oleh

Pemimpin dan Rakyatnya

Terkadang kita sebagai rakyat biasa selalu menyalahkan Pemimpin. Pemimpin yang jadi biang kerok kasus korupsi di berbagai jajaran pemerintahan. Pemimpin sebagai dalang atas kebobrokan yang terjadi dimana-mana. Semua murni kesalahan Pemimpin. Mengapa setiap orang tidak berusaha mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan pemimpin. Yang perlu dipahami adalah pemimpin merupakan cerminan dari rakyatnya. Karena tidak mungkin sekelompok tikus dipimpin oleh seekor singa, begitupula sebaliknya, takkan mungkin sekelompok singa dipimpin oleh seekor tikus, kita semua tau itu. Mengapa Allah jadikan Fir’aun sebagai pemimpin bagi kaumnya, karena mereka sama dengan Fir’aun. Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” [Az-Zukhruf : 54]

Itulah bentuk kebijaksanaan Allah dengan hikmah-Nya di alam semesta ini, tak mungkin Allah zalim sedikitpun kepada hamba-hamba-Nya karena Dia Maha Adil.

Tidak adil itu jika protes korupsi pemimpin dan pejabat, tapi rakyat juga banyak yang korupsi kecil-kecilan sesuai jabatan kecil mereka. Sebagai contoh sederhana, berbohong kepada orang tua soal bayaran sekolah, meminta uang pungli di instansi, berdagang gemar mengurangi timbangan, sering absen dari kantor tetapi ingin digaji penuh, jadi panitia acara kecil dana berlebih diambil, masuk universitas menyogok, baru jadi pejabat mahasiswa suka membuat proyek fiktif dan masih banyak kasus lainnya, padahal korupsi besar berawal dari mental korupsi kecil-kecilan seperti ini. Jadi tidak heran jika banyak pejabat yang ditangkap KPK di Negeri ini. Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” [Al An’aam : 129]

Kita tentu mendambakan pemimpin seperti Abu Bakar dan Umar, maka berusahalah menjadi rakyatnya Abu Bakar dan Umar yakni para sahabat, kelompok terbaik umat ini. Perubahan dimulai dari rakyatnya. Rumah tangga adalah unit terkecil dari masyarakat. Dari sini kita mulai, perbaiki dulu diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Jika masing-masing rakyat memiliki kesadaran ini akan berbuah perbaikan secara serentak dan menyeluruh. Otomatis rakyat yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik pula.

Maka sudah saatnya introspeksi diri, karena semua itu bermula dari kesalahan diri sendiri. Bukan zamannya lagi selalu mengeluh dan mencela dengan kata-kata kotor yang tidak ilmiah, karena itu tidak mengubah apapun kecuali menambah dosa. Bukan berarti diam atas kezaliman Penguasa, jika ingin menasehati lakukan dengan adab yang baik dan cara yang sesuai syariat. Tak lupa doakan kebaikan karena mudah bagi Allah mengubah hati sesorang. Saatnya kita berubah agar Allah turunkan Pemimpin yang amanah. (Farhan Ar’Rayyan)