oleh

Peningkatan Covid-19 Secara Signifikan

Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS CoV-2 dengan gejala umum berupa gangguan pernapasan akut ringan dan berat termasuk batuk, demam, sesak napas, kelelahan, pilek, sakit tenggorokan dan diare. Kasus Covid-19 di seluruh dunia termasuk di Indonesia ini sangat menghebohkan publik dan menimbulkan ketakutan dari berbagai kalangan masyarakat.

Biasanya, penularan virus ini terjadi melalui cipratan droplet atau cairan pada tubuh yang terkena ke orang atau benda yang berjarak sekitar 1-2 meter. Covid-19 juga menyebar melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Dari sini, pengetahuan masyarakat berpengaruh besar terhadap perilaku pencegahan. Masa inkubasi penyakit ini adalah sekitar 7-14 hari.

Virus corona tidak hanya menyerang paru-paru dan saluran udara tetapi juga menginfeksi organ di dalam tubuh seperti jantung, hati, otak, ginjal, dan usus yang ditunjukkan oleh suatu penelitian. Temuan inilah yang menjadi alasan COVID-19 menimbulkan berbagai gejala bagi setiap orang seperti diare, gatal-gatal, pembekuan darah, serta gagal ginjal karena ditemukannya virus SARS-CoV-2 di banyak organ tubuh lainnya seperti pada usus, sel dalam tinja, faring, jantung, hati, otak, dan ginjal.

BACA JUGA:  Menilai Dampak Risiko Secara Kualitatif

Pada data yang dikemukakan oleh World Health Organization (WHO) dan Public Health Emergency Operating Center (PHEOC) di Kementrian Kesehatan tanggal 30 November 2020, terdapat total kasus terkonfirmasi COVID-19 di seluruh dunia sejumlah 62.363.527 kasus. Dari total kasus tersebut telah terkonfirmasi adanya 1.456.687 kematian pada tingkat global. Jumlah data tersebut ditemukan di 219 negara terjangkit dan 180 negara transmisi lokal. Data ini terus bertambah setiap harinya dimulai dari awal munculnya COVID-19 di China, Wuhan.

Pada negara berkembang seperti Austria dan Portugal telah berada pada gelombang ke-2 kasus COVID-19. Di Eropa, angka penderita COVID-19 terus mengalami peningkatan. Pada data bulan November akhir tahun 2020, Austria mencatat adanya 5,627 kasus terinfeksi yang dimana jumlah ini hampir mencapai puncak rumah sakit yang hanya mampu menampung 6.000 pasien. Begitu pun Portugal yang membuat kedua negara ini memberlakukan kebijakan lockdown. Kemudian untuk negara Indonesia, salah satu ahli Epidemiologi yaitu Juhaeri mengatakan bahwa incidence rate di Indonesia disimulasikan sama dengan di Amerika Serikat. Untuk mengatasi hal ini, Indonesia sudah beberapa kali memberlakukan kebijakan PSBB sedangkan AS tidak lagi mengendalikan COVID-19.

BACA JUGA:  Kemudahan Informasi dan Kecenderungan Mendiagnosa Diri Sendiri

Di Indonesia sendiri kasus COVID-19 pertama yang dilaporkan pada 2 Maret 2020 sebanyak 2 kasus terkonfirmasi COVID-19, kemudian pada 31 Maret didapat data kasus terkonfirmasi COVID-19 sebanyak 1.582 kasus dengan jumlah angka kematian sebanyak 136 jiwa. Hal ini membuktikan bahwa peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang pesat. Selain itu, telah tercatat jumlah kasus yang terkonfirmasi berdasarkan data surveilans di Indonesia pada 12 Juli sebanyak 75.699 kasus terkonfirmasi COVID-19 dengan jumlah kasus meninggal 3.606 jiwa dan jumlah kasus sembuh sebanyak 35.638 jiwa, hasil tersebut dihitung berdasarkan jumlah 34 provinsi dengan 460 kabupaten/kota di Indonesia.

Baru-baru ini telah terjadi peningkatan angka kasus terkonfirmasi di Indonesia yang diumumkan oleh Kementrian Kesehatan RI secara resmi terhitung dari 21 Januari 2020 hingga 2 Desember 2020 sebanyak 543.975 kasus terkonfirmasi COVID-19 dari 34 provinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus sembuh sebanyak 454.879 jiwa dan jumlah kasus meninggal sebanyak 17.081 jiwa. Dengan rincian jumlah kasus tertinggi terjadi di daerah DKI Jakarta sebanyak 137.919 kasus dan jumlah kasus terendah terjadi di daerah Bangka Belitung sebanyak 1.002 kasus terkonfirmasi COVID-19.

BACA JUGA:  Pentingnya Memahami Manajemen Risiko Bisnis di Era Revolusi Industri 4.0

Dalam rangka mengurangi peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi telah dilakukan beberapa cara penanggulangan dan pencegahan. Cara yang diterapkan dalam melakukan pencegahan infeksi COVID-19 adalah difokuskan pada memutus rantai penularan yang ada di masyarakat dengan menerapkan deteksi dini, isolasi mandiri, dan melakukan aktivitas berdasarkan protokol kesehatan. Pencegahan pada deteksi dini diperuntukkan bagi individu yang berisiko tinggi dan pernah berkontak langsung dengan pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 dan yang telah memenuhi kriteria suspek.

WHO telah menyarankan strategi yang dapat dilakukan oleh seluruh negara dalam mencegah penularan virus corona yaitu melakukan identifikasi kasus se dini mungkin, melakukan isolasi pada orang yang terinfeksi, terus menerus menggunakan masker kain dalam keadaan tertentu khusus nya jika berada di ruang publik maupun dan keramaian, menjaga jarak dan kontak fisik antar individu satu dengan yang lainnya, menerapkan protokol kesehatan berupa selalu mencuci tangan dan menghindari tempat-tempat yang ramai, dan melakukan disinfeksi pada lingkungan sekitar.

 

Nabila Putri Vinadi 
Sarah Cornelia Abigail 
FKM UI

Komentar

Berita lainnya