oleh

Perzinaan Kerap Terjadi, Islam jadi Solusi!

Betapa mengejutkan ketika saya baca berita CirebonRaya.com, Rabu (23/12/20) dengan judul ‘Ini Abnormal…93,7 Persen Siswi SMP dan SMA di Kota Depok Sudah tidak Perawan’. Waw, angka yang sangat fantasik sekali, membuat merinding sekujur tubuhku.

Ternyata, beberapa media pun memberitakan hal yang sama. Salah satunya viva.co.id , Rabu (23/12/20), berdasarkan hasil suvei sejak lima tahun lalu yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengungkapkan 93,7 persen siswi SMP dan SMA di Kota Depok mengaku sudah tidak perawan. “Kami sudah umumkan survei lima tahun lalu bahwa sebanyak 93,7 persen siswi SMP dan SMA di Kota Depok mengaku sudah tidak perawan,” ujar Ketua Komnas PA, Ariet Merdeka Sirait dengan sejumlah wartawan di Kota Depok, Rabu (23/12).

Saat disurvei di beberapa wilayah dengan sampel sekitar 4.700 siswi SMP dan SMA di Kota Depok, dari angka 93,7 persen itu, sebanyak 61,2 persen di antaranya mengaku lebih memilih melakukan aborsi untuk menutupi rasa malunya.

Sungguh miris. Itu survei lima tahu yang lalu. Bagaimana dengan sekarang? Tentu sangat dikhawatirkan sekali, kasus perilaku seks remaja/perzinaan akan terus terjadi dan semakin tidak terbendung lagi. Bahkan bisa menjadi perilaku abnormal. Naudzubillahi mindzalik.

BACA JUGA:  Kaum Matik, Ingin Besar Lupakan hal Kecil

Tentunya, bila kita cari berita yang senada, akan kita dapati banyak kasus di beberapa daerah dengan jumlah yang bervariasi. Ini menunjukkan kasus-kasus tersebut merupakan fenomena gunung es. Artinya, kasus perzinaan ini merupakan masalah secara sistemik, bukan masalah per individu saja.

Jika dilihat dalam hukum yang berlaku di Indonesia, bagi pelaku zina yang masih di bawah umur (belum 18 tahun dan belum menikah) tidak ada hukuman pidana. Bagi yang sudah dewasa diatur dalam KUHP Bab XIV tentang kejahatan terhadap kesusilaan/kesopanan. Tapi di Pasal 284-289 dijelaskan persetubuhan bisa legal jika memenuhi empat kondisi yakni ada izin dari wanita yang disetubuhi, wanita tersebut tidak sedang terikat perkawinan dengan laki-laki lain, wanita tersebut telah cukup umur secara hukum (18 tahun ke atas) dan wanita tersebut dalam keadaan sehat akalnya, tidak pingsan dan mampu membuat keputusan.

Jadi, jika ada siswa-siswi SMP dan SMA berzina tidak bisa dipidana (bila usia belum 18 tahun dan belum menikah). Sedangkan yang dewasa (18 tahun ke atas) bila berzina dan memenuhi kriteria akan dilindungi UU bila sesuai Pasal 284-289.

Inilah hukum yang diberlakukan dalam negara yang menganut sistem yang lahir dari akidah sekuler (pemisahan agama dari kehidupan), sehingga masalah perzinaan tidak akan bisa terselesaikan dengan tuntas, malah akan menumbuhsuburkan kejahatan ini.

BACA JUGA:  Tingkatkan Produktivitas ASN Melalui Manajemen Keterlibatan Pegawai

Bagaimana halnya dengan sistem Islam? Dalam sistem Islam, negara akan meminimalisir pemicu terjadinya tindak perzinaan. Jika masih ada yang melakukannya, maka sistem uqubat/sanksi dalam Islam akan melindungi masyarakat dari semua itu, berupa hukuman ta’jir (sanksi atas kemaksiatan yang di dalamnya tidak had dan kafarah) dan hudud (sanksi atas kemaksiatan yang macam kasus dan sanksinya telah ditetapkan oleh syariah).

Dalam Islam, kehidupan laki-laki dan perempuan terpisah hanya dalam hal-hal yang dikecualikan saja keduanya dapat bertemu dan berinteraksi. Lelaki dan perempuan menutup aurat dengan sempurna. Keduanya diwajibkan memalingkan pandangan bila melihat wajah lawan jenis dengan nafsu.

Berdua-duaan di tempat sunyi (berkhalwat) antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram, bercampur baur (ikhtilath) dan pacaran sangat dilarang dan berdosa. Jika semua itu dilakukan, maka hukuman ta’zir bisa diterapkan, mulai dari teguran keras, dipermalukan dan lain sebagainya. Jika keduanya sampai berzina akan dikenakan hudud berupa rajam sampai mati bagi pezina yang sudah menikah atau pernah menikah. Dan cambuk seratus kali bagi pezina yang masih lajang. Semua hukum ini berlaku bagi lelaki dan perempuan yang sudah akil baligh termasuk siswa-siswi SMP dan SMA.

BACA JUGA:  Soal Uang Pesangon Pekerja

Itu semua untuk memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa (jawazir) dan sebagai penebus dosa (jawabir). Tentu saja pencegahan dan pemberantasan zina tak bisa dilakukan secara parsial, tapi harus sistemis. Perubahan tidak bisa dilakukan secara individual karena menyangkut banyak faktor yang saling terkait satu sama lain. Di sinilah pentingnya peran negara. Negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya, yang menjadikan Islam sebagai sumber dari segala sumber hukum.

Namun, di negeri yang menganut demokrasi sebagai acuan hidupnya, kasus perzinaan akan tumbuh subur karena khalwat, ikhtilath dan pacaran tidak dianggap sebagai kesalahan dan dosa, malah perilaku tersebut dilegalkan selama sesuai dengan hukum yang berlaku.

Oleh karenanya, solusi dari permasalahan ini dengan diterapkannya sistem Islam. Karena sistem Islam secara gamblang mengatur pergaulan antara pria dan wanita. Maka, perzinaan kerap terjadi, Islam jadi solusi. Jadi jelas, tidak ada alasan lagi bagi negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini untuk tidak menerapkan solusi Islam. []

Oleh: Siti Aisyah, S.Sos., Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis Depok

Komentar