oleh

Benih Lobster dan Si Tamak

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Sebut saja orang tamak. Hanya benih lobster saja di korupsi. Bukannya sejahterakan nelayan atau petambak. Bukannya memuat kebijakan yang pro rakyat. Ehh, justru sang Menteri yang tamak malah memeras “keringat” kaum miskin untuk koceknya. Bikin kebijakan untuk memperkaya dirinya. Pantas dulu, sibuk banget maungubah aturan Menteri sebelumnya. Ekspor benih lobster yang dulu dilarang, diubah jadi boleh oleh si tamak.

Dari kocek korupsi benih lobster itu pula. Si tamak pergi luar negeri, bilangnya tugas negara. Sudah tentu, tiket dan hotelnya pakai uang negara. Nah, giliran belanja; beli tas mahal, beli jam tangan, bahkan sepeda tidak tahunya pakai uang korupsi benih lobster. Sebegitu tamak-kah manusia? Katanya sudah kaya, katanya sudah cukup? Tapi masih berani dan tidak malu mengembat uang jerih payah rakyat.

Kontradiksi. Orang tamak selalu saja mengejar yang banyak. Sekalipun bukan hak-nya. Sementara orang miskin atau rakyat jelata tidak pernah bisa mengelak dari kesulitan ekonomi yang terus berombak.

BACA JUGA:  Literasi Puasa, Momen untuk Move On

Negeri ini kadang aneh. Benih lobster saja di korupsi. Kenapa yang di ekspor benihnya, kok bukan lobster yang siap disajikan? Bila mau ekspor ya harusnya lobster-nya, bukan benih-nya. Biar yang diuntungkan petambak atau nelayan negeri ini. Lebih aneh lagi, kebijakan salah kok tidak ada yang mau “melawan”, tidak segelintir orang di pemerintah pun yang bergeming. Orang tamak malah dikasih jalan. Negeri aneh, bila orang-orang tamak malah dipermudah. Sementara orang-orang miskin malah dibiarkan. Jangankan dibantu, ditengok saja tidak. Makin kasihan dan sedih saja orang-orang miskin. Tidak dipedulikan dan hanya dipermainkan. Sebut saja, ini negeri yang aneh.

Orang tamak atau si tamak, persis seperti orang makan yang tak pernah merasakan kenyang dan nikmat anugerah-Nya. Sifat tamak itu hasrat duniawi dan nafsu posesif yang tidak terkendali. Rakus alias serakah dalam hal kebendaan. Hingga lupa mana yang halal dan mana yang haram. Melacurkan diri untuk ketamakan.

Sementara orang-orang miskin. Persis seperti yang lihat dengan mata kepala sendiri. Akibat dampak Covid-19 yang makin mendera ekonomi mereka. Tidak satu pun dari orang-orang miskin berteriak “kekurangan”. Bahkan negara sekan “tidak hadir” di dekat mereka. Kaum ibu-ibu miskin yang tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di negerinya. Ada permainan apa di bangsanya? Mereka hanya bisa menerima hidup apa adanya. Ada yang bisa dimakan, bersyukur. Tidak ada yang bisa dimakan pun mereka terdiam di rumah. Coba simak gambar di atas, bagaimana ibu-ibu yang begitu semangat saat mendapat bantuan sembako. Mereka hanya bisa bersyukur bila ada yang membantunya. Merengkuh beras, minyak goreng, gula pasur, mie instan untukdibawa pulang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menebar senyum untuk anak-anak mereka di rumah.

BACA JUGA:  Seberapa Cepat Layanan Pengiriman Premium J&T Super?

Si tamak, Menteri yang rakus itu kini dijebloskan ke penjara. Malu-maluin lalu meminta maaf di depan layar TV. Maka jauhi sikap tamak. Dilarang serakah atau rakus. Hindari sikap yang selalu ingin memperoleh sesuatu yang banyak untuk diri sendiri atau kelompoknya. Karena orang tamak, selalu mengharap pemberian orang lain yang sebanyak-banyaknya. Sementara dia sendiri bersikap pelit atau bakhil, tidak mau membantu orang lain yang membutuhkan. Tidak peduli dan apatis atas kebaikan. Amal dianggap hanya niat tanpa aksi.

BACA JUGA:  Masa Muda, si Anak Zaman yang Tak Ingin Tertinggal

Orang tamak selalu merasa harta kekayaan yang dimilikinya selalu kurang. Dan sulit untuk bersyukur kepada Allah. SWT. Orang tamak tidak pernah merasa cukup. Selalu ingin menambah apa yang seharusnya dimiliki. Tnpa memperhatikan hak-hak orang lain, apalagi kaum miskin.

Tamak, memang selalu dekat pada kebanyakan manusia. Mereka yang mencintai harta benda. Si tamak, orang-orang yang lupa. Bahwa rezeki itu sudah ditetapkan untuk setiap insan. Hingga lupa bersyukur atas apa yang sudah dimiliki dan apa yang ada.

Ambil hikmah dari si tamak. Jangan serakah, hindari rakus. Tetaplah bersabar bila kurang. Dan bersyukur bila cukup apalagi kaya. Serta tetap peduli dan mau membantu orang-orang miskin yang membutuhkan.

Sungguh, seperti kata Mahatma Gandhi “Dunia ini cukup untuk menampung apapun, namun tidak cukup menampung orang yang tamak dan serakah”…

Komentar

Berita lainnya