oleh

Literasi Numerasi, Apa Pentingnya?

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Sebagian orang tidak suka ilmu matematika. Selain bikin pusing, katanya hidup itu tidak bisa dijalani hanya dengan rumus matematika. Tidak semua hal dapat dihadapi dengan hitung-hitungan. Ada yang kerja gajinya kecil tapi cukup. Tapi ada yang gajinya besar tapi tidak cukup. Itulah realitasnya.

Namun begitu, bukan berarti matematika tidak penting. Karena siapa pun, sejak kecil sudah diajarkan ilmu matematika, ilmu berhitung di sekolah. Dari tingkat SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi. Makanya ada yang disebut literasi numerasi sebagai salah satu literasi dasar yang harus dikuasai.

Numerasi atau matematika. Agar siapa pun punya pengetahuan dan kecakapan menggunakan angka-angka. Untuk memecahkan masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dan yang terpenting, numerasi mengajak semua orang untuk selalu mampu menyeleksi informasi dan memakai data. Untuk memprediksi dan mengambil keputusan. Agar hidup jadi lebih bermanfaat, lebih bermakna.

Cobalah cek dan cermati. Dalam ilmu matematika, ada yang harus dipahami. Seperti 1) mengapa “plus” kali “plus” hasilnya “plus”?, 2) mengapa “minus” dikali “plus” atau sebaliknya, “plus” dikali “minus” hasilnya “minus”?, dan 3) mengapa “minus” dikali “minus” hasilnya “plus”?

Bila “plus” itu “benar” dan “minus” itu “salah”. Maka maknanya adalah:

1. Berkata “benar” terhadap sesuatu hal yang “benar” adalah suatu tindakan yang “benar”.

2. Berkata “benar” terhadap sesuatu yang “salah”, atau sebaliknya berkata “salah” terhadap sesuatu yang “benar” adalah suatu tindakan yang “salah”.

3. Berkata “salah” terhadap sesuatu yang “salah” adalah suatu tindakan yang “benar”.

Numerasi atau matematika memang hanya ilmu. Tapi sejatinya punya sarat makna. Kaarena kebenarannya selalu pasti sehingga bisa jadi pelajaran hidup bagi siapa pun.

Sebagai contoh dalam “pembagian” matematika. Rumusnya sederhana, 1:1=1, 1:2=½, 1:10=1/10, 1:100=1/100. Tapi, 1:0= ~ (tidak terhingga). Kenapa bisa begitu? Jawabnya ternyata sederhana.

1. Saat kita melakukan perbuatan baik, seperti sedekah, donasi. Bila mengharapkan imbalan atas perbuatan itu, maka semakin banyak berharap, hasilnya akan semakin kecil (1/100 dan seterusnya).

2. Tapi saat kita melakukan kebaikan dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun (1: 0), maka hasilnya akan “tidak terhingga”. Maka tiap kebaikan sekecil apa pun bila dilakukan ikhlas, maka Allah SWT akan memberi balasan yang tidak terhingga,

Persis seperti kebaikan yang ditebarkan di taman bacaan. Bila dilakukan dengan ikhlas, menyediakan tempat membaca anak-anak demi tegaknya tradisi baca. Insya Allah hasilnya pasti “tidak terhingga”. Maka jangan menyerah dalam berkiprah pada gerakan literasi. Kerjakan saja tiap langkah kebaikan di taman bacaan, seberapa sulit tantangan yang menghadang.

Jadi, literasi numerasi atau matematika hanya ingin memberi pesan. Bahwa perbaikilah niat, maka saat itu pula Allah akan perbaiki keadaan. Siapa pun yang berjuang untuk kebaikan orang lain, maka kebaikan pun akan datang kepada kita dari arah yang tidak diduga, Bila kita tidak menyusahkan orang lain, maka kita pun tidak adak disusahkan. Maka pilihlah cara-cara yang baik dalam hidup. Apa pun dan untuk apa pun, lebih baik “memberi” daripada “mengambil”. Karena saat kita memberi, maka saat itu pula Alllah SWT akan memberi kita tanpa perlu memintanya.

Teruslah perkuat litrerasi numerasi. Agar hidup jadi lebih bermakna. Salam literasi