oleh

Struktur Eksistensi Manusia yang Perlu Kita Pahami

Manusia terdiri dari aspek lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah adalah aspek luar yang terlihat, sementara aspek batiniah adalah aspek dalam yang tak terlihat, namun tanpanya aspek luar tidak ada artinya. Struktur asli manusia itulah yang disebut dengan fitrah manusia. Ibnu Sina mengatakan bahwa inti struktur manusia adalah roh. Penjelasan mengenai qalb, nafs, ruh, dan ‘aql menurut Ibnu Sina, keempatnya adalah sebuah entitas yang berbeda, tapi ketika menyentuh fisik manusia, keempat hal tersebut menjadi entitas tak terbagi dan identik, menjadi sebuah substansi spiritual yang realistis dan inti manusia.

Perbedaan nama terjadi dikarenakan modus dan kondisi aksidentalnya berbeda. Entitas tersebut ketika terlibat dengan intelegensi, ia menjadi intelek (‘aql); ketika mengatur tubuh, ia menjadi nafs (jiwa); ketika bertaut dalam menerima iluminasi intuitif, ia disebut hati (qalb); dan ketika ia kembali menjadi dirinya sendiri, ia disebut roh. Ini berarti, pemberian nama-nama tersebut sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing.

BACA JUGA:  Membuat Sedekah Menjadi Hobi

Mengenai jiwa (ruh), Ibnu Sina membaginya ke dalam tiga jenis, yaitu: pertama, jiwa vegetatif (an-nabatiyyah). Kekuatan khas pada jiwa ini adalah kekuatan nutrisi (al-ghadzaiyyah), pertumbuhan (al-namiyyah), dan keturunan atau reproduksi (al-mawallidah). Kedua, jiwa hewani (al-hayawaniyyah). Kekuatan khas pada jiwa ini adalah penggerak (motive) dan perspektif. Pada keduanya terdapat dua jenis operasional sebagai pembangkit tindakan dan sebagai pengaktif bagi dirinya sendiri. Sebagai pembangkit tindakan ia bergerak menuju apa yang dianggap bermanfaat bagi dirinya atau menjauhi apa yang berbahaya. Ketika dianggap bermanfaat daya penggerak mengaktifkan keinginan untuk mencapainya, yang diarahkan oleh dua daya; yaitu daya hasrat yang membangkitkan manusia untuk menggerakkan tindakan berupa syahwat dan gaya pengaktif tindakan berupa ghadhab yang mengaktifkan aktivitas otot, saraf, dan semua aktivitas fisiknya, untuk mendapatkan yang diinginkan atau menghindari apa yang tidak diinginkan.

BACA JUGA:  Memahami dan Mempelajari Ilmu Tajwid

Terakhir adalah jiwa insani (al-insaniyyah) atau jiwa rasional (al-nathiqah). Hampir sama dengan jiwa hewani, jiwa insani juga mempunyai dua kekuatan, yaitu: kekuatan sebagai pelaku (‘amilah) dan kekuatan sebagai mengetahui (‘alimah). Pada kekuatan ‘âmilah manusia memiliki kemampuan-kemampuan khusus dan spontanitas, contohnya adalah kemampuan untuk menangis, merasa malu, dan tertawa, atau yang dipengaruhi sifat binatang melahirkan perilaku zalim dan kejam. Sementara kekuatan‘âlimah membuat manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir (akal). Namun di sisi lain, akal juga termasuk ke dalam kekuatan ‘âmilah. Itu karena, dengannya manusia mampu membuat keputusan.

Sebagai kesimpulan roh merupakan aspek rohaniah asli manusia dan jasad adalah aspek hewaniah manusia. Tarik menarik antara kepentingan manusiawi dan Ilahiah melahirkan aspek-aspek lainnya, yaitu: Pertama, qalb sebagai aspek rohani yang masih dekat dengan Tuhan, ia mengelola rasa dari manusia dan menjadi tempat pertimbangan bagi keputusan manusia. Kedua, ‘aql (akal) adalah aspek yang paling khas dari manusia, ia tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lain. Akal bersifat rasional sebagai daya kognitif manusia yang mampu memikirkan dan mengkonsepsikan keadaan manusia, serta bagaimana berperilaku terhadap yang lainnya. Ketiga, nafs dimaknai dengan dua makna, yaitu sebagai jiwa atau nyawa manusia dan sebagai kondisi psikologis manusia. Makna kedua ini memiliki tiga kondisi umum, yaitu: disebut nafs ammârah bi al-sû’, yakni ketika nafs cenderung pada pemenuhan keinginan-keinginan dari jasad dan menarik manusia pada kasta yang rendah sebagai makhluk hewani, terkadang disebut nafs mulhimah, yaitu ketika nafs bersikap rasional namun mengabaikan aspek ketuhanan, kemudian ia terjerumus kepada dosa dan akhirnya menyesal, dan terkadang disebut nafs mulhimah, ketika ia mulai bertobat dan condong menggunakan akalnya daripada hatinya, disebut nafs muthmainnah, yaitu ketika manusia lebih condong menggunakan hatinya, sehingga ia dekat dengan Tuhan dan merasakan ketenangan.

Komentar

Berita lainnya