oleh

Literasi Prasangka, Kenapa Harus Curiga?

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Zaman boleh canggih. Pendidikan boleh tinggi. Agama boleh paham. Tapi itu semua tidak ada guna bila manusianya dirasuki prasangka. Prasangka atau prejudice. Yaitu opini atau pendapat “buruk” tentang apa yang tidak diketahui. Anggapan yang dibangun tanpa fakta. Dan anehnya, si teman ngobrol orang yang berprasangka pun mengiyakan. Jadilah gosip, jadilah hoaks bahkan fitnah.

Menuduh orang lain sombong karena tidak pernah ngerumpi bareng dengannya. Mundur dari pekerjaan lalu cari-cari alasan yang menjelekkan tempat kerjanya. Menyebut curang orang lain karena kalah dalam sebuah pertandingan. Ngomongin orang lain salah padahal tidak mendengar secara langsung. Itu semua contoh prasangka yang lazim terjadi. Mungkin, kita ada di dalamnya.

BACA JUGA:  Literasi Hedonisme, Hidup Tidak Cukup Akal Sehat

Karena prasangka. Apa saja perbuatan baik yang dikerjakan orang lain dianggap salah. Apa saja yang diomong orang lain katanya salah. Lalu, hanya di pemilik prasangka yang merasa benar sendiri. Apa pun yang dilakukan orang yang dibencinya pasti salah. Itulah manusia penuh prasangka. Yang benar, hanya pikirannya hanya perasaannya sendiri.

Manusia penuh prasangka. Mereka yang tidak bisa lagi berpikir objektif. Gagal bersahabat dengan kenyataan. Maunya membenci, maunya bermusuhan. Sehingga wajar, jadi terpecah belah. Lalu kehilangan kekuatan untuk bersama-sama. Banyak orang lupa. Manusia sebagus apapun akhlaknya. Sehebat apapun akalnya. Sungguh, tidak akan bisa bertindak optimal bila direcoki prasangka buruk.

Maka literasi prasangka jadi penting. Taman bacaan pun harus eksis.

BACA JUGA:  Literasi Numerasi, Apa Pentingnya?

Literasi bukan hanya soal baca-tulis. Tapi ikhtiar untuk melawan prasangka buruk siapa pun. Membaca buku adalah “obat” agar lebih paham keadaaan. Tahu faktanya sehingga tidak bergosip atau spekulasi. Karena prasangka, adalah alasan orang bodoh tentang apa pun. Gerakan literasi akan meraih “kemenangan.” Saat mampu menjadikan manusia tidak lagi berkawan dengan prasangka buruk.

Literasi prasangka ingin mengingatkan. Bahwa tidak ada peradaban baik yang dibangun oleh prasangka buruk. Perbuatan baik itu nyata. Prasangka buruk itu dusta.

Peradaban baik itu ibarat senja. Tidak pernah berduka walau menunggu waktu untuk tenggelam. Perbuatan baik itu ibarat senja. Selalu setia menjalani waktu sore tanpa pernah meragukan kuasa Allah. Karena peradaban baik selalu percaya. Bahwa setiap masalah itu ada untuk mendewasakan dan menguatkan bukan menjatuhkan.

BACA JUGA:  Filosofi Singkong, Setinggi Apapun Tetap Rendah Hati

Maka tetaplah berbuat baik dan jauhi prasangka. Karena peradaban baik tidak pernah dibangun oleh prasangka. Keluh kesah, kebencian, caci maki, hoaks, bahkan fitnah tidak akan pernah memperbaiki keadaan. Karena orang baik itu bukan dilihat dari kerasnya membaca kitab suci. Tapi dari sabar dan konsistennya menjalankan ajaran dan kebaikan dari kitab suci. Tanpa prasangka buruk sedikitpun.

Prasangka buruk adalah musuh perbuatan baik.

Maka siapa pun untuk jadi orang baik, memang tidak harus sempurna. Tapi selalu mencari cara untuk memperbaiki diri. Karena orang baik selalu sadar, tidak ada yang dapat mengubah keadaan selain dirinya sendiri. Tentu, tanpa prasangka.

Komentar

Berita lainnya