oleh

Bimbingan Syariat dalam Menangkal Berita Hoaks

Mungkin sepuluh tahun lalu, kita masih mengandalkan membaca koran, mendengar radio atau menonton televisi untuk mendapatkan informasi, itupun bersifat satu arah dan terbatas. Berbeda pada masa ini di mana arus informasi demikan mudah dan cepatnya untuk diakses. Semua bisa membagikan informasi hanya dengan jari-jemarinya, seringkali seseorang langsung menyebarkan informasi yang ia dapatkan tanpa tahu benar dan tidaknya. Akibatnya, terjadilah kekacauan, provokasi atau kebencian di masyarakat hanya karena sebuah berita bohong. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 74)

Fenomena berita bohong atau hoaks saat ini marak terjadi di negeri kita tercinta, terutama saat teknologi semakin maju seperti saat ini. Teknologi yang semakin canggih memang sangat memudahkan kita dalam mencari informasi yang berguna dan bermanfaat bagi kita. Namun, disisi lain kemudahaan ini banyak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan informasi yang tidak baik.

Dalam ilmu jurnalistik sendiri untuk menilai sebuah berita benar atau tidak yang pertama dilakukan adalah cross check (meninjau ulang). Dan ini selaras dengan ajaran islam atau yang lebih dikenal dengan istilah Tabayyun. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Ayat ini harus betul-betul harus kita perhatikan. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memeriksa suatu berita dengan teliti sebelum kita sebarkan, yakni dengan mencari bukti-bukti kebenaran berita tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan menelusuri sumber berita, atau bertanya kepada orang yang lebih mengetahui hal itu.

Setelah mengecek kebenarannya, kita perlu memikirkan matang-matang manfaat dan mudharatnya. Di Khawatirkan berita benar yang kita sebarkan justru membuat perpecahan dan kegaduhan di tengah manusia. Oleh sebab itu kita harus selektif, tidak bisa semua berita benar yang kita dengar langsung kita sebarkan begitu saja. Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia menyebarkan semua yang didengar.” (HR. Muslim no.7)

Oleh sebab itu, sikapilah berita yang tersebar di berbagai media yang ada dengan cermat dan tepat. Agar tidak menimbulkan keburukan yang tidak kita inginkan. (Farhan Ar’Rayyan)