oleh

Literasi Mitos, Kok Masih Percaya?

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Selesai makan, jangan langsung tidur.
Begitulah mitos yang beredar. Mungkin karena perut kenyang memang tidak baik untuk dibawa tidur. Sementara di rumah sakit, semua pasien justru sehabis makan buru-buru tidur. Mitos sering kali dianut banyak orang. Karena mitos berisi tafsir masa lalu tentang alam semesta. Maka mitos pun jadi aliran yang dianggap benar-benar terjadi. Padahal, mitos tidak lebih dari sekadar cerita.

Mitos atau fakta? Begitu acara di TV orang-oran zaman now. Sekalipun hidup di era digital, mitos selalu menghantui. Entah, apakah ada hubungan antara mitos dengan Pendidikan? Atau mitos dengan status sosial? Agak sulit dibuktikan. Kata mitos , “sinar matahari bisa membunuh virus Covid-19”. Dan hampir semua orang percaya, Maka banyak orang telanjang dada, berjemur di siang hari. Padahal, tidak ada bukti sinar matahari mematikan Covid-19. Tapi bahwa sinar matahari berguna untuk meningkatkan daya tahan pasti tidak terbantahkan.

BACA JUGA:  TBM Edutainment, Atasi Jalan Sepi Taman Bacaan

Membaca buku dan taman bacaan pun tidak luput dari mitos.
Kata banyak orang, minat baca akan tumbuh secara alami. Itulah mitos. Minat baca itu tumbuh bila kebiasaan yang dipupuk sejak dini seperti di taman bacaan. Akses membaca buku anak-anak itu tidak akan pernah terwujud bila tidak ada taman bacaan. Mitos lainnya, orang yang suka membaca itu identik dengan kutu buku dan tidak gaul. Itu mitos. Justru orang yang gemar membaca itu open minded, wawasannya luas, dan saat bergaul tidak kehabisan obrolan. Rajin membaca di taman bacaan pun bukan syarat orang sukses atau kaya. Tapi jadi “jembatan’ untuk meraih cita-cita.

BACA JUGA:  Darurat Baca pada Generasi Milenial

Lalu, kenapa banyak orang percaya mitos?

Mitos itu jadi dipercaya. Karena banyak orang pengetahuannya terbatas. Malas berpikir. Bahkan mungkin ingin hidup secara instan. Sehingga lebih percaya mitos daripada ikhtiar atau kerja keras. Mitos lebih dihormati daripada akal sehat. Karena mitos diturunkan dari nenek moyang atau kultural katanya.

Maka hari ini. Tidak sedikit berbagai ranah kehidupan lebih dibangun oleh mitos, Bukan akal sehat. Lebih percaya hal abstrak yang dikonstruksi jadi kebenaran. Baik soal agama, soal negara, soal keluarga, dan bahkan soal taman bacaan atau gerakan literasi. Karena sifatnya sosial, maka taman bacaan tidak usah dikelola profesional. Itulah mitos di taman bacaan,

BACA JUGA:  Gula Beracun, Fenomena 'Sugar Daddy' di Indonesia

Jadi, beras itu tidak akan pernah berubah jadi nasi bila tidak dimasak. Harus ada ikhtiar untuk mengubahnya. Maka jangan percaya mitos. Bahkan jangan hidup hanya berdasar fakta, Tapi bersikap-lah soal apapun, tentang apa pun. Karena mitos hanya pelajaran bukan kenyataan. Untuk apa hidup penuh mitos tapi tanpa etos? Salam literasi

Komentar

Berita lainnya