oleh

#DiRumahAja dan Kesehatan Mental Masyarakat

Aldean Nadhyia — Cut Nikita Azkiya

Jelang akhir tahun 2020, kasus Covid-19 di Indonesia justru kian meningkat tajam per harinya. Tahun ini pun berlalu begitu cepat akibat keterlibatan protokol kesehatan dan stay-at-home yang harus dipatuhi masyarakat. Sayangnya, dari sekitar 268 juta warga Indonesia, ada kurang lebih 719 ribu jiwa telah terpapar oleh virus corona. Tak sedikit masyarakat yang merasa kebingungan, karena meski telah mengikuti imbauan pemerintah, kasus positif Covid-19 di Indonesia selalu mengalami kenaikan tidak signifikan. Karena itulah, sejak bulan Maret lalu, hampir semua kegiatan dilakukan secara virtual (online). Sayangnya, berdiam diri di rumah dan dihadapkan dengan situasi pandemi yang membatasi jangkauan publik membuat masyarakat jadi rentan terhadap stres.

Penyebab Stres #DiRumahAja

Persebaran informasi selama pandemi ini sangatlah luas dan liar. Penggunaan sosial media yang jauh lebih intens dari biasanya menyebabkan banyak isu dan kabar beredar lebih cepat di dunia maya. Tapi bukan berarti semua informasi yang tersaji di internet dapat diverifikasi kebenarannya. Berita-berita dengan topik mencekam seperti “bagaimana pemerintah mengatasi Covid-19 di Indonesia”, “pengesahan RUU Omnibus Law”, “kenaikan jumlah kasus positif corona di seluruh dunia” berhasil menjadi pemicu stres terbaik untuk masyarakat kita selama pandemi. Tak ayal, stres, kecemasan tak wajar, dan depresi dapat muncul.

BACA JUGA:  Berorganisasi untuk Menghadapi Risiko

Kampanye #DiRumahAja juga berarti masyarakat harus membatasi diri untuk tidak menyapa orang lain di ruang publik seperti biasanya. Masyarakat Indonesia sendiri dikenal memiliki anakronisme sosio-kultural, yang ditandai dengan budaya komunitarian-komunalistik (suka nongkrong, bergerombol) dalam jaringan unit sosial. Ikatan sosiologis yang kuat muncul lewat kerja sama sebagai wujud kepedulian dan empati terhadap sesama, biasanya melalui sentuhan fisik seperti berjabat tangan, berpelukan, mencium pipi, dan sebagainya. Tentu ada perasaan aneh, canggung, dan tidak biasa ketika harus mengabaikan “ritual sosial” serasa rutinitas ini karena pandemi. Muncul rasa “kurang” ketika masyarakat terpaksa meninggalkan kebiasaan sosial tersebut karena ada kontradiksi kognitif antara alasan kesehatan dan pemikiran komunitarian.

Akibat Stres

Sebuah penelitian dari Carnegie Mellon membuktikan bagaimana stres dan dukungan sosial memengaruhi kekebalan dan kerentanan terhadap penyakit menular. Peserta yang terpapar virus flu biasa kemudian dipantau di karantina untuk menilai tanda-tanda penyakit. Akhirnya, hasil menunjukkan bahwa mereka yang merasa didukung secara sosial dan lebih sering dipeluk tidak mengalami gejala penyakit yang tidak terlalu parah. Sayangnya, penelitian ini tidak bisa diaplikasikan pada saat pandemi karena sentuhan fisik sangat dibatasi.

BACA JUGA:  Menilai Dampak Risiko Secara Kualitatif

Stres, kecemasan, ketakutan, kemarahan, depresi, dan keinginan bunuh diri tampaknya marak muncul di tengah pandemi. Akibat Covid-19, kasus bunuh diri di Jepang mengalami peningkatan. Perbandingan kasus bunuh diri antara laki-laki dan perempuan pun berubah, di mana pada masa pandemi, kasus bunuh diri perempuan melonjak naik. Pendiri layanan konseling online, Koki Ozora, mengungkapkan hal ini karena perempuan jadi kehilangan pekerjaan dan tidak tahu bagaimana menghidupi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Sejalan dengan pernyataan Ozora, survei yang dilakukan oleh Profesor Michiko Ueda dari Universitas Waseda Tokyo mengungkapkan ada sepertiga wanita di bawah 40 tahun melaporkan kehilangan pekerjaan. Pendapatan mereka turun signifikan, dibanding 18 persen dari rekan pria mereka. Tak hanya itu, serentetan bunuh diri selebriti di tahun ini pun telah memperburuk lonjakan kematian yang diakibatkan oleh diri sendiri di kalangan wanita. Penelitiannya menunjukkan bahwa pada hari bunuh diri selebriti menjadi berita, kematian yang dilakukan sendiri melonjak sebanyak 6%. Efeknya dapat bertahan selama berhari-hari.

BACA JUGA:  Perlukah Pembelajaran Tatap Muka Dilaksanakan di Masa Pandemi?

Penanganan Stres dalam Pandemi

Jika stres dan depresi tidak ditangani dengan baik, seseorang dapat melakukan hal-hal buruk bagi dirinya sendiri bahkan melakukan tindakan bunuh diri. Terlebih lagi tingkat stres dan depresi mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rinaldi dan Yuniasanti dalam buku COVID-19 dalam Berbagai Perspektif, masyarakat dapat mencoba beberapa cara untuk mengatasi kecemasan di kala pandemi, seperti: (1) Mengakses informasi yang terpercaya atau dari sumber resmi, (2) mengatur perspektif, selalu memandang sesuatu melalui berbagai sudut pandang, (3) Praktik self care atau merawat kesejahteraan diri sendiri, hal ini dapat dilakukan dengan melakukan aktivitas yang disukai, beristirahat cukup, beraktivitas fisik, dan mengatur pola makan, (4) Mencoba peka terhadap kondisi psikologis diri dan melakukan praktik relaksasi jika diperlukan, apabila butuh bantuan segera mencari pertolongan ahli.

Komentar

Berita lainnya