oleh

Literasi Lelah, Saat Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra & Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Hari ini banyak orang lelah.

Lelah bekerja di kantor. Lelah jalan-jalan, lelah makan enak. Bahkan lelah bergosip dan menebar keburukan. Benci sana benci sini. Tanya sana tanya sini. Lalu sehari-hari, berkeluh-kesah. Hingga lelah. Dan itu terjadi, akibat perbuatannya sendiri. Hidupnya lelah.

Lelah itu sama dengan penat, letih, payah, atau lesu. Dan sebab lelah, tidak harus kurang tidur. Sebut saja, orang-orang lelah. Mereka yang hidupnya terasa letih, terasa sulit. Lelah karena kurang bersyukur. Lelah mengurusi hal yang tidak perlu diurusi. Hal yang tidak penting dinikin jadi penting. Bahkan hal kecil dibesar-besarkan. Pantas saja, makin lelah hidupnya.

BACA JUGA:  Tingkatkan Produktivitas ASN Melalui Manajemen Keterlibatan Pegawai

Orang-orang lelah. Saat bertemu teman-temannya. Lalu bilang, “sungguh, hidup ini melelahkan”. Gimana tidak lelah? Hidup kok dibikin sulit sendiri. Memang apa yang sulit? Kata siapa sulit? Lalu dibandingkan apa dan siapa bisa jadi sulit?

Orang lelah karena hidupnya tidak sederhana. Hidup dianggap beban, bukan anugerah. Padahal, hidup itu gampang. Bila mau dijadikan harapan, hidup untuk ibadah. Dalam jejak Langkah kebaikan, apa pun dan di mana pun.

BACA JUGA:  Literasi Puasa, Momen untuk Move On

Lelah, tentu boleh. Asal untuk kebaikan dan kemanfaatan. Seperti mereka yang berjuang di taman bacaan. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi. Menyediakan akses bacaan anak-anak, menularkan perilaku baca daripada bermain gawai. Itu semua pasti lelah. Tapi lelah yang berarti. Berlelah-lelah dalam kebaikan itu akhlak mulia.

Maka jangan terlalu lelah. Bisa frustasi, bisa stress. Dan tidak menyehatkan. Kerjakan saja “bagian” kita, tidak usah urusin “bagian” orang lain. Hidup siapa pun pasti tidak akan lelah. Karena hidup, peluangnya hanya dua saja; 1) hidup jadi ibadah atau 2) hidup jadi beban. Hidup itu pun hanya dua, bila tidak bersyukur ya bersabar. Maka pangkat, jabatan, harta, pekerjaan atau apapun. Sama sekali tidak berguna bila tidak jadi ibadah.

BACA JUGA:  Untuk Kamu yang Mudah Lupa Sejarah

Siapa pun pasti lelah.

Saat membandingkan-bandingkan kekurangan diri dengan kelebihan orang lain. Terlalu sibuk mengurusi orang lain, sementara lupa mengurus diri sendiri. Hingga hidup, tidak lagi “apa adanya” tapi “ada apanya”. Salam literasi

Komentar