oleh

Sarjana Ditengah Pandemi, Bagaimana Peluang Kerjanya?

Oleh : Isma Hijriyah Priyani, Mahasiswi STEI SEBI

Terhitung sejak World Health Organization (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global pada Kamis, 12 Maret 2020 tidak hanya kesehatan yang menjadi objek terdampak tetapi juga pada sektor pendidikan, pariwisata, hingga puncaknya adalah pada sektor perekonomian.

Banyaknya pekerja yang turut tertular Covid-19 menyebabkan proses produksi pada pabrik dihentikan sementara untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Terlebih lagi banyaknya perusahaan yang mengurangi produksi barang menyebabkan beberapa pekerja harus merasakan dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Terhitung sejak 07 Oktober 2020 terdapat 35% pekerja di Indonesia yang terkena dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara permanen. Provinsi Bali menjadi urutan pertama yang menerima dampak pengangguran akibat pandemi Covid-19 yakni sebesar 79%, urutan kedua ditempati oleh provinsi Jawa Barat yang menerima dampak sebesar 61%. Hal ini menimbulkan keresahan yang berarti bagi seluruh lapisan masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan nasib para sarjana?

Bagaimana peluang kerja mereka

Adakah solusi konkrit yang dapat dilakukan?

Menjadi sarjana ditengah kondisi pandemi memang bukanlah hal yang sangat menyenangkan. Terlebih banyaknya pekerja yang di PHK menyebabkan peluang kerja semakin sempit, sementara kebutuhan hidup terus mencekik. Jika pun ada, akan sangat memakan seleksi yang sangat ketat dan potensi untuk diterima sangatlah kecil. Maka, disinilah para sarjana harus berfikir mengenai solusi yang mampu menggerakkan roda kehidupan.

BACA JUGA:  Dilarang Banyak Pikir Banyak Omong, Kenapa?

Salah satu solusi konkret yang dapat dilakukan adalah dengan memulai bisnis mandiri.

Mustahil? Memang. Jika dipikir-pikir, memulai bisnis saat pandemi seperti menjatuhkan diri kedalam kawah berapi. Masyarakat berbondong-bondong memulai hidup hemat, para pelaku bisnis malah membuat sebuah produk yang membuat kantung semakin serat.

Pada dasarnya memang sangat riskan memulai bisnis saat pandemi. Dimulai dari sedikitnya investor yang akan datang, modal yang tersendat, inovasi yang mampet, serta strategi pemasaran yang kurang update. Maka, disinilah peran sarjana dibutuhkan, yaitu bagaimana mampunya mereka untuk melihat sebuah peluang.

Diantara bisnis yang dapat dilakukan pada saat pandemi adalah pada sektor kesehatan, mulai dari menyediakan masker kain atau bahkan membuat jamu yang dikemas dengan model kekinian. Dari sektor pangan kita bisa melihat bahwa pada saat pandemi ini, masyarakat berbondong-bondong memulai gerakan gaya hidup sehat, maka disinilah letak peluang tersebut. Yakni dengan membuat makanan yang sehat, segar, dan tidak mengandung banyak kolesterol. Atau dalam sektor lain, yakni jasa. Seperti jasa pengantaran, jasa pembuatan, ataupun pada jasa pembetulan. Namun, satu hal yang perlu disadari ketika memulai bisnis adalah sadari adanya “Risiko”.

Terjun kedalam dunia bisnis tentunya tidak terlepas dari segala risiko yang akan dihadapi. Terlebih dalam kondisi pandemi yang sebagian besar masyarakat kondisi keuangannya sedang dalam masa penurunan. Dalam pengertiannya, risiko secara bahasa diambil dari bahasa Italia “Risco/Riscio/Riscare” yang berarti “Bahaya”. Sedangkan menurut KBBI Risiko memiliki arti akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.

BACA JUGA:  Serial Kartun Nussa Berhenti Produksi, Jutaan Anak Kehilangan Film Islami

Dalam setiap lini kehidupan risiko merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Hal ini bergantung pula pada bagaimana akhirnya risiko tersebut dihadapi dan solusi untuk menanggulanginya. Dalam dunia bisnis, risiko yang biasanya dihadapi adalah adanya penolakan dari pelanggan terkait produk atau jasa yang ditawarkan, minimnya modal yang tersedia, naiknya harga bahan pokok, strategi pemasaran yang kalah dari pesaing, hingga kepada kasus kerugian dan penipuan.

Selain dari masalah finansial dan pemasaran, risiko pada bisnis juga berdekatan dengan operasional. Ketika mesin produksi mengalami kerusakan, karyawan yang tidak bekerja sesuai dengan porsinya, kurangnya pemahaman yang diberikan perusahaan untuk karyawan, dan lain sebagainya yang dapat mengganggu aktivitas produksi.

Disinilah pentingnya para pelaku usaha melakukan dan mempelajari manajemen risiko, agar ketika nantinya kejadian yang sama terulang kembali, perusahaan telah memiliki kendali untuk menyelesaikannya. Bicara tentang risiko dalam bisnis tidak hanya tentang kerugian yang akan dihadapi tetapi akan beriringan pula dengan keuntungan yang akan diterima. Sebagaimana layaknya investasi yang diliputi keuntungan dan kerugian dalam bisnis pun berlaku pola yang sama.

BACA JUGA:  Wakaf dan Kapitalisme

Manajemen risiko tersebut bisa dilakukan dengan membentuk sebuah tim yang berfokus pada pengelolaan risiko ataupun dengan melakukan identifikasi dan berasumsi seluas-luasnya tentang suatu hal yang kemungkinan akan terjadi dimasa depan.

Lalu bagaimana jika perusahaan menghadapi hal seperti itu?

Dalam hal finansial, perusahaan dapat melakukan pengecekan ulang terhadap arus kas perusahaan dan kendali terhadap keuangan perusahaan. Masalah finansial menjadi hal yang sangat disorot bagi perusahaan. Karena bagian ini yang akan menentukan bagaimana perjalanan perusahaan berjalan dengan sehat atau tidak. Kemudian untuk permasalahan karyawan, perusahaan diharapkan mampu selektif kembali dalam proses perekrutan karyawan. Agar nantinya karyawan yang dipekerjakan memang sesuai porsi dan memiliki kualitas yang memadai, yang setelahnya dapat dilakukan pelatihan agar karyawan semakin mumpuni pada bidangnya. Untuk masalah operasional, perusahaan diharapkan mampu merekrut karyawan yang memiliki keahlian soal mesin, atau perusahaan dapat melakukan pelatihan kepada karyawan yang memiliki tanggung jawab atas mesin tersebut. Sehingga nantinya karyawan tersebut tidak hanya mampu mengoperasikannya tapi juga mampu mengenal lebih dalam tentang mesin tersebut.

Begitu pentingnya manajemen risiko dalam perusahaan. Terlebih lagi terkait bisnis yang tidak mungkin tidak memiliki risiko. Sehingga diharapkan bagi para pelaku usaha baik yang sudah berpengalaman ataupun pemula dapat menerapkan manajemen risiko pada perusahaannya.

Komentar

Berita lainnya