oleh

Kisah Pegiat Literasi Taman Bacaan di Kaki Gunung Salak

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Ini hanya sedikit kisah. Tentang taman bacaan dan pegiat literasi di Kaki Gunung Salak Bogor. Namanya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka. Apa sih taman bacaan? Bolehlah disebut sebagai “jalan sunyi” pendidikan nonformal yang tidak banyak dipilih orang. Taman bacaan, sebuah jalan pengabdian yang sepi dari lalu-lalang gaya hidup atau popularitas sekalipun.

Taman bacaan ini, sungguh saya bangun dengan cara saya sendiri. Bukan soal benar atau salah Tapi soal cara yang “di luar pakem”. Lokasinya di rumah saya sendiri. Program dan aktivitasnya pun saya rancang sendiri. Tanpa referensi, tanpa buku panduan apalagi bertanya. Akibat kondisi masyarakat di kampung ini, 81% hanya sebatas SD. Di situlahsaya terpanggul untuk berkontribusi, berbuat untuk masyarakat. Di mulai dari garasi mobil yang saya ubah jadi rak-rak buku. Mencari donasi buku dari teman-teman. Dan berdirilah TBM Lentera Pustaka pada 5 November 2017.

Di taman bacaan ini, saya mengahajarkan. Bahwa di taman bacaan, anak-anak harus membaca bersuara bukan membaca dalam hati. Lalu, saya ciptakan 1) salam literasi, 2) doa literasi, 3) senam literasi, 4) selalu ada labpratorium baca tiap hari Minggu, 5) selalu ada event bulanan dengan mendatangkan “tamu dari luar” utamanya dari Jakarta, dan 6) ada jajanan kampung gratis sebulan sekali. Semua aktivitas itu, saya sebut sebagai “TBM Edutainment”, sebuah model tata kelola taman bacaan yang kreatif, menyenangkan, dan mau berkolaborasi dengan banyak pihak. Sebuah taman bacaan yang dikelola dengan basis edukasi dan entertainment. Bahak TBM Edutainment ini pula yang kini saya kembangkan menjadi bahan disertasi “Doktor Manajemen Pendidikan” dari Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor. Saya calon doctor yang fokus di bidang taman bacaan. Mungkin, calon doktor pertama bidang taman bacaan di Indonesia.

BACA JUGA:  Vaksinasi Tiba, Kuliah Luring Masih Wacana?

Saat didirikan 4 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka hanya dihuni 14 anak yang membaca. Tapi kini sudah mencapai 170 anak-anak pembaca aktif usia sekolah yang berasal dari 3 desa (Sukaluyu-Tamansari-Sukajaya) Kec. Tamansari Kab. Bogor. Anak-anak yang dulunya tidak punya akses membaca buku, kini bisa membaca 3-10 buku per minggu. Koleksi bukunya pun dulu hanya 600 buah. Tapi sekarang, koleksinya sudah lebih dari 6.000 buku. Dan hebatnya, 95% buku-buku itu berasal dari donasi orang-orang baik atau organisasi. Sulit disangkal, TBM Lentera Pustaka memang punya kekuatan pada kreativitas dan kolaborasi dalam mengelola taman bacaan. Maka tak ayal, sejak berdiri hingga kini selalu berkolaborasi dengan pihak swasta sebgaai sponsor CSR di taman bacaan ini. Tahun 2021 ini, TBM Lentera Pustaka disponsori 1) Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, 2) Bank Sinarmas, dan 3) Pacific Life Insurance. Perusahaan yang peduli untuk ikut mendukung biaya operasional dan programnya sebagai bagian dari CSR korporasi. Tiap bulannya, selalu saja ada organisasi, komunitas, dan organisasi serta kampus yang berbakti sosial, mengabdi di kampung, dan ber-CSR atau ber-KKN di taman bacaan di kaki Gunung Salak ini.

Seiring mulai sadarnya akan pentingnya gerakan literasi di bumi Indonesia. Saya pun kini “hanyut” dalam berbagai kegiatan literasi. Pun tercatat sebagai salah satu pegiat literasi yang sering diminta jadi narasumber gerakan literasi atau taman bacaan di DAII TV, TV Parlemen, CNN TV, dan NET TV. Belum lagi di media online atau media mainstream. Taman bacaan ini pun menerapkan “wali baca” yang diberi honor setiap bulan untuk mengatur anak-anak membaca seminggu 3 kali. Mulai dari absen, memeriksa kartu baca, dan kartu pinjam buku. Belum lagi dukungan dari relawan yang rutin hadir setiap Minggu. Untuk mengabdi sepenih hati dna bukan warga sekitar pula. Jadi saya, patut berucap alhamdulillah dan bersyukur. Atas apa yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka, selalu didukung orang-orang baik. Itulah sepenggal kisah suka atau coretan prestasi TBM Lentera Pustaka. Sebuah sejarah perjalanan taman bacaan agar diketahui orang, sekalipun tetap jadi “jalan sunyi”.

BACA JUGA:  Kartini, Sosok Perempuan Literat

Lalu, apa dukanya di taman bacaan? Duka, tentu ada. Karena tiap perbuatan baik itu pasti ada orang yang tidak suka. Mulai dari oran-orang yang tidak peduli. Bahkan membenci taman bacaan pun ada. Tapi prinsipnya sederhana “the show must go on”. Taman bacaan harus terus bergerak, harus jalan terus. Karena di zaman begini, hanya taman bacaan yang bisa jadi “musuh atau lawan tanding” dari putus sekolah, pernikahan dini, narkoba, atu gim online. Jadi, bila ada orang-orang yang tidak suka pada taman bacaan tidak usah digubris. Maklumin saja, karena mereka tidak literat. Tidak paham apa pentingnya taman bacaan? Lagipula, kan setiap orang tidak sama. Tidak suka atau benci itu, wajar dan sangat manusiawi. Maka, siapa pun pegiat literasi di taman bacaan tetap fokus saja pada aktivitas membangun tradisi baca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat. Jalankan setiap program di taman bacaan dengan kreatif dan menyenangkan. Biarkan waktu yang akan membuktikan semuanya.

Terus gimana sekarang TBM Lentera Pustaka? Pertama ya bersyukur dan bersyukur. Karena siapa sangka? Kini TBM Lentera Pustaka sudah punya 8 program yang berjalan; 1) TABA (TAman BAcaan), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA), 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah), 4) YABI (YAtim BInaan), 5) JOMBI (JOMpo BInaan), 6) DONBUK (DONasi BUKu), 7) RABU (RAjin MenaBUng), dan 8) KOPERASI LENTERA. Dan ke depan, saya akan mulai merintis program pemberdayaan ekonomi. Insya Allah, saya ingin merintis beberapa usaha di dekat TBM Lentera Pustaka. Di samping tetap istiqomah dengan gerakan literasi yang telah berjalan.

BACA JUGA:  Jangan Sia-siakan Kemuliaan di Waktu Sahur

Apa sudah puas? Tidak dan belum. Membangun tradisi baca dan gerakan literasi tidak boleh ada kata puas. Karena di luar sana, era digital dan revolusi industri terus menggempur dan kian menjauhkan anak-anak dari buku bacaan. Taman bacaan harus tetap eksis dan hadir di tengah masyarakat. Saya justru harus terus ikhtiar dan berdoa agar tetap “komitmen dan konsisten” di “jalan sunti” taman bacaan, yang tidak banyak dipilih orang. Apalagi kampung ini bukan tanah kelahiran saya. Tidak ada ikatan apa pun, untuk menjawab “kenapa saya harus di taman bacaan ini?”

Sungguh berjuang di taman bacaan memang tidak mudah. Tapi selalu ada jalan untuk sebuah kebaikan yang diap ditebarkan Di TBM Lentera Pustaka, saya hanya ingin memberi ruang anak-anak agar akses membaca buku. Agar tidak putus sekolah, atas sebab apapun. Mungkin nanti, 10 atau 20 tahun lagi, daerah ini akan berubah. Tidak lagi miskin, tidak lagi banyak anak putus sekolah. Setelah anak-anak pembaca buku itu dewasa esok. Sehingga apa yang saya rintis dan perjuangkan, akhirnya hanya akan jadi “legacy”, warisan untuk umat yang saya tinggalkan.

Karena sejatinya, “khairunnaas anfauhum linnaass”. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan di taman bacaan ini, saya memastikan saya sudah kelar dengan diri saya sendiri.

Komentar