oleh

Cerita Nakes Perempuan di Masa Pandemi Covid-19

Tanggal 7 Januari 2021 kembali jadi hari yang sibuk bagi Tari (23) perawat di Rumah Sakit Permata Depok, dan kawan-kawan tenaga kesehatan lainnya. Kasus covid-19 di Depok memang sedang tinggi-tingginya hari itu sehingga ruang tidur isolasi dan instalasi gawat darurat penuh terisi.

Namun, malam itu tiba-tiba datang Ambulans mengantarkan seorang pria paruh baya. Kondisinya tidak sadarkan diri, dari keterangan keluarga diketahui ia memiliki riwayat penyakit jantung, darah tinggi, dan maag.

Mendapat jawaban itu, langsung dilakukan pengukuran tekanan darah, gula, dan CT Scan di ruang resutisasi. “Kalau tekanan darah tinggi bisa terjadi pecah pembuluh darah di kepala,” kata dia.

Dari hasil pemeriksaan disimpulkan pasien itu mengalami komplikasi dan probabel covid-19.

“Ruang isolasi waktu itu penuh sehingga pasien terus di IGD sampai mendapat rujukan,” katanya.

BACA JUGA:  Penggunaan Aplikasi Daring bagi Pelaku UMKM Sebagai Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi

Pasien itu hanya satu dari sekian banyak pasien covid-19 yang datang ke rumah sakit dalam kondisi buruk. Bukan jarang Tari mendapat pasien yang sudah meninggal dunia. Hal itu terjadi pula di daerah lain di Indonesia.

Merujuk data Satgas Covid-19 penularan covid-19 di Indonesia memang sedang tinggi-tingginya. Per Kamis (31/01/2021) tercatat 12.001 juta orang terkonfirmasi covid-19 dan 29.998 di antaranya meninggal dunia sehingga jumlah kasus aktif mencapai 1.8 juta Bandingkan dengan bulan November, saat itu pasien aktif hanya sekitar 56 ribu orang.

Kerja Double

Waktu menujukan pukul 5 pagi matanya masih sepat tubuhnya masih pegal, tidurnya kurang karna sebelumnya kerja di shift 2 jam 10 malam tadi ia baru sampai rumah. Semestinya Tari masuk siang, tetapi salah seorang nakes tiba-tiba sakit dan Tari harus siap menggantikan di shift pagi. Menjadi pengganti makin sering ia lakukan karena banyak tenaga kesehatan yang tumbang akibat kelelahan menangani pasien covid-19.

BACA JUGA:  Kapan Kita Harus Bersabar?

Ath- Thariq atau yang kerap di panggil Tari merupakan anak bungsu dari 2 orang bersaudara. Kakaknya, seorang Dokter disebuah rumah sakit di Kota Depok dan sudah berkeluarga sehingga tinggal terpisah.

Menjadi satu-satunya anak perempuan di rumah, Tari memperoleh kerja ganda. Selain menjadi tenaga kesehatan, Tari juga harus membantu urusan domestik rumahnya.

Usai solat subuh ia bergegas ke dapur mencuci sisa piring semalam, memasak, dan mengepel lantai sampai pukul 6 ia mandi. Beres dengan urusan rumah tangga, Tari bersiap bekerja.

Kondisi itu membuat Tari kerap berada pada situasi dilema antara keluarga dan pekerjaannya. Pernah disuatu sore Tari mendapat kabar bahwa sang Ayah muntah darah dan tidak sadarkan diri. Tangannya gemetar seketika ia menangis keras namun sunyi karena teredam oleh masker dan hazmat yang pengap itu. Ia lari menuju parkiran namun ia lupa tidak bisa pergi begitu saja.

BACA JUGA:  Agar Anak Terhindar Pergaulan Bebas

Ia tetap harus mengikuti prosedur melepas APD, jangan lupa mandi mengunakan sabun khusus yang baunya menyengat itu. Setengah jam terlewat ia panik karena orang rumah tidak bisa dihubungi batinnya sakit pikirannya kacau, disini ia berjuang menyelamatkan nyawa orang lain namun, untuk melindungi keluarga jangakauannya begitu jauh.

Profesi nakes dimasa pandemik menjadi semakin pelik, selain mesti kerja double Tari juga khawatir sebagai carrier ke keluarga. “Takut banget orangtua kena Covid-19 karena saya, mereka udah pada tua tapi ya mau gimana Bismillah aja semoga semua jadi ibadah,” tutupnya. [R.Nadia Tanurang]

Komentar

Berita lainnya