oleh

Asosiasi Mahasiwa Muslim Kanada Gelar Diskusi Panel Bahas Pelanggaran HAM Terhadap Muslim Uighur

Asosiasi Mahasiswa Hukum Muslim Kanada mengadakan diskusi panel berjudul “Apa yang terjadi dengan Uighur di China?” pada tanggal 11 November lalu untuk membahas pemenjaraan Partai Komunis China (PKC) terhadap kelompok minoritas Muslim di provinsi Xinjiang di timur laut China.

Diskusi tersebut menampilkan Anggota Parlemen Konservatif Garnett Genius, yang saat ini duduk di Komite Khusus Dewan Perwakilan hubungan Cina-Kanada; Profesor hukum, McGill Jérôme; dan Rukiye Turdush, presiden Pusat Informasi Turkistan Timur.

BACA JUGA:  Dompet Dhuafa Gelar Tarhib Ramadhan 1442 H dengan Ajakan Berbagi Kebaikan

Panelis meminta mahasiswa untuk mendukung Uighur dengan memboikot merek seperti Nike, yang mengambil untung dari kerja keras para Ugihur yang diperbudak, dan produk lainnya, seperti film Mulan tahun 2020, yang sebagian difilmkan di Xinjiang dan aktris utamanya menyuarakan dukungan untuk kebrutalan PKC.

Berbagai negara, termasuk Kanada, enggan menyebut pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Xinjiang sebagai “genosida” karena kewajiban hukum internasional yang dipicu oleh kata tersebut.

BACA JUGA:  Raih Pahala Ramadan dengan Gerakan Kebaikan Tanpa Batas

Selain menerapkan sanksi yang ditargetkan dan memutuskan rantai pasokan dari kamp kerja paksa, Genius berpendapat bahwa secara resmi mengakui tindakan PKC sebagai “genosida”, merupakan salah satu tindakan paling signifikan yang dapat diambil oleh pemerintah federal untuk mengatasi situasi tersebut.

Terlepas dari pelanggaran hak asasi manusia PKC terhadap Muslim Uighur, pemerintah Kanada belum mengambil tindakan yang signifikan.

BACA JUGA:  Dompet Dhuafa Gelar Tarhib Ramadhan 1442 H dengan Ajakan Berbagi Kebaikan

Genius menunjukkan bahwa divestasi dana dari Program Pensiun Kanada yang saat ini diinvestasikan di perusahaan milik negara Tiongkok adalah langkah konkret yang dapat diambil pemerintah untuk mengatasi masalah ini daripada menunda kata-kata basa-basi. (Farhan Ar’Rayyan)

Komentar

Berita lainnya