oleh

Serial Kartun Nussa Berhenti Produksi, Jutaan Anak Kehilangan Film Islami

Oleh: Ndarie Rahardjo, S.T., Guru/Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Jumat, 1 Januari 2021, menjadi tanggal terakhir episode kartun Nussa. Entah sampai kapan bisa ketemu lagi. Nussa dan Rara adalah tokoh sentral kakak beradik dari serial kartun islami anak-anak yang selama 2 tahun terakhir menjadi pilihan menemani keluarga Muslim di tengah maraknya tontonan yang rusak dan merusak.

Tayangan yang baik dan mendidik ini terpaksa distop produksinya karena terdampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan pengurangan 70% karyawan terpaksa dirumahkan. Ujian tak berhenti di situ bahkan kartun ini menurut penggiat media sosial, Denny Siregar dituding memuat konten radikal dan intoleran serta dituduh sebagai propaganda HTI. Islam ditampilkan dalam wajah Arab. Identitas keagamaan tampak sekali dari cara berpakaian mereka, seolah Islam itu harus seperti yang digambarkan di film tersebut. “Lihat aja pakaian Nusa yang bergamis,” ujarnya.

Padahal, Nussa dan Rara merupakan sajian serial animasi Islam yang membawa angin segar bagi para orang tua karena tontonan di televisi selama ini tidak cocok untuk ditonton anak-anak apalagi diikuti. Bahkan sebagian tontonan kartun yang ada justru mengajarkan kekerasan, bullying, pornografi-pornoaksi dan bahkan menafikkan adanya Tuhan. Naudzubillah.

Beberapa di antara kartun yang mengajarkan kekerasan adalah Tom & Jerry, Little Krisna, Crayon Shincan, Spongebob dan masih banyak lagi yang semisalnya. Sedangkan untuk kartun Doraemon, anak-anak diajarkan untuk tidak membutuhkan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya, cukup memiliki kantong ajaibnya Doraemon, semua masalah bisa diatasi. Jika ini dibiarkan terus menerus tanpa pendampingan dan penjelasan dapat menggerus akidah anak anak.

BACA JUGA:  Dilarang Banyak Pikir Banyak Omong, Kenapa?

Bandingkan dengan kartun Nussa, tentu sangat jauh sekali. Kartun Nussa mengajarkan nilai-nilai islam baik akhlak, ibadah maupun muamalah, dengan cara yang baik dengan tidak meninggalkan unsur hiburan bagi anak-anak akan kelucuan kakak adik ini. Jika serial kartun Nussa berhenti produksi, jutaan anak kehilangan film islami.

Kalau pun dalam menghadirkan sosok Rara sebagai anak kecil yang berhijab diprotes karena alasan intoleran, patut dipertanyakan intolerannya di mana?? Bukankah itu termasuk hak setiap warga negara untuk menjalankan ajaran agama dan keyakinannya. Selain itu serial ini justru mengajarkan nilai-nilai yang islami. Menjadi aneh ketika kehadiran kartun ini ada yang menolaknya.

Tidak bisa dipungkiri, tontonan dapat memengaruhi perbuatan seseorang karena nilai yang dibawanya, apalagi pada masa anak-anak yang sedang mengalami perkembangan psikis dan pertumbuhan fisiknya. Pada fase ini perkembangan akalnya belum sempurna sehingga mereka hanya menggunakan panca inderanya untuk mengikuti tanpa berpikir baik dan buruknya.

Kartun yang mengandung unsur kekerasan dapat menjadikan anak-anak lebih agresif, sulit diajak berdialog dan merasa semua persoalan dapat diselesaikan dengan cara kekerasan baik fisik maupun verbal. Selain itu tontonan juga bisa menjadi tuntunan baik dan buruk bagi penontonnya. Jika yang ditontonnya baik, maka baik pula penontonnya. Sebaliknya jika yang ditonton tidak baik, maka penonton juga bisa meniru yang tidak baik pula.

Kehadiran tontonan tidak hanya berfungsi menghibur, tapi juga mendidik menjadi satu hal yang sangat penting saat ini di tengah derasnya arus serial kartun baik di televisi maupun media lainnya justru banyak menyuguhkan tontonan yang buruk.

BACA JUGA:  Wakaf dan Kapitalisme

Bagi seorang Muslim, apapun profesinya harus tunduk dengan ketetapan Allah Sang Pengatur. Bahkan seorang animator kartun sekali pun akan terlihat ketundukannya kepada Allah lewat karya-karyanya, seperti berhijabnya Rara meskipun masih anak-anak adalah buktinya. Karena setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah atas perbuatannya di dunia.

Bagi keluarga dan masyarakat, tentu juga bisa mengambil peranan dalam memilihkan tontonan yang baik bagi keluarganya terutama anak-anak dan tidak memberi ruang bagi tersebarnya konten yang tidak mendidik dan merusak tumbuh kembang anak agar sesuai fitrahnya. Memilihkan tontonan yang islami adalah tanggung jawab keluarga dan masyarakat, agar generasinya terjaga dari kerusakan akhlak yang diakibatkan tontonan yang buruk.

Sebagaimana hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tiada seorang pun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pada asalnya setiap anak berada pada fitrah Islam dan imannya; sampai kemudian ada pengaruh-pengaruh lingkungan luar, termasuk benar atau tidaknya orang tua memilihkan tontonan bagi mereka.

“Mendidik anak sedari kecil adalah ibarat mengukir di atas batu.”  Sabda Nabi SAW tersebut sangat tepat untuk menggambarkan pentingnya mendidik anak sedini mungkin dengan nilai-nilai islam, yang membutuhkan kesabaran karena harus terus mengulang-ulang konsep yang hendak ditanamkan. Ketika konsep misalkan menutup aurat, begitu konsep tersebut dimasukkan (bisa lewat media kartun atau cerita) maka ia akan tertancap dengan kuat sehingga sulit hilangnya seperti ukiran di atas batu.

BACA JUGA:  Wakaf dan Kapitalisme

Dan peran terpenting tentu saja negara. Negaralah yang punya kekuatan untuk membentengi seluruh warga negaranya dari hal-hal yang merusak akidah maupun perilakunya dengan memblokir situsnya atau menghentikan produksinya, serta memberikan hukuman ketika ada pelanggaran hukum yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Negara seharusnya memfasilitasi dan memberikan dukungan terhadap kartun atau tontonan yang mendidik dan menutup pintu- pintu maksiat yang datang dari tontonan buruk yang beredar.

“Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin mengemban kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Ini merupakan tanggung jawab dan amanah besar yang ia pegang sehingga akan terwujud pelaksanaannya dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang diterapkan.

Pemenuhan pendidikan akan nilai-nilai Islam bagi anak-anak menjadi suatu kebutuhan yang penting agar terbentuk pola berpikir yang Islam dan tingkah laku yang islami, sehingga dapat mewujudkan kepribadian Islam yang sempurna.

Semua komponen yang berperan dan bertanggung jawab ini akan bisa berjalan jika aturan yang digunakannya pun juga sama yaitu aturan yang berasal dari Allah Sang Pencipta manusia. Dialah yang mengetahui dengan pasti kebutuhan manusia.

Karena, ketika aturan diserahkan pada manusia akan menimbulkan kerusakan dan tentu manusianya sendiri yang akan merugi. Semoga hukum Allah segera tegak didunia ini sehingga akan mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan untuk seluruh umat manusia. []

Komentar

Berita lainnya