oleh

Budaya Jabat Tangan Hilang Karena Corona, Apakah Masalah?

Oleh: Sakiah Aqilah Syahwani, mahasiswi LSPR.

Sakiah Aqilah Syahwani.

Berjabat tangan mungkin sudah menjadi gestur yang sangat normal dilakukan oleh manusia, bahkan menjadi kebiasaan yang dapat ditemui hampir setiap hari. Namun, apakah kalian mengetahui asal-usul dari gerakan tangan yang sangat sederhana itu? Apakah ada arti di baliknya?

Dipetik dari History, salah satu teori yang populer mengatakan bahwa gerakan itu dimulai sebagai cara untuk menyampaikan niat damai. Dengan mengulurkan tangan kanan kosong mereka, orang asing dapat menunjukkan mereka tidak memiliki niat buruk terhadap satu sama lain. Penjelasan lain mengatakan bahwa jabat tangan adalah simbol itikad baik saat membuat sumpah atau janji. Selain itu, berjabat tangan juga menyimbolkan kerjasama, kepercayaan, dan rasa hormat terhadap satu sama lain.

BACA JUGA:  Wakaf dan Kapitalisme

Namun, tidak semua negara menerapkan budaya berjabat tangan ini. Contohnya seperti di Thailand, ketika ingin menyapa satu sama lain, alih-alih berjabat tangan, mereka cenderung membungkukkan badan dengan kedua tangan diletakkan di dada dan menghadap ke atas.

Budaya serupa juga dapat kita temukan di India, dimana mereka akan menundukkan kepala dan telapak tangan saling bersentuhan, sambil mengucapkan ‘namaste’ yang artinya dapat dipadankan dengan ‘Salam sejahtera’ atau ‘Hormat saya kepadamu’. Hal tersebut merupakan bentuk penghormatan tanpa kontak fisik dan dapat digunakan secara universal saat bertemu dengan orang lain dengan jenis kelamin, usia, maupun status sosial yang berbeda.

Di Indonesia sendiri, salim atau cium tangan merupakan budaya yang sangat melekat. Biasa dilakukan untuk menunjukkan sopan santun, rasa hormat, dan kasih sayang terhadap sesama manusia, dan juga sebagai simbol penghormatan kepada orang yang lebih tua. Salim atau cium tangan biasa dilakukan oleh anak kepada orang tuanya ketika ingin pergi ke luar rumah.

BACA JUGA:  Dilarang Banyak Pikir Banyak Omong, Kenapa?

Semenjak virus Corona menyebar di Indonesia, terjadi banyak perubahan dalam aspek-aspek kehidupan kita, salah satunya perubahan kebiasaan berjabat tangan atau salim yang sangat melekat pada orang Indonesia ini. Apakah perubahan ini juga berdampak kepada esensi adat atau kebiasaan kita?

Salah satu narasumber, yang merupakan seorang Ibu rumah tangga, mengatakan bahwa berjabat tangan atau salim tentu saja merupakan kebiasaan yang sangat penting dan mulia. Namun, beliau juga mengatakan bahwa banyak sekali cara untuk menunjukkan rasa hormat terhadap orang tua. “Saya juga merasa dihargai dan senang cukup diberikan senyuman” lanjut beliau. Beliau juga menambahkan bahwa, kesehatan dan keselamatan lebih diutamakan saat ini, lebih baik berfokus dalam menjaga imun dan kebersihan agar terhindar dari virus corona.

BACA JUGA:  Serial Kartun Nussa Berhenti Produksi, Jutaan Anak Kehilangan Film Islami

Sebisa mungkin kita menyadari hal yang harus kita prioritaskan. Walaupun kebiasaan salim ini mulai memudar, namun banyak cara lain dalam menunjukkan rasa hormat kita terhadap orang lain. Memakai masker, menjaga kebersihan, serta menjaga jarak juga merupakan bentuk peduli serta menghargai orang lain pada masa pandemi ini. []

Komentar

Berita lainnya