oleh

Nomofobia, Ketakutan yang Berawal dari Kecanduan Ponsel

Ponsel pintar telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari sampai saat ini. Dengan ponsel kita dapat menghubungi seseorang kapan saja dan di mana saja. Selain dapat menyimpan kontak, dokumen, dan jenis informasi lainnya, dalam ponsel terdapat berbagai macam jenis aplikasi dan hiburan yang terkadang jika tidak di gunakan sesuai porsinya dapat menyebabkan kecanduan dan tak bisa lepas dari layar ponsel meskipun hanya sebentar. Dari prilaku tersebut munculah ketakutan bernama nomofobia.

Nomofobia, didefinisikan sebagai ketakutan ekstrim karena tidak mempunyai perangkat seluler atau tidak memiliki akses ke perangkat seluler saat dibutuhkan. Ini adalah jenis ketakutan akan perpisahan yang dialami akibat tidak dapat menggunakan ponsel, baik karena kehilangan, kehabisan baterai atau tidak bisa mengakses internet. Nomofobia juga lebih luas digambarkan sebagai rasa takut terputus dari dunia digital, tidak bisa melihat berita terbaru atau update di media sosial.

BACA JUGA:  Mengawali Hidup Sehat dengan Gratis

Istilah ini sebenarnya telah digunakan selama lebih dari satu dekade. Menurut sebuah Jurnal Penelitian tahun 2019, istilah ini berasal dari “No Mobile Phone Phobia,” dan diperkenalkan oleh Kantor Pos Inggris pada tahun 2008 saat melakukan studi tentang kecemasan. Studi yang sama menemukan bahwa 58 persen pria dan 47 persen wanita menderita nomofobia.

BACA JUGA:  Kemudahan Informasi dan Kecenderungan Mendiagnosa Diri Sendiri

Nomofobia disebabkan pada kenyataan bahwa telepon adalah sumber akses langsung yang berguna dan efektif untuk berkomunikasi dan mencari informasi, munculah perasaan yang mengharuskan untuk selalu tersedia secara online melalui ponsel setiap hari, baik untuk bekerja maupun untuk keluarga. Masalahnya adalah tidak ada batasan tentang cara menggunakan telepon, inilah yang menyebabkan meningkatnya ketakutan terutama jika ponsel tidak di tangan.

Prilaku ini diperburuk oleh tekanan akibat mengharapkan orang lain tersedia di telepon, terus-menerus mengirim email, atau membagikan postingan secara teratur di media sosial. Ditambah, fakta bahwa sebagian aplikasi di smartphone dirancang agar penggunanya terus-menerus menjalankan aplikasi tersebut, hal ini menyebabkan penggunanya adiktif dan ketergantungan secara emosional maupun psikologis.

BACA JUGA:  Fenomena Hustle Culture

Untuk menghindari diri dari prilaku menyimpang ini. Cobalah untuk tidak menggenggam ponsel untuk beberapa menit atau jam, sempatkan diri berbicara dengan keluarga atau teman secara tatap muka dan lakukan aktivitas lain yang tidak melibatkan smartphone dan perangkat digital lainnya. Lalu yang terpenting adalah tanamkan pada diri sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika kita tidak memegang ponsel beberapa saat. (Farhan Ar’Rayyan)

Komentar

Berita lainnya