oleh

Seberapa Efektif Masker Kain Cegah Penyebaran COVID-19?

Oleh: Michell Audry Ndolu, Mahasiswi LSPR Communication and Business Institute Jakarta.

Michell Audry Ndolu
Michell Audry Ndolu

Angka kasus pasien positif COVID-19 per awal Oktober 2020 bukannya mengalami pelandaian namun sebaliknya, terus melonjak naik dengan ribuan kasus positif per harinya. Dalam bulan September saja, jumlah kasus mencapai total 112.212 kasus. Tentu saja ada berbagai macam alasan dibalik peningkatan kasus yang signifikan ini, namun yang pasti salah satunya terkait dengan protokol kesehatan. Banyak protokol kesehatan yang wajib dipatuhi oleh masyarakat dan salah satunya termasuk tentang penggunaan masker.

Penggunaan masker dapat dikatakan merupakan salah satu protokol kesehatan yang menuai banyak kontroversi dan perhatian. Awalnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tidak menyarankan orang sehat untuk memakai masker. Hal ini disampaikannya mengacu pada pernyataan World Health Organization (WHO) yang mengatakan bahwa orang yang wajib menggunakan masker hanyalah yang sudah terinfeksi virus Corona. Namun beberapa waktu kemudian, penelitian membuktikan bahwa virus ini tidak hanya menyebar melalui kontak fisik saja, tetapi juga melalui tetesan atau droplet ketika orang yang terinfeksi bersin dan batuk. Mengacu dari hal tersebut didukung oleh fakta bahwa pasien positif COVID-19 banyak yang terkonfirmasi tanpa gejala, maka WHO kemudian memperbaharui panduan protokol kesehatan mereka.

BACA JUGA:  Tetap Menimba Ilmu Meski Berjarak

Di dalam protokol kesehatan tersebut tertulis bahwa kita harus menggunakan masker dimana saja dan kapan saja. WHO merekomendasikan masker kain untuk digunakan masyarakat sebagai penghalang dan pencegah menularnya virus Corona dari satu orang ke orang lainnya. Namun berbeda jenis masker, berbeda pula tingkat perlindungannya. Masker N95 dan masker bedah ada di 2 posisi teratas jenis masker dengan perlindungan tertinggi. Lalu mengapa bukan kedua masker tersebut yang disarankan WHO? Berikut adalah alasannya:

  • Masker N95 tidak untuk penggunaan umum, melainkan untuk petugas kesehatan yang memiliki resiko tertinggi terpapar karena berhubungan langsung dengan pasien
  • Ketersediaan masker N95 di pasar semakin menipis
  • Harga masker N95 di pasaran termasuk mahal dan hanya dimaksudkan untuk sekali pakai
  • Walaupun harga masker medis terjangkau, namun hanya dimaksudkan untuk sekali pakai saja.

Saat ini, ketersediaan masker medis sudah kembali seperti awal. Namun, pembeliannya di apotek dan toko-toko telah dibatasi. Masker medis dapat dibeli, namun disarankan hanya untuk orang yang memiliki gejala seperti flu, batuk ataupun demam. Sedangkan untuk orang yang sehat-sehat saja dianjurkan menggunakan masker kain dalam aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA:  Apakah Berita Berpengaruh bagi Kesehatan Kita saat Pandemi?

Anjuran WHO untuk menggunakan masker kain ini mengakibatkan banyak berderarnya para penjual masker di jalanan maupun di berbagai toko dan mall. Sebagai pembeli, kita harus pandai memilih masker yang bukan saja kita anggap bagus, namun juga efektif dalam tujuannya. Untuk masker kain yang dibuat sendiri, perlu memiliki 3 lapisan yaitu lapisan non-anyaman tahan air (depan), microfiber melt-blown kain non anyaman (tengah), dan kain biasa non-tenunan (belakang). Bahan kain yang digunakan harus memiliki daya saring paling baik. Diantaranya adalah bahan serbet, sarung bantal berbahan katun, kaos katun, kain nilon 70D, serta kombinasi katun dan sifon, sutera atau flannel.

Penggunaan masker kain selain untuk mencegah penularan virus Corona juga agar mengantisipasi kembali kelangkaan ulang masker yang terjadi di pasaran. Perlu juga diingat bahwa terdapat prioritas pada garda terdepan yang berhubungan langsung dengan orang-orang terinfeksi, yaitu para tenaga medis yang harusnya mendapatkan masker sebagai alat perlindungan diri mereka. Masker kain dapat dicuci dan digunakan berulang kali, jadi seharusnya itu menjadi keuntungan bagi pemakainya agar tidak perlu membeli ulang masker secara terus-menerus.

BACA JUGA:  Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik Saat Pandemi

Lalu karena melihat para penjual masker diluar sana, maka muncul pertanyaan “Bagaimana dengan masker scuba? Apakah efektif?”. Masker ini terbuat dari bahan kain yang dapat melar seperti kain spandex. Beberapa penelitian sudah menyebutkan bahwa masker scuba kurang efektif dalam menangkal virus Corona bahkan hanya sekitar 0-5%. Jika dijelaskan secara sederhana, dia hanya memiliki satu lapisan saja dan terlalu tipis sehingga kemungkinan untuk tembusnya lebih besar. Baru-baru ini juga penumpang KRL dilarang masuk jika menggunakan masker scuba. Jadi, jangan lupa untuk sediakan masker kain 3 lapisan dengan bahan yang telah disebutkan diatas, selalu rutin mencucinya, dan menggunakannya menutupi hidung dan mulut. []

Komentar

Berita lainnya