oleh

Tukang Ngomong, Praktik Kosong

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Sudah konsekuensi, zaman canggih ini akhirnya menghasilkan orang-orang yang omong. Lebih banyak bicara daripada kerja. Lebih banyak argumen daripada eksperimen. Mencari sensasi daripada esensi. Karena terlalu banyak omong. Lihat saja di banyak webinar. Zoom meeting, apalagi di TV-TV. Apa saja bisa dibicarakan. Apalagi ditambah sedikit retorika, plus gaya ngomongnya. Woww, kesannya luar biasa. Membius audien lagi mengagumkan, begitulah tukang bicara. Namanya tukang bicara.

Oh ya, jangan lupa. Tukang bicara itu sama artinya dengan “jago ngomong”. Alias orang yang kerjaannya hanya bicara. Seperti jago bola, orang kerjaannya main bola. Sering kali, tukang bicara hanya ngomong doang. Segala rupa diomongin.

Kata tukang bicara. Negara harusnya begini. Agar tidak banjir harusnya begini-begitu. Ekonomi pasti tumbuh bila begini. Organisasi harusnya dikelola seperti ini. Pandemi Covid-19 cepat berlalu bila masyarakat begini. Tukang bicara bilang, “semuanya harus begini, harus begitu”. Seolah semuanya kelar karena omongan. Seakan masalah apa pun akan rampung bila sudah dibicarakan.

BACA JUGA:  Pandemi dan Keresahan Insan Film

Tukang bicara sering lupa. Tidak ada satu pun masalah di dunia ini yang kelar karena dibicarakan. Tidak pula ada persoalan rampung karena diomongin. Apalagi ditambah hoaks, fitnah dan gibah. Karena faktanya, tukang bicara itu ya hanya pandai bicara. Tapi tidak pandai berbuat. Ngomong begini-begitu, tapi sedikit sekali dalam eksekusi. Hingga publik terkecoh. Seolah “apa yang diomong” sama dengan “apa yang diperbuat. Padahal bisa jadi, semuanya hanya omong kosong.

Jangan banyak omong. Tapi perbanyaklah membaca buku. Atau setidaknya diam.

BACA JUGA:  Literasi Tahan Godaan, Ramadhan Sebentar Lagi

Seperti di taman bacaan. Sebagai tempat untuk menghidupkan tradisi baca. Membangun peradaban anak-anak yang akrab dengan buku. Agar tidak terlalu mudah berbicara apalagi berkoar-koar. Maka taman bacaan di mana pun. Punya misi sederhana, “Lebih baik membaca buku atau diam daripada banyak omong dan berkata-kata tanpa makna”

Sementara di negeri nusantara. Kadang terlalu banyak tukang bicara. Masalah bukan diselesaikan. Tapi malah diperdebatkan. Banyak diskusi di depan publik, disorot di media. Konsepnya keren. Orang-orangnya beken. Tapi sayang, itu semua sebatas tukang bicara, jago ngomong. Tidak jago eksekusi. Maka tiap tahun, masalah yang sama muncul lagi. Dan tukang bicara ngomong lagi.

Sejatinya, jadi tukang bicara itu baik. Bila diikuti dengan perbuatan atau tindakan. Apa yang diomong harus dama dengan yang dilakukan. Bukan sebaliknya. Pandai bicara hanya untuk mencari kesalahan. Bicara hanya untuk melemahkan orang lain. Lalu ribut dan berisik. Lalu lupa nasihat hadist “”Yang paling aku takuti atas kamu sesudah aku tiada adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah.”

BACA JUGA:  Generasi Milenial Berani Menulis

Maka berhati-hatilah. Jangan jadi tukang bicara, hindari banyak omong. Karena khawatir. Tukang bicara itu makin banyak omong karena mereka sedang memperjuangkan mimpi-mimpi mereka. Tukang bicara tak lebih dari orang-orang yang hidup dalam harapan, bukan kenyataan. Mereka yang hidup di “negeri fantasi” bukan di “negeri realitas”.

Tukang bicara, hati-hatilah. Karena zaman now. Makin banyak orang yang pandai bicara. Tapi praktiknya nol besar. Salam literasi

Komentar

Berita lainnya