oleh

Untuk Apa Kita Hidup kalau Bukan untuk Islam

Oleh: Evi Ratna Widya, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Pernahkah kita merasa hidup kita seperti meraba-raba dalam gelap, tidak tahu harus ke mana dan bagaimana menjalaninya? Atau, pernahkah merasa diri tidak produktif dan menjalani hidup berputar dalam rutinitas: bangun pagi, mandi, sarapan, berangkat sekolah atau kuliah, bekerja, lalu pulang ke rumah di sore atau malam hari, besoknya mengulangi hal yang sama. Saat lapar, membeli berbagai jenis makanan yang sedang hit atau kulineran. Setelah itu, mencari hiburan dengan menonton televisi, menonton streaming drakor atau life action. Sesekali memeriksa membuka aplikasi WhatsApp, mengecek story teman-teman atau meng-uplaud kegiatan A-Z di akun pribadi.

Kenapa hidup seperti itu? Karena generasi saat ini tengah diserang budaya hedonisme dan liberalisme. Hedonisme adalah pandangan hidup yang fokus mengajar kesenangan hidup. Sedangkan liberalisme adalah pemahaman yang menjunjung tinggi kebebasan. Maka tidak heran kehidupan generasi sekarang sangat bebas, tidak punya arah, enggan diatur dan berbuat semau mereka asalkan happy. Inilah fakta kehidupan milenial zaman now. Mereka tidak punya arah tujuan. Tidak ada yang mau diraih, yang penting bisa hidup cukup, tidak ada rencana-rencana yang ingin diraih dan tidak ada evaluasi biar hidup lebih baik ke depannya.

BACA JUGA:  Dasyatnya Keistimewaan Lailatul Qadar

Padahal, tujuan Allah menciptakan hidup kita yang sebenarnya hanya satu yaitu beribadah kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah sampaikan pada Qur’an Surah adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.”

Beribadah itu artinya menaati seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Semata-mata untuk meraih rida-Nya. Risalah seluruh perintah dan larangan Allah itu yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad SAW yakni risalah Islam. Jadi kita hidup untuk melaksanakan Islam. Hidup untuk Islam artinya berusaha dengan sekuat tenaga menjadikan Islam menyatu di dalam diri kita, mengalir di aliran darah kita dan tampak dalam perwujudan amal kita.

BACA JUGA:  Keistimewaan Mereka yang Menjumpai Malam Lailatur Qadar

Jika kondisi hari ini tidak sesuai dengan Islam maka harus mengupayakan sekuat mungkin untuk mengondisikannya sesuai Islam. Misalnya, ketika turun perintah memakai jilbab/gamis bagi Muslimah, di dalam Qur’an Surah al-Ahzab ayat 59, maka kita akan berusaha untuk mengamalkannya. Menjadi kewajiban kita juga untuk mengajak saudara dan sahabat dalam ketaatan yang sama.

Begitu juga, kita harus masuk Islam secara keseluruhan sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 208 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah ikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

BACA JUGA:  Dasyatnya Keistimewaan Lailatul Qadar

Ketika kita hidup untuk Islam maka kita akan berusaha menjadi pribadi yang Islami, yang menjalankan seluruh aturan-Nya secara kaffah. Dan hal itu hanya akan mungkin terjadi jika individu, masyarakat dan negara bersama-sama menerapkannya. Islam tidak bisa diterapkan secara utuh jika dilaksanakan secara individu saja.

Jadi, jika kita memahami hakikat hidup kita untuk beribadah kepada Allah semata, maka kita akan berusaha segenap jiwa dan raga untuk mengembalikan kehidupan Islam secara kaffah. Untuk apa kita hidup, kalau bukan untuk Islam. Karena di luar itu, hidup kita akan menjadi sia-sia. Luruskan hidup kita, perbanyak tsaqafah Islam dan perbanyak amal saleh kita. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Komentar