oleh

Kemudahan Informasi dan Kecenderungan Mendiagnosa Diri Sendiri

Perkembangan informasi pada abad ini bisa dibilang sangat pesat, kini dengan perkembangan iptek, informasi yang diterima oleh manusia sangatlah beragam dan cepat. Melalui jaringan internet, manusia bisa mendapatkan segala macam bentuk informasi mulai dari gaya hidup, hobi, hingga bahkan informasi tentang kesehatan terutama mengenai kesehatan diri sendiri maupun berbagai macam penyakit yang ada dalam masyarakat. Pesatnya perkembangan teknologi yang dibarengi semakin terbukanya akses informasi kini semakin mudah untuk diakses. Masyarakat kini tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan akses informasi yang dibutuhkan, masyarakat dapat memanfaatkan gawai yang mereka punya untuk mengakses segala informasi yang dibutuhkan.

Kebutuhan mengenai informasi yang akurat, tepat dan juga terkini semakin dibutuhkan dengan semakin meningkatnya perkembangan teknologi informasi. Hal tersebut kemudian membuat masyarakat dan juga instansi berupaya untuk memanfaatkan perkembangan informasi tersebut melalui penyebaran informasi tersebut. Informasi yang beragam terlepas dari sifatnya yang dapat bernilai positif atau negatif akan mempengaruhi timbulnya suatu masalah, khususnya masalah kesehatan. Informasi yang mengangkat permasalahan kesehatan menjadi salah satu informasi yang paling dicari karena dianggap menjadi sebuah informasi yang sangat penting terutama bagi kehidupan seseorang.

Seringkali yang terjadi, ketika seseorang mendapatkan sebuah informasi, seseorang tersebut langsung membuat pengertian secara mandiri melalui fakta-fakta yang ada disekitarnya. Tentunya pengartian yang dilakukan tanpa adanya informasi yang lebi spesifik dari fokter, pasien tentunya tidak tahu bagaimana menilai gejala yang mereka alami (Kim & Kim, 2009). Akses yang bebas terhadap kesehatan dapat diartikan dalam akses yang positif maupun negatif dalam pemanfaatannya. Hal ini tergantung kepada para pengakses informasi tersebut. Kebutuhan akan akses mengenai kesehatan kemudian berkembang sangat pesat dan menjadikan informasi tentang kesehatan sebagai salah satu informasi penting dalam kehidupan. Akan tetapi, penggunaan informasi tentang kesehatan seringkali hanya berputar pada sekedar informasi saja, penerapan dalam kehidupan sehari-hari terkadang seringkali dilupakan.

BACA JUGA:  Mengelola Stres Saat Pendidikan Jarak Jauh 

Informasi yang didapatkan melalui internet seringkali hanya berupa informasi secara umum. Sedangkan seorang pasien harusnya memerlukan seorang dokter untuk memberikan diagnosis yang tepat mengenai gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien tersebut. Mendiagnosis diri sendiri yang dilakukan oleh diri sendiri merupakan hal yang sangat riskan terutama ketika kita tidak mengetahui lebih tepat tentang gejala apa yang kita alami (White & Horvitz, 2009). Sedangkan informasi yang beredar di internet terutama tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Kemudahan informasi yang didapat memang memberikan sisi positif terhadap masyarakat, akses informasi mengenai kesehatan kini dapat diakses di berbagai tempat, akan tetapi perlunya edukasi lebih lanjut terhadap informasi kesehatan yang diberikan memang sangat diperlukan. Terutama mengenai diagnosis terhadap suatu gejala yang sedang dialami, hendaknya diperlukan diagnosis lebih lanjut oleh dokter.

BACA JUGA:  Manajemen Risiko Abu-abu, Korupsi Terus Merajalela

Dokter melalui ilmu yang dimilikinya bisa meluruskan hal-hal yang tidak benar dalam informasi tersebut. Dokter meluruskan informasi mengenai penyakit berdasarkan ilmu yang didapatkannya selama masa pendidikan berbeda dengan orang awam yang tidak mendapatkan mengenai hal tersebut. Bisa saja informasi tersebut dibuat oleh suatu kelompok tertentu untuk menciptakan kebingungan di masyarakat. Di era sekarang banyak sekali berita kebohongan atau hoaks yang muncul di masyarakat. Masyarakat perlu diarahkan untuk membaca informasi kesehatan di laman-laman yang kredibel atau dapat dipertanggungjwabkan kebenarannya. Oleh karena itu, peran dokter dalam meluruskan kesalahan informasi terutama penyakit sangat penting.

Dalam mengatasi Self-Diganosis yang seringkali terjadi harusnya diberikan penyaringan informasi mengenai apa yang harus diketahui dan informasi apa yang tidak boleh diperoleh secara semberangan. Selain itu pentingnya edukasi kesehatan bagi masyarakat terutama disasarkan untuk memilah informasi yang benar tentang kesehatan, pengenalan edukasi terutama pentingnya konsultasi terhadap dokter adalah yang terpenting. Menghindari adanya Self-Diagnosis yang nanti akan memperparah gejala yang dialami harus lebih ditekankan.

BACA JUGA:  Jadi Sekolah Gimana, Tetap Belajar Jarak Jauh Atau Tatap Muka?

Selain itu, tidak gampang mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan informasi yang diterima melalui internet pun harusnya tidak dilakukan. Perlu adanya penekanan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga ahli terutama dokter. Self-Diagnosis sangatlah berbahaya, karena informasi yang didapat belum jelas sumbernya darimana dan apakah informasi tersebut benar. Apalagi diagnosis yang terkesan terburu-buru tersebut hanya memperparah gejala yang dirasakan karena ketidakjelasan informasi dan kurangnya informasi dari tenaga ahli. Hendaknya masyarakat mendapatkan edukasi lebih masif mengenai informasi-informasi mengenai kesehatan yang tersebar luas di internet. Karena dapat membuat kebingungan informasi yang didapat dan hanya menimbulkan kepanikan di masyarakat.

Yasmin Hanani Reza, FKM UI

 

Referensi:
Akbar, Muhammad Faris. 2019. “Analisis Pasien Self-diagnosis Berdasarkan Internet Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama.” 1-7. http://doi:10.31227/osf.io/6xuns.
Kim, Jeongeun, & Kim, Sukwha. 2009. “Physicians’ Percepriton of The Effects of Internet Health Information on The Doctor-Patient Relationship” Informatics for Health & Social Cure, 34 (3): 136-148.
Leonita, Emy. dan Jalinus, Nizwardi. 2018. “Peran Media Sosial dalam Upaya Promosi Kesehatan: Tinjauan Literatur.” Invotek 18 (2): 25-34. https://doi.org/10.1080/17538150903102422
White, Ryen W. & Horvitz, Eric. 2009. “Cyberchondria: Studies of the Escalation of Medical Concerns in Web Search” 27 (4): 1-37. http://doi.acm.org/10.1145/1629096.1629101

Komentar

Berita lainnya