oleh

Hukuman Tak Buat Jera, Pelaku Asusila Merajalela

Oleh: Ade Pujianti, Am. Keb., Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Lagi-lagi kasus pemerkosaan terjadi. Kali ini perlakuan bejat seorang ayah berinisial IR (50) terhadap anak kandungnya berinisial EE (16) yang masih duduk di bangku SMA terjadi di Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Pria paruh baya ini melakukan pemerkosaan hingga berkali-kali, sampai menyebabkan korban hamil. Pelaku mengaku melakukannya sejak Juni 2020. Lantaran tak ingin anaknya itu hamil, pelaku menyuruh korban menggugurkan janinnya. Korban pun dipaksa minum obat dan jamu yang membuat janinnya itu meninggal dunia di dalam kandungan.

Kapolrestro Depok Kombes Imran Edwin Siregar mengatakan, kasus ini terkuak karena adanya kecurigaan warga sekitar yang melihat adanya gundukan tanah seperti makam di sekitar kosan pelaku. Benar adanya setelah dilakukan penggalian, ditemukan jasad bayi yang terkubur.

Pelaku IR dipersangkakan Pasal 81 Ayat 3, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang persetubuhan terhadap anak di bawah umur. Dengan ancaman hukuman pidana yakni dipenjara maksimal 20 tahun. Seperti yang diberitakan www.liputan6.com (17/02/2021).

Ibarat fenomena gunung es, kasus pemerkosaan orang tua terhadap anak kandungnya yang diketahui dan dilaporkan hanya terlihat di puncaknya saja. Padahal nyatanya ada banyak kasus yang tak tampak dan tidak terlapor. Maraknya kasus kriminal yang terjadi di mana-mana dari perkosaan, pencabulan hingga kekerasan sosial ditambah aborsi sebagai dampaknya. Ini menambah deretan potret buram akibat penerapan dari sistem sekuler saat ini yakni penerapan yang memisahkan antara agama dengan kehidupan.

BACA JUGA:  Pesan Literasi: Lebih Baik Sesak daripada Nyesek

Ironis memang. Peran ayah yang harusnya menjadi qawamah, pemimpin rumah tangga. Nyatanya, alih-alih memberi rasa aman dan perlindungan bagi anaknya, kini pupus terhapus pemenuhan nafsu semata. Tanggung jawabnya untuk menjaga keluarga dari siksa api neraka sebagaimana perintah dari Allah SWT, jelas terabaikan. Keberadaan lemahnya iman mengoyak peran ayah untuk menjadi panutan.

Selain itu, banyaknya tayangan-tayangan yang tidak mengedukasi, seperti film atau sinetron yang menggugah syahwat dengan mudahnya dilihat secara bebas. Mudahnya mengakses konten-konten porno yang dapat merusak otak manusia. Dari kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua. Sudah seharusnya ada pengawasan ketat dan tindak tegas dari negara agar tidak dibiarkan berkembang.

Ditambah lagi hukuman yang diberikan pun masih dianggap ringan. Tidak memberikan efek jera bagi pelakunya. Hukuman yang diambil dari aturan buatan akal manusia yang terbatas sehingga terkesan sangat lemah dan tidak membuat takut pelaku kriminal. Jelaslah kasus semakin menjadi-jadi di negeri tercinta ini. Menjadikan hukuman tak buat jera, pelaku asusila merajalela.

BACA JUGA:  Manusia Paradoks, Kaya Hartanya Miskin Jiwanya

Dalam Islam negara menjamin kesejahteraan rakyatnya, memiliki aturan menyeluruh yang dijadikan sebagai problem solving dari mulai hal kecil sampai besar sekalipun. Islam menanamkan ketakwaan individu agar selalu taat dengan aturan Sang Pencipta. Hukum Islam pun bisa mencegah terjadinya tindakan kriminal dan juga memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku. Dalam kasus pemerkosaan contohnya, Islam mengategorikannya sebagai perbuatan zina, karena melakukan hubungan intim dan pelakunya tidak dalam ikatan pernikahan.

Bahkan terdapat unsur kekerasan. Dalam satu kaidah fikih dinyatakan bahwa ‘persetubuhan yang diharamkan adalah zina’ dan hukumannya adalah had yang sudah ditetapkan dalam kasus perbuatan zina.

Jika pelaku belum menikah, hukumannya cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Jika pelakunya sudah menikah maka hukumannya rajam bisa dilaksanakan. Sebagian ulama mewajibkan kepada pemerkosa untuk memberikan mahar kepada wanita korban pemerkosaan. Sedangkan bagi korban perkosaan terbebas dari hukuman, bahkan negara akan melindungi kehidupannya. Memulihkan kesehatan jiwanya dan menjaga masa depannya.

BACA JUGA:  Darurat Guru, Kok Bisa?

Dalam Islam, hukuman itu bersifat jawazir dan jawabir. Jawazir artinya hukuman Islam bersifat preventif, mencegah terjadinya peluang-peluang kejahatan dan kemaksiatan. Sedangkan jawabir artinya jika hukum Islam itu diterapkan di dunia akan menghapus azab Allah di akhirat kelak.

Sabda Nabi SAW, “Ba’iatlah aku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan seuatu, tidak mencuri, tidak berzina. (Kemudian Rasulullah SAW membacakan seluruh ayat). Barangsiapa di antara kalian menepati, maka Allah akan membalas (dengan pahala); barangsiapa yang melakukan hal-hal itu, maka akan diberi hukuman (uqubat) sebagai kafarat (penebus) baginya; dan barangsiapa melakukan hal-hal itu , kemudian Allah menutupinya, maka Allah akan mengampuninya jika menghendaki dan mengazabnya jika Dia menghendaki.” (al-Hadist).

Untuk itulah masyarakat sangat membutuhkan sebuah institusi negara yang menerapkan hukum Islam secara menyeluruh. Karena hanya dengan diterapkannya hukum Islam oleh negeri inilah yang akan menjadi solusi tuntas atas semua kasus kriminalitas yang terjadi. Aturan Islam akan memberikan kebaikan bagi negeri ini secara nyata. Wallahu’alam bish showab.[]

Komentar

Berita lainnya