oleh

Sumber Daya Rumput Laut untuk Keberlangsungan Ekonomi Biru

Ekonomi biru (Blue Economy) memiliki prinsip yang kreatif, inovatif serta efisien dalam pemanfaatan sumber daya, memiliki nilai tambah dan minim limbah, sehingga menghasilkan konsep yang ramah lingkungan dan mampu menciptakan lapangan kerja juga kesempatan berwirausaha.

Penerapan ekonomi biru ini bertujuan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi pada sektor kelautan dan perikanan sekaligus menjaga kelestarian sumber daya. Konsep ini bertumpu pada peningkatan ekonomi rakyat untuk mencapai pembangunan nasional secara menyeluruh dan diharapkan menjadi konsep ekonomi yang berkelanjutan. Konsep ini telah menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Rumput laut merupakan komoditas yang memiliki peran dalam peningkatan pendapatan masyarakat pesisir, mengurangi angka kemiskinan, serta berkontribusi terhadap ekonomi daerah. Limbahnya pun dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, pakan ikan, dan pakan ternak.

Rumput laut menjadi komoditas primadona pada sektor kelautan dan perikanan saat ini. Volume produksinya mendominasi produk perikanan nasional. Indonesia muncul sebagai negara terbesar kedua di dunia yang memproduksi rumput laut setelah China. Produksi global dari petani rumput laut sekitar 29,4 juta ton pada tahun 2015, Indonesia berkontribusi hampir 38 % pada produksi rumput laut (Food and Agriculture Organization, 2018).

Ragam sumber daya rumput laut di Indonesia terdiri dari 555 jenis. Produksi dan perdagangan rumput laut didominasi oleh rumput laut merah dan coklat seperti Gracilaria, Eucheuma dan Sargassum (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2019).

Budidaya rumput laut tergolong aktivitas yang ramah lingkungan, karena tidak menggunakan input pakan yang dapat menyebabkan pencemaran bahan organik ke perairan. Sebaliknya, rumput laut dapat menyerap nutrien organik berupa nitorgen dan fosfor terlarut dari perairan dan dimanfaatkan untuk pertumbuhannya. Penerapan prinsip ekonomi biru dapat diaplikasikan dalam introduksi teknologi pengolahan rumput laut menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.

Teluk Sereweh merupakan salah satu lokasi percontohan program ekonomi biru oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Mata pencaharian utama masyarakat di sekitar pesisir perairan tersebut umumnya adalah budidaya rumput laut. Selain itu, terdapat pula kabupaten lombok timur yang berkontribusi besar terhadap produksi ikan dan rumput laut. Keberhasilan budidaya rumput laut sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan perairan (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2015). (Farhan Ar’Rayyan)

Komentar

Berita lainnya