oleh

Think Positive and Be Positive Person

Oleh : Albayyinah Putri, S.T, Alumni Politeknik Negeri Jakarta

Albayyinah Putri, S.T
Albayyinah Putri, S.T

“Jangan negative thinking terus dong, harus selalu positif thinking”, “Kita harus bisa ngasih positive vibes nih buat orang lain” , “Udahlah, jangan liat orang lain, jadi diri sendiri bikin suasana positive buat diri sendiri itu penting”.

Apa lagi ya kira-kira kalimat yang sering kita dengar seputar positive vibes? Dan pastinya kita udah sering denger kalimat-kalimat positive yang tujuannya membangun positive vibes di berbagai social media. Memang betul bahwa, positive vibes akhir-akhir ini sering diperbincangan dan jadi hal yang biasa untuk dijadikan sebuah motivasi bagi kita dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Belum lagi karena situasi saat ini masih dalam masa pandemi, banyak pribadi yang sering berpikiran negatif padahal hal ini memberikan efek tidak baik bagi kesehatan kita. Semakin banyaknya permasalahan yang timbul akibat negative thinking maka dari itu positive vibes adalah tema yang cocok dijadikan bahan oleh banyak influencer dengan maksud memberikan efek positif bagi masyarakat termasuk generasi muda.

Semakin tumbuh suburnya influencer di luar sana dengan kreatifitas yang luar biasa, maka tidak heran kalau banyak juga yang vocal terhadap tema positive vibes ini. Positive vibes ini memang mengarah pada masalah-masalah umum yang biasa terjadi dikeseharian kita. Sehingga para generasi muda, perlu ambil peran dalam hal ini untuk memberikan efek positif bagi generasi muda Muslim lainnya. Think positive & be positive person harus bisa didefinisikan dengan benar yang pastinya sesuai dengan identitas kita yaitu sebagai individu Muslim.

Fakta-fakta yang bisa mendasari positive vibes itu bisa diangkat oleh banyak influencer diantaranya adalah tidak puas dengan bentuk tubuh sendiri bisa juga akibat dari body shaming, membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, tidak percaya diri, atau merasa didiskriminasi karena kelainan pada orientasi seksual dan mungkin masih banyak permasalahn lainnya yang membuat orang-orang di luar sana selalu saja merasa tidak adil berada di dunia ini.

Dikutip dari kompas.com body shaming bisa menyebabkan gangguan psikologis pada korbannya, menimbulkan depresi dan pada akhirnya depresi ini berhubungan dengan kasus bunuh diri. Selain itu bunuh diri ini juga berhubungan dengan kasus perundungan (bullying), baik perundungan secara fisik maupun secara verbal (hate speech). Akibat maraknya kasus body shaming, perundungan dan kasus bunuh diri pergerakan opini di tengah masyarakat juga semakin deras, maka dari itu muncul jargon-jargon baru seputar positive vibes ini.

BACA JUGA:  Kenapa Ayah Tidak Pernah Menangis?

Seputar body shaming, muncul kampanye body positivity mengajak kita untuk “bersyukur” apapun dan bagaimanapun bentuk kita. Namun sayangnya, gerakan ini disertai dengan mempertontonkan tubuh bahkan dengan menampakan aurat dengan dalih bersyukur dengan bagaimanapun bentuk tubuh kita.

Kemudian ada situasi yang muncul yang diciptakan kita sendiri, akibat membanding-bandingkan pribadi kita dengan orang lain, membandingkan keberhasilan orang lain dengan kita, membandingkan rezeki orang lain dengan kita atau hal-hal yang lainnya. Situasi ini membuat kita semakin merasa tidak bersyukur terhadap apa yang kita punya, atau juga bisa memunculkan rasa insecure pada diri kita sehingga kita tidak percaya diri pada keahlian atau kemampuan kita pribadi.

Selain itu, masalah sensitif lainnya yang sampai saat ini masih sering menjadi pertentangan di tengah-tengah masyarakat yaitu permasalahan dari penyimpangan orientasi seksual. LGBT memang menjadi isu yang tidak selesai-selesai sampai saat ini, terus menjadi perdebatan. Bahkan para pelaku LGBT malah menganggap dirinya sebagai korban akibat intimidasi, cemoohan atau diskriminasi dari pihak luar karena masalah yang mereka miliki. Disnilah para penggerak opini LBGT ini beramai-ramai untuk menyuarakan toleransi, saling menghargai, saling menerima bagaimanapun kepribadian orang lain termasuk masalah orientasi seksualnya. Dilansir dari beberapa situs opini yaitu suarakita.org dan magdalene.co, para pelaku LGBT ini menceritakan permasalahan mereka dan tampak menyebarkan motivasi untuk menerima apa yang terjadi pada dirinya bahkan menganggap bahwa ini merupakan takdir dari Tuhan. Naudzubillah.

Beberapa situasi tersebut menggambarkan bahwa setiap pribadi memang membutuhkan motivasi dari luar untuk bangkit dan percaya diri, disinilah perlunya dorongan dari luar untuk membangkitkan pemikiran positif terhadap individu. Dan influencer-lah yang saat ini punya peran untuk memberikan energi positif pada setiap individu.

Memanglah setiap manusia selalu saja merasa tidak puas pada diri sendiri atau tidak puas pada hal yang dimilikinya, itulah sifat dasar manusia selalu saja tidak merasa puas. Namun, situasi ini kadang mengarahkan kita kepada hal yang Allah tidak suka, seperti kurang bersyukur dan berburuk sangka atau suudzon kepadaNya.

Tren think positive & be positiveperson atau positive vibes ini sebenernya memiliki tujuan yang baik, karena mengajak kita untuk bersikap positif dan bersyukur pada apapun yang terjadi saat ini, namun sayangnya tren positive vibes ini malah mengarahkan kita pada perilaku yang bebas tanpa aturan, karena kita harus berusaha berfikir positif dalam hal apapun, tidak boleh ada lagi yang menghalangi apapun tindakan, sikap atau keinginan kita selama menurut kita itu benar dan juga menyenangkan hati kita. Iya, lagi-lagi timbul karena sistem pergaulan saat ini yaitu liberal. Pergaulan yang bebas, tanpa aturan termasuk aturan agama, jika ada aturanpun pastilah aturan yang dibuat sendiri bukan aturan yang baku dan berlaku bagi setiap indivdu.

BACA JUGA:  Untuk Apa Kuliah Kita?

Kita cek beberapa kasus yang terjadi yang sudah dipaparkan sebelumnya, gerakan body positivity yang menampakan aurat, rasa tidak bersyukur atas rezeki yang kita punya dan membandingkan dengan oran lain akhirnya bisa saja menimbulkan penyakit hati dan menerima diri sebagai pelaku LGBT. Semua hal itu bukanlah mengarahkan kepada positive vibes yang diperbolehkan dalam Islam. Situasi itu semua melanggar syari’at Islam. Bukannya bersyukur tapi malah melawan aturan-aturan yang sudah Allah perintahkan dan larangan-larangan Allah yang seharusnya kita jauhi.

Pada situasi ini, sebagai Muslim berakal dan taat pada syari’at kita harus mengembalikan semua kepada syari’at Islam, sehingga kita tidak melepaskan identitas kita sebagai Muslim walaupun trend positive vibes ini sudah bertebaran di berbagai social media.

Sesungguhnya Islam juga mengajarkan kita untuk berfikir positif, dalam hal ini berhusnudzon dalam situasi apapun. Terlebih jika situasinya bukanlah hal yang menjadi kuasa kita. Ini juga mengajarkan kita untuk terus bersyukur kepada Allah bahkan sekalipun yang menimpa kita adalah hal yang tidak kita sukai. Wajib hukumnya bagi seorang Muslim beriman kepada Qadla dan Qadar, baik buruk kejadian yang di luar kuasanya datangnya hanya dari Allah, dan khasiat-khasiat yang ada di dunia ini baik buruknya juga berasal dari Allah.

Seperti yang dijelaskan pada firman Allah SWT, “Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa……” (QS. Al-Hujurat : 12)

Begitu juga dengan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” (HR. Muslim)

Think positive & be positive dalam Islam juga mengajarkan kita untuk percaya pada diri kita sendiri, Allah sudah memberikan kita akal dan naluri kepada kita agar kita bisa mengembangkan diri kita sesuai dengan potensi yang kita punya, pastinya pengembangan diri ini demi diri kita sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak. Lagi-lagi tujuan Muslim ini tidak lain adalah hanya untuk beribadah kepada Allah, maka semuanya harus dikorelasikan dengan ibadah kepada Allah.

Sudah seharusnya kita bersyukur atas apa yang sudah Allah takdirkan kepada kita, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran : 139). Allah memerintahkan kita agar kita bangga pada identitas kita, karena derajat yang kita punya ini paling tinggi atas keimanan kita. Kita memang diciptakan dengan akal dan naluri yang sama, namun dari masing-masing kita memiliki kemampuan yang berbeda. Tapi sayangnya masih banyak dari kita yang kurang bersyukur atas nikmat Allah yang diberikanNya kepada kita.

BACA JUGA:  Waspadai Kemungkinan Gangguan Penglihatan Akibat Radiasi Gadget di Era Pandemi

Keimanan yang kita punya sampai saat ini adalah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan kepada kita, lalu bagaimana kita bisa dikatakan bersyukur dengan situasi saat ini aja kita sudah melampaui batas kita sebagai seorang hamba? Membuat aturan sendiri, malah mendekati apa yang dilarang dan tidak peduli atas apa yang Ia perintahkan.

Islam sudah mengajarkan kita lebih dulu tentang “Think Positif & Be Positive Person” sebelum adanya trend ini, dan apa yang diberikan Islam sesungguhnya adalah yang memang kita butuhkan. Karena keinginan dan kebutuhan adalah sesuatu yang berbeda, Allah Maha tau atas apa yang kita butuhkan. Positif atau negatif dalam Islam tidak diukur berdasarkan pemikiran kita, baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan sebaliknya. Hal ini membuka mata kita dan semakin menguatkan keimanan kita, karena dengan Islam saja sudah lengkap lah hidup kita. Aturan dan bimbingan yang ada dalam Islam sudah cukup kita.

Stay positive bagi seorang Muslim melakukan apa yang Allah suka agar kita mendapat ridho dari Allah. Sedangkan positive vibes adalah ketika kita bisa menyebarkan energi positif untuk orang lain dengan dakwah, karena dakwah mengajak orang lain untuk taat kepada Allah. Berdakwah dengan sabar untuk mengingatkan kepada kebenaran.

Namun jangan menjadikan kita diam ketika kemaksiatan pada sistem saat ini terus merajalela dan kita malah positive thinking serta husnudzon pada kemaksiatan, sehingga membuat kita meninggalkan dakwah. Berkumpulah dengan orang-orang shaleh, yang selalu mendekatkan dirinya pada aktivitas yang Allah sukai, yang selalu mengingatkan kita akan syari’at Allah sehingga kita mendapatkan positive vibes itu. Mendapat ketenangan jiwa, hati dan pikiran semua karena kita mengikuti hal-hal yang Allah ridhoi.

Jadi, yuk “Think Positive & Be Positive” dengat taat syari’at, karena cuma cara Allah-lah yang bisa mengantarkan kita pada positive vibes itu sendiri!

Komentar

Berita lainnya