oleh

Filosofi ‘Nrimo’, Mampukah Berteman dengan Realitas?

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor

Saat pandemi Covid-19, PSBB ketat diterapkan. Semuanya di suruh dari rumah saja. Kuliah dari rumah, kerja dari rumah, belajar pun di rumah. Ditambah wajib pakai masker, cuci tangan dan jauhi kerumunan. Banyak orang sudah bosan, lalu stress. Semua dbatasi akibat Covid-19.

Hari ini, bisa jadi banyak orang sulit menerima kenyataan. Gagal berteman dengan realitas. Tidak bisa Terima segala hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Lalu stress dan mengeluh sehari-hari. Obsesinya terlalu tinggi, daya tolaknya pun kuat. Itulah yang disebut “ogah nrimo”, gagal menerima keadaan.

Menerima alias nrimo itu sikap dan perilaku yang kian langka. Apalagi bila dicampur-aduk dengan logika dan emosi, makin sulit manusia menerima. Bahwa ada orang benci sulit meneima. Ada kawan sukses sulit diterima. Ada orang yang tidak suka gagal diterima. Bahkan Covid-19 sudah mau ulang tahun ke-1 pun gundah gulana. Bukankah semua yang terjadi pada kita sudah ada dalam skenario-Nya?

Maka mulailah menerima atau nrimo keadaan. Apapun kondisinya.

BACA JUGA:  Hukuman Tak Buat Jera, Pelaku Asusila Merajalela

Sikap “nrimo” berarti ikhlas “menerima” realitas atau kenyataan. Karena harapan kadang berbeda dengan kenyataan. Karena tidak semua yang kita pikir baik, itu baik juga buat orang lain. Karena nrimo menjadikan kita lebih sehat, leih legowo menerima realitas.

Keadaan seperti apapun, sungguh tergantung pada niatnya. Ada yang niatnya baik, ada yag niatnya buruk. Semua tergantung pada niatnya masing-masing. Toh pada akhirnya, si manusia itu pula yag akan tanggung akibatnya. Karena tidak ada perbuatan sekecil apapun yang tidak ada akibatnya. Positif atau negatif, pasti sesuatu dengan niatnya. Maka terimalah.

Bila ada yang belum bisa menerima. Atau tidak “nrimo” realitas. Bisa jadi, mereka sedang hidup dalam harapan. Hidup dalam mimpun hingga sulit menerima kenyataan. Karena nrimo hanya dimiliki mereka yang berjiwa besar. Itulah bukti, bahwa sikap menerima itu istimewa. Karena tidak semua orang bisa “nrimo”.

Menerima alias nrimo. Artinya, bila tidak sama maka jangan dilarang beda. Karena setiap kepala itu berbeda. Apa yang kita miliki hari ini sudah pantas untuk kita. Apa yang dicapai orang lain pun sudah pantas untuk mereka, Maka tidak usah berjuang untuk sama. Tapi berjuanglah untuk menerima keadaan.

BACA JUGA:  Manusia Paradoks, Kaya Hartanya Miskin Jiwanya

Jadi, lebih baik menerima realitas daripada memperkuat daya tolak. Agar energi tidak habis untuk hal-hal yang negatif, apalagi memupuk kebencian yang tidak pernah berakhir.

Zaman now, kadang aneh. Sekolah makin tinggi tapi makin tidak bisa nrimo. Status sosial makin tinggi tapi makin gebyah uyah sulit menerima. Beda pendapat tidak boleh, beda sudut pandang dimusuhi. Makin banyak orang-orang yang sulit nrimo.

Ada istilah “nrimo ing pandum”, artinya menerima dengan legowo.

Artinya, berserah diri terhadap apa yang dianugerahkan Allah. Soal apapun, untuk apapun.

Seperti cerita tetangga saya. Ia baru saja kehilangan kedua anaknya. Anak pertamanya, meninggal dunia akibat sakit 2 tahun lalu. Selang setahun kemudian. Anak keduanya pun dipanggil Illahi karena tertabrak di jalan saat sedang bermain. Sedih banget. Hebatnya, tetangga saya tetap tegar dan mampu menutupi rasa dukanya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Nrimo sekali. Lapang dada dan menerima kenyataan. Tanpa perlu menyalahkan yang menabrak, apalagi menyalahkan Tuhan. Saat saya ucapkan ikut berduka cita, lalu ia menjawab, “Terima kasih Pak. Anak saya cuma titipan Allah. Kalau diambil sama yang nitip, ya tidak apa-apa. Saya nrimo”.

BACA JUGA:  Literasi Amal, Siapa Follower Sejati Anda?

Menerima atau nrimo itu bukan pasrah.

Tapi ada usaha dan ikhtiar keras lalu tetap berdoa. Selebihnya biarkan Allah yang menentukan hasilnya. Karena semua yang terjadi pasti atas kehendak-Nya.

Nrimo atau menerima. Agar mampu bersahabat dengan realitas. Dan selalu berpihak paa perbuatan baik. Lalu, ubah niat baik jadi aksi nyata. Karena baik itu harus dieksekusi, bukan jadi bahan diskusi. Jadilah diri sendiri, tidak perlu jadi orang lain. Karena anugerah itu ada di diri sendiri, bukan di orang lain.

Agar kita tidak lupa. Bahwa dari sekian banyak pikiran dan rencana hebat manusia. Pada akhirnya, pilihan terbaik adalah sikap nrimo, menerima apapun yang ada. Sungguh, tidak ada kata yang lebih indah selain “menerima keadaan”. Salam literasi.

Komentar

Berita lainnya