oleh

COVID-19 dan Dampaknya Bagi Penyandang Disabilitas

Oleh: Mazaya Shafa Ainan Dini, Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Kamis (3/12/2020), genap 28 tahun sudah sejak pertama kali didorongnya peringatan disabilitas internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Hari Disabilitas Internasional yang diperingati tanggal 3 Desember setiap tahunnya. Diperingatinya Hari Disabilitas Internasional ini sebagai bentuk dukungan dan perhatian kepada perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di seluruh dunia. Pada tahun 2020, tema yang diambil untuk peringatan Hari Disabilitas Internasional adalah “Tidak Semua Disabilitas Dapat Terlihat”. Tema ini difokuskan untuk menyebarkan kesadaran dan pengetahuan mengenai disabilitas yang tidak terlihat, seperti disabilitas rungu, disabilitas wicara, disabilitas intelektual, dan disabilitas psikososial.(1)

Namun, ada yang berbeda pada peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun ini. Hampir setahun sudah dunia digemparkan oleh kedatangan virus baru bernama SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, provinsi Hubei, Cina pada Desember 2019.(2) Sejak awal ditemukannya COVID-19, tercatat total hampir 58 juta kasus dan 1,4 juta kematian di seluruh dunia per 21 November 2020, dan kemungkinan akan terus berlanjut.(3) Timbulnya COVID-19 berdampak besar pada seluruh aspek kehidupan di dunia. Perubahan-perubahan yang terjadi dan kerugian yang ditimbulkan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok disabilitas. Selama pandemi COVID-19, isolasi, pemutusan hubungan kerja, rutinitas yang terganggu, dan berkurangnya akses ke seluruh layanan sangat memengaruhi kehidupan dan kesejahteraan para penyandang disabilitas di seluruh dunia.(1) Setidaknya terdapat sekitar 80,9% disabilitas termasuk anak di Indonesia yang telah terdampak serius COVID-19 secara ekonomi, sosial, dan kesehatan berdasarkan kaji cepat yang dilakukan oleh Jaringan Organisasi Penyandang Disabilitas Respon COVID-19 pada April 2020.(4)

Berdasarkan data dari WHO, setidaknya sekitar 15 persen atau lebih dari 1 miliar orang termasuk anak-anak di dunia merupakan penyandang disabilitas. Dari angka tersebut, diperkirakan 2-4 dari 100 orang mengalami disabilitas berat. Meningkatnya usia harapan hidup dan bertambahnya populasi tua diiringi dengan pelayanan kesehatan yang kurang memadai merupakan salah satu penyebab meningkatnya prevalensi penyandang disabilitas. (5) Di Indonesia sendiri, berdasarkan data SUPAS 2015, didapatkan hasil proporsi penduduk di atas 10 tahun yang mengalami kesulitan fungsional sebesar 8,56%. Selain itu, Kemenkes juga mengumpulkan data penyandang disabilitas pada tahun 2018 melalui Riskesdas dengan mengelompokkan dalam 3 kategori umur, yaitu anak (7-17 tahun), dewasa (18-59 tahun), dan lansia (umur ≥60 tahun). Ditemukan bahwa terdapat 3,3% anak umur 5-17 tahun dan 22% pada dewasa umur 18-59 tahun yang mengalami disabilitas, serta 25,7% pada lansia yang mengalami hambatan ringan, sedang, maupun ketergantungan total.(6)

BACA JUGA:  Literasi Hedonisme, Hidup Tidak Cukup Akal Sehat

Penyandang disabilitas tidak secara langsung memiliki risiko untuk terinfeksi atau menderita penyakit parah akibat COVID-19. Namun, penyandang disabilitas merupakan kelompok yang lebih rentan untuk terpapar COVID-19 dibanding masyarakat pada umumnya. Faktor utamanya yaitu adanya keterbatasan dan kesulitan dalam melaksanakan protokol pencegahan COVID-19. Keterbatasan ini berupa terbatasnya akses dalam mengakses informasi kesehatan masyarakat dan terbatasnya lingkungan pekerjaan yang tidak menyediakan fasilitas inklusif.(7) Selain itu, kesulitan ini beragam tergantung pada bentuk disabilitas atau impairments yang dimiliki. Menurut CDC, beberapa kondisi medis penyandang disabilitas yang berisiko antara lain orang yang memiliki mobilitas terbatas dan tidak dapat menghindari kontak dekat dengan orang lain yang mungkin terinfeksi seperti perawat dan anggota keluarga, orang yang kesulitan memahami informasi atau melakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan dan menjaga jarak, serta orang yang mungkin tidak dapat mengomunikasikan mengenai gejala penyakit COVID-19.(8)

Penyandang disabilitas juga sering dihadapkan dengan keterbatasan dalam memenuhi hak-haknya dalam kehidupan sehari-hari. Diskriminasi bukan lagi menjadi hal baru bagi penyandang disabilitas. Dalam situasi normal, penyandang disabilitas tak jarang dihadapkan dengan diskriminasi di dunia kerja, seperti tingkat bekerja lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya, kondisi kerja yang buruk, serta cakupan perlindungan sosial yang lebih sedikit. Berdasarkan data dari United Nations Enable, terdapat 80-90% penyandang disabilitas dalam usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan di negara berkembang.(9)

Hal ini diperparah ketika situasi COVID-19 berlangsung dimana terdapat pembatasan aktivitas ekonomi yang terjadi. Tak sedikit penyandang disabilitas kehilangan pekerjannya, contohnya disabilitas netra yang biasanya bekerja sebagai pemijat, saat pandemi ini tidak bekerja sama sekali. Belum lagi pekerjaan yang tidak berhubungan atau bersentuhan langsung dengan masyarakat pun ikut terdampak, seperti disabilitas yang bekerja di bengkel dan sablon keliling.(10)

BACA JUGA:  Kaum Matik, Ingin Besar Lupakan hal Kecil

Dari Survei Dampak COVID-19 Pada Penyandang Disabilitas di Uganda yang dilakukan oleh TRACK FM dan Light for the World kepada 10.000 penyandang disabilitas dan anggota keluarganya, diperoleh hasil bahwa ketakutan terbesar mereka ketika pandemi adalah tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan proporsi 41%, jauh lebih besar daripada ketakutan akan terinfeksi COVID-19 yang hanya sebesar 14%.(11) Berdasarkan data dari Jaringan Organisasi Penyandang Disabilitas Respon COVID-19, terdapat 85% penyandang disabilitas yang mengalami penurunan pendapatan akibat COVID-19. Penurunan ini beragam dari 10-80%, dengan angka persentase tertinggi terdapat pada penurunan 50-80% dari jumlah pendapatan normal.(12) Ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 sangat berdampak bagi penyandang disabilitas dalam pekerjaan, yaitu meningkatnya risiko kehilangan pekerjaan, stigma dan prasangka masyarakat, kesulitan mencari pekerjaan, serta menurunnya pendapatan.

Untuk meminimalisir terjadinya paparan COVID-19 terhadap kelompok disabilitas, pemangku kebijakan harus memastikan perlindungan dari COVID-19 melalui kebijakan kesehatan yang mudah diakses. Perlu dikembangkan komunikasi pesan yang dapat diakses oleh seluruh penyandang disabilitas, baik disabilitas sensorik, intelektual, kognitif, dan psikososial. Contohnya antara lain:

1. Situs web yang dapat diakses dengan mudah dan dapat dipastikan bahwa disabilitas netra dapat mengerti informasi penting tentang wabah COVID-19
2. Menyediakan penerjemah bahasa isyarat yang telah divalidasi oleh penyandang disabilitas rungu dan disabilitas wicara pada pemberitaan terkait COVID-19
3. Pesan terkait COVID-19 disampaikan dengan cara yang dapat dipahami oleh penyandang disabilitas intelektual, kognitif, dan psikososial, dan
4. Mengadakan bentuk komunikasi tatap muka atau situs web interaktif untuk mempermudah penyampaian informasi. (13)

Di samping itu, para pemangku kepentingan juga harus memastikan kesejahteraan penyandang disabilitas dalam dunia kerja dengan perlindungan dari COVID-19 melalui kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja yang mudah diakses, perlindungan sosial untuk memberi bantuan cepat, konsultasi dan partisipasi dari para penyandang disabilitas, inklusi disabilitas dalam inisiatif-inisiatif baik yang bersifat umum maupun dengan target khusus, serta mekanisme finansial yang menjangkau para penyandang disabilitas.(11)

BACA JUGA:  Literasi Senyuman

Kebijakan atas pemenuhan hak penyandang disabilitas saat COVID-19 memang sudah dicanangkan sesuai sistematika yang ada, namun transparansi pelaksanaan dapat dikatakan masih belum sempurna. Apalagi dalam pelaksanaannya masih ditemukan ketidakadilan yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab dan ketidaktepatan sasaran dalam menentukan subjek penerima, serta diwarnai pula dengan adanya korupsi bantuan sosial yang ada di pemerintahan. Keadaan disabilitas yang jauh dari kata sejahtera di masa pandemi ini menjadi tanggung jawab bersama, terutama pihak terkait ataupun pemerintah.(10)

 

REFERENSI
1. International Day of People with Disabilities [Internet]. [cited 2020 Nov 22]. Available from: https://idpwd.org/
2. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report-94 HIGHLIGHTS.
3. Coronavirus Update (Live): 58,488,517 Cases and 1,386,334 Deaths from COVID-19 Virus Pandemic – Worldometer [Internet]. [cited 2020 Nov 22]. Available from: https://www.worldometers.info/coronavirus/?
4. KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK [Internet]. [cited 2020 Dec 7]. Available from: https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2724/kemen-pppa-era-new-normal-pendamping-anak-disabilitas-harus-terapkan-protokol-kesehatan
5. Shakespeare T, Officer A. World report on disability. Disabil Rehabil. 2011;33(17–18):1491.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi Disabilitas. Pus Data dan Inf Kementrian Kesehat RI. 2019;1–10.
7. Rifai AA, Humaedi S. INKLUSI PENYANDANG DISABILITAS DALAM SITUASI PANDEMI COVID-19 DALAM PERSPEKTIF SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) [Internet]. Vol. 7, Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. 2020 Aug [cited 2020 Nov 22]. Available from: http://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/view/28872
8. People with Disabilities | COVID-19 | CDC [Internet]. [cited 2020 Nov 22]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/need-extra-precautions/people-with-disabilities.html
9. Disability and Employment | United Nations Enable [Internet]. [cited 2020 Nov 22]. Available from: https://www.un.org/development/desa/disabilities/resources/factsheet-on-persons-with-disabilities/disability-and-employment.html
10. Kesejahteraan Sosial Pada Masa Pandemi Covid-19 : Apa Kabar Kesejahteraan Penyandang Disabilitas? | Puspensos [Internet]. [cited 2020 Dec 7]. Available from: https://puspensos.kemsos.go.id/kesejahteraan-sosial-pada-masa-pandemi-covid-19-apa-kabar-kesejahteraan-penyandang-disabilitas
11. (No Title) [Internet]. [cited 2020 Nov 22]. Available from: https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-jakarta/documents/publication/wcms_747326.pdf
12. Penurunan Pendapatan Penyandang Disabilitas Akibat Covid-19 | Databoks [Internet]. [cited 2020 Nov 22]. Available from: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/06/09/penurunan-pendapatan-penyandang-disabilitas-akibat-covid-19
13. Kesehatan dan Dukungan Psikososial Terhadap Penyandang Disabilitas Sehubungan Dengan Terjadinya Wabah Covid- P, Lingkungan Balai Besar di, Disabilitas Lembaga Kesejahteraan Sosial Disabilitas L, Lembaga Lainnya dan. P E D O M A N.

Komentar

Berita lainnya