oleh

Menjadi Muslim Profesional

Oleh: Yusly Aenul Kamaliya, Mahasiswi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

Tuntutan menjadi seorang profesional merupakan hal yang sangat wajar. Hal ini bisa kita temukan dalam dunia kerja, kuliah dan masih banyak lagi. Hampir semua bidang memerlukan keprofesionalitasan. Profesionalisme bisa diartikan sebagai mutu atau kualitas yang di dalamnya terdapat tanggung jawab.

Profesional dalam pekerjaan biasanya diikat dengan aturan kantor atau atasan sebuah perusahaan. Sebagai pekerja kita dituntut untuk patuh pada aturan tersebut karena terdapat sanksi untuk pelanggarnya, entah itu teguran, potong gaji bahkan jika melanggar hal yang fatal bisa dikeluarkan dari pekerjaan tersebut. Dalam aturan tersebut, biasanya terdapat pula manajemen waktu pekerja, seperti dalam jam kerja pekerja dilarang menggunakannya selain untuk bekerja. Ketika melanggar aturan tersebut dengan kita malas-malasan atau main game pada jam kerja, tentu kita mendapatkan sanksi akibat hal itu. Namun sebelum melanggar aturan-aturan tersebut pasti kita terlebih dahulu mengetahui aturan yang berlaku sebelum kita bekerja sehingga kita dapat mematuhi aturan dan menghindari sanksi yang berlaku untuk menghasilkan pekerjaan yang maksimal atau dengan kata lain agar menjadi orang yang profesional.

BACA JUGA:  Literasi Pilihan Hidup

Seperti halnya dalam dunia kerja, ketika kuliah pun kita dituntut demikian. Saat kita mengikuti sebuah mata kuliah, pada masa awal perkuliahan pasti dikenalkan terlebih dahulu aturan dan ketentuan ketika mengikuti mata kuliah tersebut, misalnya aturan kehadiran dalam kelas, presentasi, tugas dan sebagainya. Ketika melanggar, kita akan menghadapi hal-hal yang merugikan kita sendiri, seperti nilai dikurangi dan bahkan hingga tidak diluluskan pada mata kuliah tersebut.

BACA JUGA:  Darurat Guru, Kok Bisa?

Kedua penggambaran tersebut sepertinya sudah cukup jelas untuk menjelaskan mengenai keharusan untuk menjadi profesional. Kemudian kita akan membahas mengenai Muslimah profesional. Sebagai Muslim terlebih dahulu harus menyadari kewajiban kita, yakni beribadah dengan taat kepada Allah SWT. Beribadah di sini bukan hanya shalat lima waktu, puasa dan ibadah madhah lainnya tapi juga ibadah muamalah.

Status Muslim tidak hanya dimunculkan ketika beribadah kepada Allah atas hubungan kita dengan Allah (hablum min allah) saja, melainkan juga harus kita munculkan dalam hubungan antar manusia dan alam (hablum min annas dan hamblum minal alam). Dalam ketiga ikatan tersebut sebagai Muslim mempunyai keharusan menjaga semuanya dengan aturan yang diberikan Allah SWT melalui Al-Quran dan As-Sunnah. Tentunya dengan imbalan bukan berupa gaji dan nilai semata, melainkan Surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi. Jika kita mengabaikan aturan tersebut, tentunya ada pembalasan terhadapnya.

BACA JUGA:  Hukuman Tak Buat Jera, Pelaku Asusila Merajalela

Namun ketika terlanjur melakukan kesalahan besar jangan berputus asa karena Allah-lah yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Allah sudah membekali kita dengan akal dan potensi, tinggal kita sebagai manusia menggunakannya sebaik mungkin dengan menjadi Muslim profesional.[]

Penulis: Yusly Aenul Kamaliya
Mahasiswi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

Komentar

Berita lainnya