Coba Mikir!

Seorang bijak dan sangat di segani suatu hari pernah berkata, “Untuk meluruskan sesuatu, kita harus tahu dan faham, tentang hal bengkok yang akan di luruskan.”
Tergambar sekilas apa yang di maksud dari kata kata tadi, yaitu : kita harus membenarkan orang dengan cara yang benar. Itu yang sekilas tergambar. Namun, ada hal yang lebih menarik untuk di bahas dari sekedar metode meluruskan sesuatu. Hal menarik itu adalah hal yang kita anggap “salah” itu sendiri. Bila kita melihat sebuah kejadian, yang mana hal itu menyelisihi apa yang ada di pikiran kita. Beberapa orang, terkadang langsung menganggap hal itu kesalahan. Padahal, kesalahan itu tidak sesederhana yang orang pikirkan. Kejadian yang pada akhirnya di sebut sebagai sebuah “kesalahan”, sebenarnya membutuhkan proses “uji kelayakan” yang panjang. Singkatnya, apakah hal itu pantas di sebut sebagai sebuah kesalahan atau tidak? Misalnya ketidaksengajaan.
Apakah “ketidaksengajaan” itu sebuah kesalahan? Seseorang menjatuhkan gelas di meja makan tanpa sengaja, apakah itu sebuah kesalahan? Belum tentu, harus di pikirkan lewat banyak faktor. Begitu pula sesuatu yang menyelisihi pikiran kita. Kita tidak bisa menganggap hal itu sebuah kesalahan hanya lewat sudut pandang kita, atau sudut pandang “kelompok” kita. Apalagi menganggap kejadian itu “salah” hanya karena benci pada si pelaku, sungguh itu tindakan yang sangat ceroboh, dan cara paling pengecut dalam menghukumi sesuatu.
Kita harus berfikir jernih dan mencoba menjadi orang bijak dalam bertindak, dengan memandang lewat banyak sudut pandang. Bahkan, kita juga harus bertanya pada si pelaku, mengapa dia melakukan hal itu. Bisa jadi, apa yang kita anggap salah, ternyata memiliki sebuah hikmah atau malah ternyata itu adalah sebuah kebenaran. Bila seseorang terus melakukan ini, menghukumi sesuatu hanya lewat sudut pandangnya, dan tidak mau bertabayyun, maka apapun yang dia pandang menyelisihi pendapatnya akan di sebut sebagai sebuah kesalahan. Dan kalau di pikir, dia akan menjadi orang yang merasa “serba benar.”
Orang dengan pemikiran seperti ini adalah orang yang memiliki sebuah penyakit kronis. Dengan berpikir kalau dia “serba benar”, maka dia akan berpikir kalau dia “serba bisa”, dan dua sifat ini sungguh sudah sangat cukup untuk membuat seseorang menjadi angkuh dan selalu ingin berkuasa. Tidak menghargai pendapat sesama dan akan menjadi pencerca.
Karena itu, bijak bagi kita untuk mempertimbangkan banyak faktor untuk memakaikan sebuah kejadian dengan kata “kesalahan.” Mencoba menghargai sesama dan jangan merasa paling benar. Kalaupun benar itu sebuah kesalahan, maka metode penelusurannya juga lah penting. Dengan cara yang baik dan tidak menyinggung siapa yang di luruskan. Karena tentu, lebih baik membenarkan sesuatu dengan cara yang benar, kan? [Shofa Mardhiyya/SEBI]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.