oleh

Fitrah : Antara Naluri Dengan Wahyu

Fitrah adalah konsep dasar manusia dalam Islam. Secara umum ia mengandung arti penciptaan asli dan identitas esensial manusia. Dengan fitrah manusia menjadi dirinya sendiri sebagai manusia sejak awal kejadiannya sampai akhir hayatnya. Fitrah bukan hanya suatu kecenderungan alamiah, tetapi juga suatu kecenderungan kepada tindakan yang benar dan ketaatan kepada Allah SWT. Ia juga berarti kekuatan terpendam yang ada dalam diri manusia, yang telah dibawanya semenjak lahir; dan akan menjadi pendorong bagi kepribadiannya. Dengan fitrah, manusia bukan hanya memiliki kecenderungan untuk berketuhanan, tapi juga menghadirkan Tuhan dalam segala bentuk tindakan hidupnya.

Kata fitrah dan semua akar katanya disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 20 kali. Masing-masing ayat memuat tema fitrah memiliki bentuk, kategori, subjek, objek, aspek, dan makna tersendiri. Subjek fitrah adalah Allah, karena dia “Dzat al-Fâthir” (Zat Maha Pencipta dari permulaan, yaitu sejak awal tanpa ada contohnya). Sedangkan objeknya ada tiga, yaitu: 1) manusia, 2) langit, dan 3) langit-bumi.

BACA JUGA:  Memahami dan Mempelajari Ilmu Tajwid

Adapun fitrah dalam arti “penanaman agama ke dalam diri manusia” memiliki dua fase, sebelum kelahiran dan ketika manusia lahir. Fase sebelum kelahiran terjadi pada saat manusia masih berbentuk roh seperti yang terdapat dalam surah al-‘Araf ayat 172, yang artinya:

 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Al-Wahidi menafsirkan ayat ini yang intinya menyatakan bahwa pada zaman pra kelahiran, manusia sudah ditanyai dan disumpah mengenai siapa Tuhan mereka. Hal tersebut menjadi sebuah ikrâr rubûbiyyah yang disaksikan oleh para malaikat. Hal inilah yang disebut Yasien Mohamed dengan original purity atau original faith, sebagai kesucian asli dan kepercayaan asli manusia. Sedangkan fase ketika manusia lahir disebut berada dalam keadaan fitrah, karena masih terikat oleh janji sebelumnya dan belum melakukan pengingkaran. Baru setelahnya, ada peran lingkungan yang memengaruhi manusia dalam hal keimanan kepada Tuhan.

BACA JUGA:  Pergaulan Remaja yang Baik Menurut Al-Quran dan Sunnah

Kehidupan dan perilaku manusia tidaklah bebas. Ia terikat oleh perjanjian pra kelahiran yang menjadi bawaan bawah sadar manusia akan keberadaan Tuhan, dan kecenderungan manusia akan Islam menjadi kebutuhan pokok bagi manusia. Sehingga perilaku dan kejiwaan manusia mau tidak mau bergantung kepada Allah. Fitrah manusia bersifat umum dan menyeluruh. Ia merupakan sifat yang menyifati segala yang ada. Eksistensinya menjadi dan mengetahui dengan sendirinya. Ia layaknya kesadaran manusia tanpa perlu diusahakan dan dicari, dan menuntun manusia untuk hidup dan menjalani kehidupan “bagaimana seharusnya”, bukan hanya sekadar membiarkan manusia hidup “apa adanya”.

Walaupun terlihat mirip, makna fitrah masih bisa dibedakan dengan kata insting (gharîzah) ataupun alami (thabî’ah). Kata insting lebih condong digunakan untuk hewan karena mereka bergerak dan berperilaku tanpa dasar akal, dan kata alami lebih cocok digunakan untuk benda-benda alam seperti tumbuh-tumbuhan. Maka, fitrah merasuk ke dalam segala segi kehidupan manusia termasuk etika, psikologis, dan bahkan teologi.

BACA JUGA:  Cara Bersuci Ketika Selesai Operasi

Jika dilihat dari substansinya, fitrah manusia dapat diklasifikasikan sebagai dua cara untuk mengenal Tuhan, yaitu: 1) fitrah sebagai naluri, sifat, dan pembawaan asli manusia untuk mengenal Tuhan dan 2) fitrah sebagai wahyu dari Tuhan yang diturunkan melalui para nabiNya. Jadi, potensi fitrah manusia dan agama merupakan dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Karena fitrah sudah dimasukkan dalam jiwa manusia dan kalimat tauhid dalam arti pengakuan akan Allah SWT sebagai Pencipta, maka kedatangan para nabi tidak lebih dari sekadar pengingat (mudzakkir) manusia kepada fitrahnya dan membimbing mereka untuk menyelami dan memahami dirinya sendiri.

Safira

Komentar

Berita lainnya