oleh

Literasi Celotehan Media Sosial

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Pekerjaan paling mudah di era sekarang. Bisa jadi namanya “celotehan”.

Iya celoteh atau ngoceh. Yaitu obrolan atau percakapan yang tidak keruan. Apa saja diomongin, siapa saja dikomentarin. Alhasil, topik apap pun bukan jadi lebih baik malah jadi semrawut. Celoteh, persis seperti percakapan anak kecil.

Memang sudah eranya, apalagi ramainya media sosial. Identik dengan celotehan. Banyak orang berebut celoteh alias ocehan. Di era celotahan, apa saja yang dilakukan orang lain dianggap salah. Ustaz nikah lagi salah. Istri-nya Sule minggat dari rumah, kepo. Vaksin Covid-19 sebagai ikhtiar sehat pun dituding tidak mujarab. Banjir celotehan.

BACA JUGA:  Jangan Sia-siakan Kemuliaan di Waktu Sahur

Literasi celotehan. Bikin banyak orang lupa diri. Semua yang dilakukan orang lain salah. Hanya pikiran dia yang benar, sekalipun tanpa eksekusi tanpa perbuatan, Semua sebatas celotehan.

Kaum celotehan sering alpa. Bahwa tidak ada perbuatan baik yang lahir dari celotehan, Tida ada pula masalah yang bisa kelar melalui ocehan. Apapun masalahnya, apapun soalnya harus dikerjakan, diperbaiki. Dicarikan solusinya, bukan dibikin jadi tidak keruan akibat melimpahnya celotehan.

Berceloteh. Padahal cuma ranting mengaku akar. Hanya berposisi di bagian ujung tapi mengaku pangkal. Hanya murid bertindak seperti guru. Padahal “kenek” tapi mengaku “mandor”. Sekadar penonton mengaku pemain. Bahkan hanya “tahu sedikit tentang banyak hal” mengaku “tahu banyak tentang satu hal”. Terlalu banyak celoteh. Pantas kian semrawut.

BACA JUGA:  Vaksinasi Tiba, Kuliah Luring Masih Wacana?

Agak disayangkan. Bila banyak celoteh. Memori “pikirannya” begitu besar. Tapi diisi degan file-file yang kecil. Anugerah “jiwanya” begitu luas. Tapi dirasuki pikiran yang sempit. Gemar berceloteh. Sibuk tidak keruan untuk hal-hal yang tidak penting. Tidak produktif, tidak solutif hingga akhirnya capek sendiri.

Ceotehan atau ocehan. Ibarat komputer, mereknya boleh canggih. Tapi memorinya dipakai untuk file-file yang tidak berguna. Isinya file tidak bermanfaat. Kapasitasnya habis untuk “menyimpan” hal-hal kecil yang tidak penting. Setelah itu, teriak kehabisan ruang. Sehingga tidak bisa lagi nampung hal-hal penting. Sibuk tidak keruan. Ketika file penting “dikalahkan” file tidak penting.

BACA JUGA:  Hari Buruh: Gimana Cara Bikin Buruh Tidak Pusing Lagi?

Literasi celotehan hanya mengingatkan. Agar siapa pun tidak lupa. Untuk apa kita merasa terganggu terganggu dengan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak akan berakibat apa-apa pula bila diabaikan? Ayu Ting Ting mau nikah mau tidak, tentu tidak ada dampaknya. Ustaz mau nikah lagi pun silakan, bukan urusan kita.

Jadi, kurangi celotehan. Lebih baik perbanyak perbuatan.

Karena memang, tidak ada perbuatan baik bila tidak dilakukan. Siapa pun yang mau meraih surga, maka dia harus mengerjakannya sendiri. Tidak bisa surga diraih oleh kata-kata bijak. Atau hanya direnungkan.

Semoga tetap eling. Perbanyak perbuatan, sedikitkan celotehan. Karena setiap kepalsuan di mana pun memang sulit terlihat. Salam literasi.

Komentar