Model Kompetensi Audit Syariah

Model Kompetensi Audit Syariah

DEPOKPOS – Indonesia adalah Negara muslim terbesar di dunia. Fakta ini menjadikan masyarakat Indonesia bersemangat untuk kemudian membuktikan bahwa persebaran terkait ekonomi syariah baik bank maupun nonbank untuk maju hingga menembus pasar global.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Syariah (SPS) yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan per Januari 2021, di Indonesia terdapat 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).(OJk, 2021)

Industri jasa keuangan syariah yang kian meningkat, yang dibuktikan dengan laporan Global Islamic Finance Report (GIFR). GIFR merupakan laporan publikasi tahunan yang membahas perkembangan industri jasa keuangan islam secara global yang diproduksi oleh Edbiz Consulting yang berbasis di Inggris.

Dalam laporan GIFR 2019, Indonesia meraih peringkat pertama dengan skor 81,93 menyalip Negara Malaysia yang telah mendominasi peringkat pertama sejak 2011. Salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan ke peringkat teratas adalah perkembangan regulasi di bidang Isamic Bank and Finance (IBF), support yang luar biasa dari pemerintah, dan peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia yang baik.(Global Islamic Finance Report, 2019)

Dengan semakin luasnya industri jasa keuangan syariah memberikan peluang baru bagi akuntan-akuntan public dalam memberikan jasa asuransnya. Dan hal ini diperlukan karena untuk memberikan rasa kenyamanan kepada nasabah terkait pemenuhan prinsip dan aturan syariah. Maka perlu adanya model kompetensi auditor syariah yang baik dan menyeluruh bagi auditor syariah.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Malaysia melalui Nor Aisyah dkk (Aisyah et al., 2020), memaparkan bahwa auditor syariah setidaknya perlu memilliki 3 kompetensi sebagai berikut :

Knowledge (pengetahuan)
Pengetahuan mengacu pada pemahaman atas sesuatu. Dan bagi auditor syariah, pengetahuan atau pemahaman akan syariah, perbankan syariah, serta fikih muamalah merupakan hal yang amat perlu. Pengetahuan akan syariah memungkinkan auditor syariah untuk mendeteksi produk atau aktivitas yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.

Skill (keahlian)
Keahlian adalah kemampuan individu untuk menerapkan pengetahuan dan pemahaman dalam menyelesaikan masalah atau tugas. Maka keahlian dalam melakukan audit merupakan yang penting pula untuk dimiliki oleh auditor syariah.

Other Characteristics (karakteristik lainnya)
Karakteristik lainnya yang dimaksud adalah mengacu pada faktor perilaku seseorang yang dapat menjadi sifat yang berbeda antar individu. Kemauan untuk belajar, sikap yang baik atau karakter kuat dan baik lainnya.

Ketiga model inilah menurut penelitian dari Malaysia yang menjadi kompetensi bagi auditor syariah, untuk memastikan integritas dan menjaga lembaga keuangan tetap menjalankan prinsip-prinsip syariah.

*Islah Tamakin, STEI SEBI Depok

Pos terkait