oleh

Resolusi Tahun Baru Tidak Usah Muluk-Muluk

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Tiap tahun baru datang, banyak orang bikin resolusi. Sebut saja resolusi tahun baru. Jadi, resolusi bolehlah disebut “janji-janji”. Tentang apa yang akan dipenuhi atau ditargetkan pada tahun yang akan datang.

Konon, resolusi itu awal mulanya bukan janji kepada dewa atau alam. Tapi entah gimana, akhirnya banyak orang bikin resolusi hanya untuk diri sendiri. Mungkin, sebagai spirit peningkatan diri. Untuk lebih baik dari sebelumnya. Dan itu sah-sah saja. Tapi sayang, menurut penelitian terbaru. Ada 45 persen orang yang terbiasa membuat resolusi tiap tahun baru. Tapi hanya 8 persen yang berhasil mencapai tujuannya.

Begini sejarah tentang resolusi tahun baru. Dulu, orang Babilonia kuno, sekitar 4.000 tahun yang lalu yang memulai bikin resolusi untuk menghormati tahun baru. Sebagai sikap kesetiaan mereka kepada raja yang berkuasa. Maka mereka pun berjanji kepada para dewa untuk membayar utangnya dan mengembalikan benda apa pun yang mereka pinjam. Jika orang Babilonia menepati janjinya, para dewa dianggap akan memberikan kebaikan kepada mereka untuk tahun yang akan datang. Intinya, resolusi tahun baru sejatinya bukan budaya Indonesia. Tapi bila ditafsir sebagai rencana baik, ya tentu sah-sah saja dan boleh. Terserah masing-masing.

BACA JUGA:  Wakaf dan Kapitalisme

Lalu, apakah resolusi tahun baru masih diperlukan?

Dalam konteks literasi, bisa boleh bisa tidak. Bila niatnya positif, silakan saaj bikin resolusi. Tapi bila hanya menegaskan mimpi yang sulit dicapai ya buat apa bikin resolusi. Maka resolusi apapun, bidang apapun harusnya tidak usah muluk-muluk. Harus realistis dan memiliki potensi besar untuk bisa diraih.

BACA JUGA:  Serial Kartun Nussa Berhenti Produksi, Jutaan Anak Kehilangan Film Islami

Resolusi yang membumi, yang bisa diraih oleh siapapun secara individu. Resolusi yang sederhana tapi bisa menjadikan diri sendiri lebih baik dari tahun sebelumnya. Misalnya, gunakan media social untuk hal yang positif bukan untuk nyinyir atau menebar prasangka kepada orang lain. Atau berhentilah memaksa diri sendiri untuk jadi orang lain, tampil apa adanya bukan ada apanya. Jauhi utang dan perilaku konsumtif yang membebani. Bila perlu, cobalah untuk lebih banyak bersedekah daripada meminta. Sehingga hidup bisa berubah jadi lebih baik karena perilaku diri kita sendiri. Dan yang tidak kalah penting, cobalah di tahun baru 2021 lebih banyak membaca buku bukan jago main di medsos atau ngomongin orang.

BACA JUGA:  Dilarang Banyak Pikir Banyak Omong, Kenapa?

Nah khusus di taman bacaan. Resolusi tahun baru itu sangat sederhana. Yaitu 1) hindari banyak buku tapi tidak ada anak, 2) jauhi banyak anak tapi tidka ada buku, dan 3) jadilah pengelola taman bacaan yang penuh komitmen dan konsistensi, bukan setengah hati. Agar taman bacaan bisa dikelola dengan baik dalam kondisi apapun. Karena hari ini, banyak taman bacaan terkesan “mati suri”.

Maka resolusi tahun baru pun dapat disebut literasi. Bila tujuannya untuk memperkuat harapan yang lebih realistis. Bukan malah memperbesar keputus-asaan.

Komentar

Berita lainnya