oleh

Konspirasi Musuh Islam Dalam Tantangan Dakwah Para Muslimah

Memang hidup ini tidak lebih sebagai kompetisi. kompetisi yang tiada henti. dengan kompetisi, memungkinkan seseorang teruji optimalisasi potensinya, kemanfaatannya yang lebih banyak dan sekaligus siapa yang akan keluar menjadi yang terbaik amalannya. inilah yang membuat seorang nenek tua pernah menolak jaminan kebutuhan hidup dari Umar bin Khathtab “Sudah ada yang menjamin kebutuhanku” katanya.

Dilihat keesokkan harinya Abu Bakar memanggul sekarung beras menuju rumah nenek tua itu. Umar pun tersadar, lalu menjadikan Abu Bakar sebagai kompetitor dalam beramal dan berkorban. kita bisa belajar dari mereka, belajar iri hati dalam melihat amal orang lain. Demikian pula dalam berdakwah. Dakwah memang tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan kita. Ia adalah bagian dari kehidupan kita. Apapun yang kita jalani dan dihadapi dalam hidup ini merupakan bagian dari jalan-jalan dakwah yang harus dijalani.

BACA JUGA:  Pergaulan Remaja yang Baik Menurut Al-Quran dan Sunnah

Adapun tantangan kita dalam berdakwah. Ini suatu tantangan buat muslimah yang berkenaan sebagai pelaku dakwah dengan dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya, baik keluarga, suami, anak, maupun masyarakat sekitar. seorang muslimah tidak hanya sebagai pengemban dakwah, namun juga berperan sebagai istri untuk suaminya, ibu bagi anaknya dan anak yang wajib taat kepada orang tuanya. sebesar apapun amanah di luar rumah, tak bisa dipungkiri bahwa seorang muslimah juga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar, yakni menyiapkan generasi muhajid dari dalam rumahnya. sungguh luar biasa tanggung jawab tersebut. Tatkala mereka melakukan semua itu dengan ikhlas dan lapang dada, ia sesungguhnya sedang menjemput surga.

Adapun konspirasi musuh islam dalam tantangan dakwah para muslimah. Sungguh para musuh islam telah memperdaya kaum muslimah dengan propaganda emansipasi wanita dan keadilan gender. Untuk memudarkan nilai-nilai islam dari diri muslimah dengan digunakan label-label canggih seperti globalisasi dan modernisasi.

BACA JUGA:  Membuat Sedekah Menjadi Hobi

Mereka menyandingkan gaya hidup materialis barat kepada para muslimah. Ditawarkanlah iming-iming kebebasan dari tekanan dan kekangan aturan. ditanamkan keraguan atas nilai-nilai islam sembari menanamkan ideologi materialisime, hedonisme, sekularisme dan westernisasi. setelah ditanamkan mereka pun menjauhkan para muslimah dari Islam.

Salah satu pesan seseorang misionaris “Seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya, baik dari tingkah laku, perbuatan maupun ucapan untuk anak yang berusia sampai sepuluh tahun merupakan aktivitas yang sangat penting. wanita adalah unsur pertama yang membentengi akidah islam. oleh karena itu, ikatan misionaris hendaknya memberikan perhatian khusus kepada kegiatan para muslimah, mengingat mereka merupakan sarana penting untuk mempercepat program kristenisasi di negara-negara islam.”

Disinilah arti penting dakwah muslimah. bukankah wanita itu tiang negara? apabila wanita dirusak, maka rusak pula negara tersebut? kerusakan itu dimulai dengan kerusakan pribadi para pemudi, kemudian kerusakan keluarga hingga akhirnya menjalar pada kerusakan masyarakat dan negara. urutan kerusakan demikian ternyata telah dipikirkan pula oleh musuh-musuh islam.

BACA JUGA:  Cara Bersuci Ketika Selesai Operasi

Tidak seperti yang dituduhkan oleh musuh-musuh Islam, ajaran Islam memperlakukan perempuan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Di sisi lain,  Islam juga menyamakan laki-laki dan perempuan dalam pelaksanaan syariat dan pahalanya. Islam juga mengatur sesuatu yang menjadi hak pribadi perempuan dan tidak ada sangkut pautnya dengan laki-laki.

Demikianlah, betapa ajaran Islam bersungguh-sungguh menjaga kehormatan dan derajat kaum perempuan. kita bisa lihat dalam lintasan sejarah peradaban manusia bahwa islamlah yang telah terbukti mampu memosisikan perempuan dengan adil dan terhormat. tanpa harus merendahkan derajat kaum laki-laki atau sebaliknya.

Safira

Komentar

Berita lainnya