp83,7triliun, dan untuk Pemilikan Peralatan Rumah Tangga Lainnya yangtermasuk Multiguna Rp55,8 triliun.

Tetapi, penyaluran pembiayaan perbankan syariah juga cukup besar untuk Sektor Lapangan Usaha diantaranya Perdagangan Besar dan Eceran Rp37,3 triliun, KonstruksiRp32,5 triliun, dan Industri Pengolahan Rp 27,6 triliun.Dengandiberlakukannya prinsip kehati-hatian itu diharapkan kadar kepercayaanmasyarakat terhadap perbakan selalu tinggi sehingga masyarakat bersediadan tidak ragu-ragu menyimpan dananya di bank.

Strategi Manajemen Risiko Operasional Bank Syariah pada masapandemi covid-19

Salah satu masalah yang dihadapi oleh perbankan syariah adalahterkait dengan risiko operasional yang tanpa diduga sering terjadi padasetiap lembaga keuangan baik perbankan maupun lembaga lainnya.Akhir-akhir ini, atau selama beberapa bulan terakhir di tahun 2020 duniadikejutkan dengan adanya situasi yang cukup krisis ekonomi ini berdampak pada dunia perbankan, termasuk dunia perbankan syariah diIndonesia.

Penutupan beberapa unit pada operasional bank. Kantor- kantor unitseperti kantor kas, kantor cabang pembantu atau layanan bankdipindahkan ke kantor cabang hal ini dilakukan untuk menghindari risikooperasional bank. Lalu ada perbankan yang melakukan split operation50% karyawan dirumahkan dan sisanya ada yang tetap bekerja seperti biasa. Dan pada tahun ini juga terjadi peningkatan biaya operasional bank. Pada kasus tersebut akan timbul risiko operasional bank, bila dihubungkan dengan adanya pengelolaan operasional pada sebuah
perbankan termasuk perbankan syariah. Pada risiko operasional adalahsalah satu satu risiko kerugian, akibat oleh proses internal yang kurangmemadai perbankan, adanya kegagalan proses internal, adanya kesalahanmanusia dan juga sistem dan juga adanya karena eksternal.

Berikut beberapa strategi manajemen risiko pembiayaan perbankan syariah padamasa pandemi covid-19 :

Melakukan optimalisasi pengembangan layanan teknologi, yang bisamenjangkau oleh masyarakat kalangan dari atas hingga ke bawahtermasuk usaha mikro kecil dan menengah.

Mengajak masyarakat untuk menggunakan layanan lembaga keuangan bukan bank syariah termasuk dalam memobilisasi dana.

Berupaya memberikan layanan kemudahan bagi usaha masyarakat kecildan mikro, pelayanan bukan hanya berpusat di perkotaan tetapi juga didaerah termasuk pelosok daerah.

Literasi dan sosialisasi pengenalan fitur layanan terus diupayakan, karena masyarakat ada yang mengetahui keberadaan layanan lembaga keuangan,namun tidak bisa membedakan mana yang layanan syariah mana yangkonvensional termasuk kalangan pelajar.

Banyak melakukan literasi dan pengenalan pada fitur layanan yang adakaitannya dengan google, karena hampir semua anak-anak millennial,termasuk di youtube, facebook, instagram dan social media lainnya.

Memasuki era disrupsi perkembangan lembaga keuangan syariah harusterus diupayakan, dengan terus beradaftasi mengenali keadaan dan bertransformasi sesuai dengan tingkat kebutuhan saat ini.

Mengkolaborasikan layanan berupa fitur-fitur dengan kerjasama dengan perusahaan lain, kerjasama dengan fintech, perusahaan jasa penerbangan, menjadi sponsor, atau berkolaborasi dengan sesama lembaga keuangan syariah.

Maka dari itu kesimpulan yang dapat diambil ialah setiap perbankan syariah selalu menerapkan sistem manajemen risiko dengan tujuanketika terjadi risiko yang akan terjadi dapat menyelesaikannya.

Manajemen risiko sendiri diterapkan dengan cara meidentifikasi, mengukur, memonitor, dan mengelola suatuakibat atau konsekuensi yang akan dterima dikemudian hari dengan cara efektif serta efisien.

Berbagai macam manajemen risiko yang ada tetapi setiap perusahaan atau perbankan syariah memilih sesuai kebutuhannya. Tetapi yang pasti setiap bank syariahselalu menerapkan manajemen risiko operasioanal dan manajemen pembiayaan.

Pada masa pandemi covid ini yang akan banyak digunakan dalam menangani agar bank syariah tetap berjalan adalah manajemen risiko operasional yang lebih di fokuskan ketika terjadi bencana alam atau fenomenal yang tanpa dugaan dan secara tiba-tiba dari jaug hari bank sudah memiliki solusi dalam menangani, seperti ketika pandemi bank dalam tetap menjalankan operasionalnya beralih ke digital yang di optimalkan sehingga tidak terjadi kemacetan dengan dukungan pemerintah pastinya.

Dan yang kedua yaitu manajemen risiko pembiayaan yang pada saat pandemi terdapat kebijakan langsung dari pemerintah sehingga mudah bagi bank ikut menjalankan kebijakan itu tetapi sebelumnya pasti bank sudah melakukan manajemen risiko pembiayaan, seperti ketika terjadi pembayaran macet harus bagaiman, ketika pandemi terdapat kebijakan pengurangan biaya yang ditangguhkan untuk nasabah baru dan penambahan waktu bagi nasabah lamaatau kreditur.

Akbar Fitra Bagaskara
STEI SEBI

Pos terkait