oleh

Belajar dari Zahid dan Zulfa

Oleh: Nusaibah (STEI SEBI)

Zahid adalah pemuda yang hidup di masa Rasulullah, ia bukan golongan bangsawan, bukan juga sosok saudagar kaya raya, ia pemuda miskin yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk gambaran fisiknya pun ia jauh dari sempurna, jadi tidak ada wanita yang tertarik dengannya. Mungkin di benak wanita pada saat itu mengatakan, “Apa yang diharapkan dari Zahid? Sudah miskin, jelek pula. Masih banyak laki-laki yang layak dicintai selain Zahid, karena menikah untuk memperbaiki keturunan bukan memperburuk” tapi mungkin pikiran seperti ini lebih relevan dengan pola pikir wanita zaman sekarang. Tapi ternyata ada seorang gadis bangsawan dan cantik yang bernama Zulfa yang siap menikah dengan Zahid, karena Zulfa ingin membuktikan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ada tiga pelajaran yang dapat diambil dari sosok Zahid dan Zulfa ini, yaitu:

Pertama, sebagai umat Nabi Muhammad SAW kita dituntut dan diwajibkan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Zulfa seorang gadis cantik keturunan orang kaya, begitu mendengar bahwa Rasulullah melamar dirinya untuk Zahid, maka dia segera menerimanya. Maka begitulah semestinya seorang muslim, ketika ada perintah Allah dan perintah dari Rasulullah SAW, maka tidak ada kata lain selain mengatakan siap, sami’na wa ato’na. Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar dan kami patuh’ dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S An-Nur ayat 51).

Kedua, setiap muslim harus bisa lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada selain Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Zahid di usia 35 tahun belum menikah namun ketika saatnya tiba akan menikah dengan wanita keturunan bangsawan dan wanita tercantik di kota Madinah, sebuah keberuntungan bagi dia, tetapi ternyata semuanya dia tinggalkan, ketika mendengar esok harinya dia harus berperang di jalan Allah. Bayangan indahnya pernikahan dan bulan madu, semuanya hilang dari pikiran Zahid, ia jual semua peralatan untuk menikah dan dibelikan kuda perang. Dia lebih memilih Allah dan Rasul-Nya untuk mengikuti jihad di jalan Allah SWT. Begitulah seharusnya seorang muslim , kecintaannya kepada anak, pasangan, sahabat karib, harta, rumah, dan jabatan, semuanya nomor sekian, dahulukanlah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT mengingatkan dalam Q.S At-Taubah ayat 24, “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Selama ini ada yang berpikir bahwa kemewahan dunia harus diraih sebanyak-banyaknya, kekayaan harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya, jabatan harus dicapai setinggi-tingginya, tetapi itu semua jangan sampai melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan Allah. Apa pun yang dimiliki harus di bawah cinta pada Allah SWT. Contoh sederhana, ada yang sedang asyik menonton TV namun tiba-tiba panggilan Allah berkumandang (Adzan Isya), maka di situlah bisa diketahui apakah lebih cinta TV atau lebih cinta kepada Allah SWT?. Jika lebih mencintai Allah, tinggalkan TV dan segera berwudhu kemudian berangkat ke masjid untuk sholat isya. Ketika urusan dunia sibuk menghampiri, namun ketika panggilan Allah datang, maka harus segera memenuhi panggilan Allah SWT. Inilah seorang muslim yang hakiki, mendahulukan perintah Allah dan lebih cinta kepada Allah SWT. Daripada cinta kepada apa pun, karena pada hakikatnya kehidupan telah diatur semua oleh Allah SWT. Dan itu harus lebih dipilih daripada kecintaan kepada selain Allah dan Rasulullah SAW.

Ketiga, ketika orang sudah dikatakan mati syahid gugur di jalan Allah SWT. Hakikatnya orang itu tidak meninggal, tetapi hidup disisi Allah dengan penuh kebahagiaan tetapi memang kita tidak merasakannya. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah : 154).

Zahid seorang bujangan berusia 35 tahun yang belum pernah menikah di dunia, tapi ternyata di surga justru Zahid sedang bulan madu dengan bidadari surga. Ini artinya Zahid hidup disisi Allah dan menikmati yang Allah berikan kepadanya berbulan madu dengan bidadari. Inilah salah satu karunia yang Allah berikan, oleh karena itu seorang muslim harus berusaha menjadi orang-orang yang mati syahid, yang matinya husnul khotimah sehingga mendapatkan apa yang dicita-citakan dan mendapatkan sesuatu lebih dari apa yang kita bayangkan di dunia, karena ini adalah janji Allah SWT. Wallahu A’lam.

Komentar

Berita lainnya