oleh

Menjadi Muslimah yang Berdaya itu Wajib!

Memiliki peran menjadi seorang muslimah adalah sebuah anugerah yang Allah berikan kepada para wanita. Tidak semua wanita beruntung menerima hidayah agar bertahan dengan nikmat Islam dan nikmat iman yang Allah titipkan di dalam kalbu para wanita. Dengan kemuslimahan tersebut, para wanita akan menyadari kodratnya, fitrahnya, serta keistimewaan yang diperoleh karena mendapatkan kemuliaan di sisi Sang Maha Pencipta.

Menjadi Perempuan muslimah itu harus memiliki pendidikan islami setinggi mungkin. Hal ini karena merekalah yang nantinya akan menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Maka, negara berkewajiban menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan terbaik dengan biaya yang sangat terjangkau bagi warga negaranya serta memberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan fasilitas sebaik mungkin.

Program wajib belajar berlaku atas seluruh rakyat pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Dengan begitu, maka diperlukan banyak sekali perempuan yang berprofesi sebagai dokter, perawat, dan guru untuk menjalankan peran dan tugas tersebut. Tugas dan peran utama seorang perempuan adalah menjadi istri dan ibu. Dia tidak dibebani tugas untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri atau mencari nafkah bagi keluarganya. Tugas tersebut dibebankan kepada laki-laki, baik itu laki-laki yang menjadi suaminya ataupun ayahnya, ataupun saudaranya. Jika seorang perempuan tidak memiliki wali, maka dia berhak mendapat status sebagai kalangan yang dilindungi negara dan tidak wajib bekerja.

Adapun kebolehan perempuan bekerja di luar rumah dan memainkan peran lain dalam kehidupan bermasyarakat, tidak boleh melalaikan peran mereka dalam keluarga seperti yang telah disebut di atas. Misalnya keberadaan dokter, guru, perawat, hakim, polisi perempuan, tetap dibutuhkan dan sangatlah penting bagi keberlangsungan masyarakat.

Dalam sistem pemerintahan Islam, perempuan wajib menyuarakan opini politik mereka dan mendapat kedudukan dalam pemerintahan. Mereka bisa menjadi hakim, kepala departemen pemerintahan, anggota Majelis Umat, dan mereka boleh memberikan suara dalam pemilihan Khalifah. Karena adanya larangan yang datang dari Allah Swt.–Yang Mahatahu dari mereka dibandingkan mereka sendiri–mereka tidak dapat memegang posisi Khalifah ataupun jabatan-jabatan pemerintahan (seperti Wali, Mu’awin Tafwidh, atau Amir Jihad). Dan hal ini tidak perlu dipermasalahkan karena sudah ada porsinya masing-masing. Lelaki dan perempuan berkedudukan setara di hadapan hukum. Perbedaan mereka hanya dalam hal jumlah saksi yang diperlukan ketika akan menghukum seseorang.

Secara umum, dua orang saksi perempuan setara dengan seorang saksi lelaki. Ini tidak berarti bahwa perempuan mendapat status setengah lelaki, seperti yang dituduhkan oleh sebagian kalangan. Aturan ini bukan ditetapkan oleh lelaki, tapi oleh Allah Swt. yang telah menciptakan perempuan. Dalam hal ini, perempuan menerima posisi ini dalam rangka ketaatannya kepada Allah Swt..

Hijab bukanlah simbol penindasan terhadap perempuan, namun sebaliknya adalah bentuk Islam memuliakan mereka. Dengan hijab syar’i potensi alamiah seorang muslimah tetap bisa digali dan disalurkan pada berbagai bidang keilmuan dan teknologi. Jadi, dengan hijab seorang muslimah akan lebih bisa menjalankan peran dan tugasnya dengan lebih sempurna.

Dari beberapa contoh praktis penerapan sistem Islam bagi perempuan di atas, dapat kita tarik benang merah bahwa memang Islam memuliakan kita para muslimah. Maka Karir terbaik seorang perempuan adalah menjalankan peran dan kewajiban yang melekat padanya sesuai dengan aturan Islam, apakah sebagai seorang anak, istri, ibu, atau bagian dari masyarakat. Sungguh islam sangat memuliakan perempuan.