oleh

Buku dan Manusia

Oleh: Syarifudin Yunus, Dosen Unindra & Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Hari ini, bisa jadi buku memang makin jauh dari manusia. Buku yang terpisah dari kehidupan manusia. Begitulah realitasnya. Sulit untuk dibantah. Hanya segelintir orang saja yan hari-harinya berkutat dengan buku. Entah itu, membaca buku atau mengelola tempat-tempat baca buku seperti taman bacaam.

Katanya era digital, katanya era postmodern. Tapi faktanya, sebagian besar orang memang lebih suka main gawai atau menonton TV. Daripada membaca buku. Baca buku dianggap sudah ketinggalan zaman. Apa iya begitu?

Padahal, penelitian yang bilang. Menonton TV itu dapat menurunkan IQ (intelegensia). Sedangkan membaca buku adalah salah satu cara terbaik untuk mengurangi stres, dan meningkatkan memori. Bahkan baca buku bisa memancing gairah inspirasi, bahkan energi berkreasi. Apa saja pengen dikerjakan bila sudah membaca buku. Woww, keren banget sih baca buku …

Sementara di luar sana. Ada banyak orang mampu membeli buku. Tapi mereka tidak mampu membacanya. Buku yang dibeli tapi tidak dibaca. Ada pula orang-orang yang rajin menyimpan buku-buku di rak rumahnya. Tapi sebatas pajangan atau hiasan saja. Tanpa mau membacanya. Dalam istilah Jepang itu disebut “Tsundoku”, hobi membiarkan buku-buku teronggok di rumah tanpa pernah membacanya.

BACA JUGA:  Darurat Guru, Kok Bisa?

Soal buku, saya pun makin prihatin.

Pasalnya, saya sendiri punya 5 buku yang sudah ditulis tapi tidak kunjung selesai. Tidak terasa, sudah mau 5 tahun tidak kelar-kelar. Untuk menambhak koleksi buku karya saya yang sudah 31 buku. Dan terbukti bahwa baca buku susah, apalagi menulis buku. Payah sekali saya ini. Cuma urusan menulis buku sampai “diingatkan” penerbit. Kapan kelar naskahnya? Persis seperti bumi, yang harus diingatkan oleh gempa, oleh gunung meletus. Agar manusia bisa lebih eling lan waspada dalam hidup. Sambil tetap bersyukur. Karena masih ada yang mau “mengingatkan”. Namanya manusia, maua jadi apa? Bila tidak mau lagi “diingatkan” atau “mengingatkan”?

Buku memang reresentasi kehidupan. Belum lama ini, saya pun diberi tahu penerbit. Akibat Covid-19, buku saya yang diterbitkannya mungkin akan di-stop. Karena penerbitnya terancam bangkrut. Padahal, penerbit itu tergolong legendaris di Indonesia. Sudah lama dan terkenal sejak saya sekolah dasar dulu. Buku saya yang sudah cetakan ke-4 pun harus di stop. Dan terpaksa mungkin, harus “dipindah-tawarkan” ke penerbit lainnya. Tentu, dengan beberapa revisi isi nantinya.

BACA JUGA:  Manusia Paradoks, Kaya Hartanya Miskin Jiwanya

Ngalor-ngidul ini, saya sebut “buku dan manusia”.

Memang, hidup manusia itu seperti buku. Tiap penggalan kehidpuan manusia itu seperti halaman demi halaman dalam buku. Tiap halaman selalu punya cerita sendiri. Ada yang membaca, ada yang menulis ke dalam buku. Tapi sayang, banyak manusia hari ini kian menjauh dari buku. Maka, makin jauh pula dari hikmah dan pelajaran kehidupan.

Manusia, ada yang suka buku tipis. Ada pula yang gemar buku tebal. Itu semua sah-sah saja. Asalkan masih mau membacanya. Yang sulit itu, bila manusia sudah tidak mau membaca buku. Dinasehatin ogah, dengarin ceramah tidak mau. Baca buku pun ditolak. Lalu, mau apa lagi kita?

Tapi satu yang pasti. Seperti buku dan manusia.

Bahwa di buku, apapun yang sudah ditulis. Tidak akan pernah bisa di-edit lagi. Bahwa hidup manusia dan waktu yang sudah terlewati, tidak akan bisa dipanggil lagu. Hanya esok yang tersisa. Maka penting, untuk tetap hati-hati dalam hidup. Jangan lengah. Karena tiap lembar halaman kehidupan. Akan baik atau buruk, sangat tergantung yang menuliskannya, tergantung manusianya.

BACA JUGA:  Hukuman Tak Buat Jera, Pelaku Asusila Merajalela

Buku dan manusia, begitulah.

Siapapun boleh menulis apapun tiap harinya. Mau suka atau duka, mau begini atau begitu, Silakan ditulis sesukanya. Hingga nanti, tiba di halaman terakhir, hingga episode kehidupannya berakhir. Dan sampai pada pertanyaan sederhana, “Apakah kita sudah menjadi pribadi yang pantas di hadapan-Nya?”

Buku, lagi-lagi memang seperti “jalan cerita” hidup manusia. Cover depannya bak tanggal kelahiran. Cover belakangnya ibarat tanggal kematian. Kapan halaman dimulai, dan kapan halaman itu berakhir? Dari mana berasal dan mau ke mana manusia itu pergi?

Seperti buku, begitu pula manusia. Seburuk dan sejelek apapun halaman sebelumnya. Selalu tersedia halaman baru berikutnya. Untuk mencoret kisah kehidupan yang lebih baik ke depannya. Karena buku adalah “makanan rohani” yang baik untuk manusia. Salam literasi

Komentar

Berita lainnya