oleh

FKM UI Gelar Webinar Gizi dan Kesehatan “Pentingnya Protein Hewani Bagi Tumbuh Kembang Anak”

DEPOK – Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) menggelar Webinar Gizi dan Kesehatan dengan mengusung tema “Pentingnya Protein Hewani Bagi Tumbuh Kembang Anak”. Webinar ini dilaksanakan melalui aplikasi Zoom pada Sabtu (10/4) dan dihadiri lebih dari 290 peserta yang berasal dari dinas kesehatan se-Indonesia, masyarakat umum, mahasiswa, serta tenaga kesehatan di rumah sakit dan puskesmas.

Pada webinar tersebut hadir sebagai keynote speaker Budi Arie Setiadi, M.Si (Wakil Menteri Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia) dan drh. Boethdy Angkasa, MSi (Kasubdit Standardisasi dan Mutu Ternak, Kementerian Pertanian RI) serta pembicara pakar di bidang pangan sumber protein hewani di antaranya Ir. Ahmad Syafiq, M.Sc., Ph.D. (Ketua PKGK FKM UI), Ir. Artati Widiarti, M.A (Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI), Prof. Ir. Hardinsyah, M.Sc., Ph.D. (Ketua Umum Pergizi dan Pangan Indonesia), serta Achmad Dawami (PT JAPFA Comfeed Indonesia).

Ketua pelaksana webinar gizi dan kesehatan, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH menyampaikan hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pangan hewani seperti telur, ayam, daging, susu di Indonesia masih sangat rendah padahal konsumsi protein hewani dapat meningkatkan kognitif dan kesehatan pada anak-anak. Berangkat dari hal tersebut, PKGK menyelenggarakan webinar gizi dan kesehatan dengan mengundang pembicara untuk berdiskusi tentang pentingnya konsumsi protein hewani dan peranannya untuk tumbuh kembang anak. Webinar tersebut bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait pentingnya mengonsumsi protein hewani bagi pertumbuhan dan perkembangan anak serta peningkatan daya tahan tubuh anak untuk mencegah penyakit.

Dr. Ir. Asih Setiarini, M.Sc. (Wakil Dekan 1 FKM UI) hadir mewakili Dekan FKM UI pada webinar tersebut. Dalam sambutannya, ia mendukung terselenggaranya webinar dan mengatakan pentingnya mengonsumsi protein hewani bagi tumbuh kembang anak, terutama untuk mengurangi jumlah kasus stunting pada anak Indonesia. “Harapannya, para peserta webinar ini mendapat wawasan dari para pakar terkait pentingnya protein hewani serta informasi dan diskusi dari webinar ini bermanfaat bagi para peserta yang dihadiri dari perwakilan dinas kesehatan se-Indonesia,” ujar Asih.

Wamendes Budi Arie Setiadi, M.Si menyambut baik terlaksananya webinar ini yang juga sejalan dengan rencana pembangunan pemerintah untuk peningkatan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Menurutnya, tidak ada satu pun negara yang bisa maju tanpa SDM yang kuat dan cerdas. Oleh karena itu, pembangunan SDM adalah mutlak. Dalam pemaparannya berjudul “Pembangunan Desa untuk Pemenuhan Kebutuhan Protein Hewani”, ia menyampaikan pentingnya intervensi kesehatan bagi masyarakat desa. Ia menyebutkan bahwa pemanfaatan dana desa untuk kesehatan pada tahun 2019 (sebelum Covid-19) mencapai sebesar Rp265 triliun.

Lebih lanjut, Budi Arie menjelaskan bahwa dari 18 Kebijakan SDGs Desa terdapat dua dasar kebijakan perbaikan gizi keluarga. Pertama, desa tanpa kelaparan dengan target prevalensi kurang gizi, kurus, stunting, anemia turun menjadi 0%; prevalensi bayi mendapat ASI eksklusif mencapai 100%; dan ada kawasan pertanian pangan berkelanjutan. Kedua, desa sehat dan sejahtera dengan target angka kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup mencapai 0; angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup mencapai 0; dan prevalensi obesitas mencapai 0%. Dari tantangan dua kebijakan SDGs Desa yang berkaitan dengan pemenuhan protein hewani terdapat peluang, yaitu dana desa dapat dibelanjakan guna meningkatkan literasi gizi keluarga, literasi tumbuh-kembang anak, hingga perbaikan gizi keluarga.

Selanjutnya Drh. Boethdy Angkasa menyampaikan gambaran konsumsi dan strategi pemerintah dalam meningkatkan pangan hewani di Indonesia. Ia mengatakan tentang rendahnya konsumsi protein hewani Indonesia yang hanya sekitar 25.32% dari total konsumsi protein pada 2019. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasionel (Susenas) September 2019, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Indonesia adalah Rp1.205.862 dimana 49,21% pengeluaran atau sebesar Rp 593.450 adalah untuk makanan untuk membeli komoditas padi-padian dan makanan minuman jadi. Adapun strategi Kementerian Pertanian pada masa pandemi Covid-19 dan era new normal di antaranya peningkatan produksi dan kualitas produk pertanian, mendorong majunya industri pengolahan hasil pertanian, penguatan kelembagaan petani berbasis korporasi dan kawasan, serta mewujudkan pasar online yang melayani kebutuhan akan produk pertanian segar.

Ir. Artati dalam paparannya menekankan pentingnya peningkatan konsumsi ikan karena perairan di Indonesia sangat luas, yaitu 6.4 juta km2, dan potensi lestari perikanan sebesar 12.54 juta ton/tahun. Sedangkan, Achmad Dawami menyampaikan bahwa webinar ini perlu dilaksanakan secara rutin agar dapat menginformasikan tentang pentingnya protein hewani kepada masyarakat luas. Ia juga menekankan pentingnya proses pengolahan pangan hewani yang baik guna mencegah kerusakan kandungan zat gizinya.

Ir. Ahmad Syafiq Ph.D menyampaikan berbagai bukti ilmiah yang menunjukkan pentingnya konsumsi hewani dalam mendukung keberhasilan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). 1000 HPK adalah periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak. Masa ini menentukan perkembangan kecerdasan jangka panjang. Syafiq memaparkan frekuensi makan minimal (baik makan utama atau selingan) per hari yaitu 2 kali untuk bayi 6-8 bulan yang masih disusui; 3 kali untuk anak usia 9-23 bulan; dan 4 kali untuk anak usia 6-23 bulan yang tidak mendapatkan ASI. Syafiq juga menganjurkan agar dalam 1000 HPK anak mendapat keragaman pangan yaitu setidaknya mengonsumsi 4 (dari 7) kelompok pangan diantaranya padi-padian, akar, umbi; buah dan sayur kaya vitamin A; daging merah, ikan, dan unggas; legum, kacang-kacangan dan biji-bijian; telur; serta susu dan olahannya.

Pakar gizi dan kesehatan, Prof. Hardinsyah, menyampaikan pentingnya protein hewani dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Pangan hewani sumber zat gizi utama mendukung pertumbuhan anak. Pangan hewani contohnya adalah telur, ayam, ikan, daging sapi dan susu. Menurutnya, semakin beragam mengonsumsi pangan hewani, semakin tercegah dari stunting. Meta analisis membuktikan bahwa anak badut yang diberikan tiga jenis pangan hewani dalam sehari, kejadian stunting hanya sekitar 8-10%. Jika dua jenis pangan hewani, kejadian stunting sekitar 20%, dan satu jenis pangan hewani sekitar 40%. Hal ini membuktikan bahwa semakin beragam jenis pangan hewani yang dikonsumsi, maka semakin sedikit risiko seorang anak terkena stunting. []