oleh

Kisah Perjuangan Umar Al-Mukhtar ‘Sang Singa Padang Pasir’

Dunia masih mengingatnya bahkan selama berabad-abad. Singa padang pasir berjuang dengan pena, lalu angkat senjata. Dalam perjalanan hidupnya, Umar Al-Mukhtar yang mulanya dikenal sebagai seorang ulama islam kemudian memilih menjadi pejuang yang melakukan pemberontakan bersenjata melawan pasukan penjajah Inggris, Prancis, dan Italia.

Pada tahun 1911, pemerintah fasis Italia mengumumkan perang terhadap Khalifah Utsmaniyah (Ottoman). Tanpa menunggu lama, pada tanggal 19 oktober 1911, kawanan pasukan italia memasuki pantai Benghazi, Libya yang masih berada dibawah kekuasaan Ottoman.

Tak berselang lama, bersamaan dengan meletusnya perang Balkan, Ottoman akhirnya kalah dan menarik diri dari Libya pada tahun 1912 dan Libya resmi dijajah Italia. Para pejuang Libya bangkit melawan Italia. Saat itu, tampilah salah seorang pemimpin pejuang yang tegak melawan penjajah Italia, dialah Umar Mukhtar (1861-1931).

BACA JUGA:  Elya si Pejuang, Janda Tangguh Penjual Kopi Keliling untuk Kedua Anaknya

Kisah perjuangannya amat termasyhur di tengah bangsa Arab dan Barat kala itu hingga beliau digelari sebagai The Lion of Desert (Singa Padang Pasir). Zappelin miiter italia menyerang tentara Ottoman di Libya. Sejarah mencatat bahwa dalam perang Italia-Libya inilah pertama kali digunakan balon Zappelin sebagai peralatan perang.

Bersama dengan para pejuang dan mujahid yang ada beliau mengobarkan jihad hingga Italia kewalahan menanggulangi. Berbagai perjanjian dibuat oleh italia guna melunakkan perjuangan para mujahid.

Kemudian pada tanggal 11 September 1931, ketika Umar Mukhtar berziarah ke makam sahabat Rasullulah SAW, Ruwaifi’ Bin Tsabit r.a di kota Al-Baidha, Umar Mukhtar berhasil ditangkap oleh pasukan italia.

BACA JUGA:  Sukses Berbisnis Syariah di Era Milenial

Beliau pun langsung ditawan dan digelandang ke pengadilan untuk menjalani hukuman sebagai pemberontak setelah berjuang lebih dari 20 tahun. Sejarah mencatat, dalam persidangan tersebut, terjadi dialog yang luar biasa antara serta hakim italia dengan sang mujahid.

Hakim : “Apakah engkau memberontak terhadap Italia?”.

Umar : “Iya..”.

Hakim : “Apakah engkau juga mengajak dan memotivasi orang-orang untuk memberontak?”.

Umar : “Iya..”.

Hakim : “Apakah engkau tahu akibat perbuatanmu?”.

Umar : “Iya, aku tahu..”.

Hakim : “Apakah sadar dengan semua pengakuanmu?”.

Umar : “Iya, saya sadar”.

Hakim : “Sudah berapa lama engkau mengangkat senjata melawan Italia?”.

Umar : “Lebih dari 20 tahun”.

BACA JUGA:  Elya si Pejuang, Janda Tangguh Penjual Kopi Keliling untuk Kedua Anaknya

Hakim : “Apakah engkau menyesal atas perbuatanmu itu?”.

Umar : “Tidak sama sekali”.

Hakim : “Tahukah engkau bahwa engkau akan dihukum gantung?”

Umar : “Ya, saya tahu..”.

Hakim : “Saya betul-betul sedih… mengapa akhir hayatmu akan berakhir seperti ini…”

Umar : “Anda salah…justru beginilah cara terbaik mengakhiri kehidupan ini…!!!”.

Hakim kemudian ingin membebaskannya dan mendeportasinya dari negara itu jika ia mau mengajak rekan-rekannya dalam sebuah pernyataan untuk menghentikan perlawanan.

Kemudian Umar Mukhtar mengatakan kata-katanya yang terkenal :

“Jari telunjuk saya, yang mengakui dalam setiap ibadah bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasullah, tidak bisa menulis kata-kata dusta, kami tidak menyerah, kami menang atau mati”

(Affan)

Komentar

Berita lainnya