oleh

Mencari Sosok Idola di Tengah Wabah Corona

Oleh: Dudi Supriadi, Mahasiswa STEI SEBI, Penulis KINPAPEB

Sebelum ada istilah COVID atau Corona Virus Deasis, virus ini bernama Corona Virus 2019-nCov. Virus yang berasal dari Wuhan, China dan sekarang sudah menyebar ke berbagai negara, virus korona atau COVID-19 awal penyebarannya di akhir tahun 2019 sampai sekarang dan masih masif berkembang di berbagai negara termasuk Indonesia. Menurut kementerian kesehatan per tanggal 31 Januari, kasus positif di Indonesia mencapai 1.078.314 dengan 270 meninggal dunia. Situasi yang sudah sangat mengkhawatirkan, dengan adanya wabah ini terpaksa sesuai dengan peraturan menteri kesehatan beberapa daerah di Indonesia memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dengan memberlakukan PSBB maka kegiatan sekolah, kantor dilakukan dalam jaringan (daring).

Kekhawatiran semakin menjadi karena Indonesia menempati peringkat ke-4 negara terpadat dan  terbanyak penduduknya. Berdasarkan survey penduduk antar sensus (SUSPAS) di tahun 2015, untuk proyeksi jumlah penduduk Indonesia di tahun 2019 sekitar 267 juta penduduk, dan di perkirakan pada tahun 2045 jumlah penduduk Indonesia sekitar 319 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar Indonesia masuk ke dalam peringkat 4 besar dengan jumlah penduduk terbanyak setelah negara India, Tiongkok dan Amerika Serikat. Dengan penduduk Indonesia yang begitu banyak, agama Islam menjadi agama mayoritas, berdasarkan Word Population Review jumlah muslim di Indonesia di tahun 2020 sekitar 87,2%  atau sekitar 229 juta jiwa.

Dengan adanya PSBB maka tidak harus tidak, aktivitas dilakukan lewat virtual, bahkan kegiatan ini dilakukan oleh anak taman kanak-kanak (TK), anak SD, SMP, Mahasiswa yang jumlahnya lumayan banyak, menurut hasil sensus 2020 Indonesia dihuni oleh 10,88% Pos Gen Z (kelahiran 2013), 27,94% Gen Z (Kelahiran 97-2012), 25,87% Milenial (kelahiran 81-96). Aktivitas berlama-lama dengan gadget untuk anak-anak dan remaja mengakibatkan mereka lebih lama berselancar di dunia maya yang pada akhirnya mereka bebas memilih sosok idola mereka sendiri, bersyukur juga yang dijadikan sosok idola adalah orang-orang alim, dermawan, baik, jika sebaliknya.? Maka dampaknya mereka akan berkata kotor, punya model gaul, melawan terhadap orang tua dan malas ibadah, Innaalillaahi.

Dalam Islam ada beberapa yang harus kita teladani sebagai sosok idola yang sesungguhnya, sosok idola dalam Islam itu di antaranya:

Pertama, Rasulullah Saw belau adalah manusia yang mulia, membawa ajaran yang sempurna. Hidup dalam sebuah tekanan, dicaci, dimaki, di ludahi, dilempari batu dan kotoran bahkan ancaman untuk dibunuh sudah tidak asing di daun telinganya. Dialah yang membawa kabar gembira bagi seluruh umat di muka bumi sampai akhir hayatnya dengan nada lirih dan lemas dia masih menyebutkan “ummatii…. ummatii… ummatiii…” Rasulullah SAW orang yang paling mulia. Dia menawarkan kesuksesan bukan hanya di dunia semata tapi di alam yang abadi.

Kedua, Muhammad Al Fatih anak muda yang membuktikan janji Nabi, seorang panglima terbaik yang memimpin para prajurit terbaik pada masanya, di usianya yang masih muda Muhammad Al Fatih sudah bisa menaklukkan kota Konstatinopel yang di idam-idamkan selama beratus tahun, dengan kecerdasan dan strategi yang laur biasa, kota dengan tembok yang kokoh itu takluk di kepalan tangannya.

Ketiga, Abdullah Bin Abbas pemuda luas ilmunya, keikhlasannya bak lautan padang pasir, keberaniannya dalam kebaikan seperti sinar matahari yang bergelora. Usianya memang masih muda. Tapi, ilmunya sudah sangat luar biasa. Mengapa tidak, Abdullah bin Abbas belajar langsung dari manusia mulia, dan mendapat doa akan keluasan ilmu agama, mudah-mudahan generasi kita juga bisa mencontoh keberanian dan kegigihan dalam mencari ilmu, di zaman yang banyak tantangan seperti sekarang ini.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh sebagai suri teladan kita, kiranya kita bisa memanfaatkan teknologi untuk mencari idola-idola yang bisa mengantarkan kita kepada kesuksesan dunia dan akhirat, meninggalkan kebiasaan yang buruk kembali kepada kebiasaan yang baik dan benar, mari sama-sama kita usahakan.

 

Referensi:

Qoonita, F. (n.d.). Seni Tinggal Di Bumi. Kanan Publishing.

Felix Y. Siaw dalam bukunya Muhammad Al Fatih 1453

Hepi Andi Bastomi dalam bukunya 101 Sahabat Nabi

Aladokter.com, Kementerian Kesehatan Indonesia RI

Badan Pusat Statistik, dilansir dari Tempo.co.id,

Id. Wikipedia.org

Industry.co.id, Word Population Rerview