oleh

Saatnya Kamu Bersanding, Kenapa?

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Selain wabah dan musibah, Covid-19 adalah momen kamu untuk bersanding. Kenapa?

Hampir semua orang pacaran. Ingin bersanding hingga ke pelaminan. Seperti semua mahasiswa pun ingin bersanding dengan ijazah pada akhirnya. Bersanding itu berarti “berjajar atau berdampingan”. Atau duduk bersebelahan. Jadi, bersanding seperti dekat bila dilihat secara fisik. Secara kasat mata semata. Tapi belum tentu secara moral, secara hati nurani.

Di era digital kini, pun banyak orang duduk bersebelahan. Secara fisik dekat. Tapi sayang, satu sama lainnya justru sibuk bermain gawai. Mereka berdampingan tapi tidak saling bicara, tidak saling menyapa. Karena asyik dengan gawainya. Terlalu asyik dengan dirinya sendiri.

BACA JUGA:  Generasi Milenial Berani Menulis

Bersanding atau berdampingan itu hanya simbol. Dekat belum tentu menyatu. Fisiknya dekat tapi hatinya jauh. Maka bersanding bukan soal fisik. Tapi urusan moral. Seperti dunia itu fisik. Tapi akhirat itu moral. Bekerja mencari uang itu fisik. Tapi mau berbagi kepada anak yatim itu moral. Agar tercipta “keseimbangan”. Bersanding agar seimbang; dunia dan akhirat. Seimang fisik dan moral. Tidak hanya bertepuk sebelah tangan. Enak di diri sendiri. Tapi orang lain tetap menderita.

Bersanding pun harus ada di taman bacaan. Esensi taman bacaan tidak hanya soal buku atau anak. Tapi hadirnya orang dewasa untuk mendampingi anak-anak yang membaca sangat penting. Sebuah komitmen dan konsistensi. Karena hidup pun tidak melulu soal “ke atas” tapi “ke samping”. Agar seimbang.

BACA JUGA:  Literasi Numerasi, Apa Pentingnya?

Bersanding itu sangat manusiawi. Untuk menjaga keseimbangan.

Setiap orang pasti punya hak tapi juga punya kewajiban. Ada gembira pun ada sedih. Ada kaya ada miskin. Ada saat mencari, ada saat untuk memberi. Maka siapa pun, bila berani membenci maka harus berani pula memuji. Agar terjadi keseimbangan. Jadi lebih objektif, tidak melulu subjektif.

Sang Khalik menyuruh manusia hidup seimbang.

Setiap perkartaan harus diikuti perbuatan. Setiap niat harus dilengkapi dengan eksekusi. Sungguh, kelebihan yang dimiliki manusia itu dikasih Allah untuk menutupi kekurangannya. Karena Allah mau manusia hidup seimbang. Lalu, mengapa kita beum mau “bersanding”?

BACA JUGA:  Literasi Hedonisme, Hidup Tidak Cukup Akal Sehat

Lahir harus bersanding dengan batin, begitu ajarannya.

Jangan berkeluh-kesah melulu hingga lupa bersyukur. Jangan mencari ilmu terus tanpa mau berbagi ilmu kepada orang lain. Jangan bilang cinta anak-anak tanpa mau mendekat kepada mereka. Maka berjuanglah untuk seimbang. Mulailah bersanding, lahir batin. Bersanding dunia dan akhirat. Jangan membaca melulu tanpa mau menulis. Jangan berbicara melulu tanpa mau mendengar.

Hidup siapa pun pasti ada plus ada minus. Ada suka ada duka. Ada setuju ada tidak setuju. Agar seimbang. Agar tercapai rasa saling pengertian. Sekalipun di antara dua kutub yang berbeda. Memang, hidup normal itu baik. Tapi lebih baik hidup seimbang. Lahir maupun batin, dunia maupun akhirat. Salam literasi.

Komentar

Berita lainnya