oleh

Physical Distancing Harus Dibarengi Protokol Lainnya

Oleh: Sevira Anggraini Haydar, LSPR Communication and Business Institute.

Sevira Anggraini Haydar

SARS-CoV-2 atau yang biasa kita sebut Covid-19, merupakan wabah besar yang terjadi di lebih dari 190 negara di dunia. Virus ini diindikasikan menyebar paling banyak melalui respiratory droplets atau tetesan dari saluran pernapasan. Dalam jarak dekat atau bahkan berdempetan, tetesan ini bisa saja menular pada orang lain. Contohnya pada saat batuk, bersin atau bahkan bernyanyi. Itulah mengapa kita harus memperhatikan jarak dalam beraktivitas.

Physical Distancing merupakan istilah “pemberian jarak” baru yang sudah resmi dianjurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu menurunkan jumlah angka positif Covid-19. Sebelumnya WHO menyebut Physical Distancing dengan istilah Social Distancing. Namun arti dari istilah Social Distancing ini sendiri yaitu “memutus kontak”, banyak membuat masyarakat resah dan bertanya-tanya. Padahal WHO mengartikannya sebagai pemberian jarak untuk memutus kasus Covid-19 namun tetap dapat terkoneksi satu sama lain. Maka dari itu WHO mengganti istilah Social Distancing menjadi Physical Distancing, agar tidak menuai kontra pada masyarakat.

BACA JUGA:  Mulai Bisnis Online Saat Pandemi Covid -19, Menguntungkan!

Physical Distancing memang merupakan salah satu cara paling efektif dalam memutus rantai penyebaran virus Covid-19, namun jarak 1-2 meter bukanlah jarak yang terbaik dalam melakukan Physical Distancing. Jarak 1-2 meter memang merupakan jarak efektif, namun beberapa ilmuwan membuktikan bahwa SARS-CoV-2 dapat berada di udara atau dapat tersebar melebihi jarak 2 meter melalui aktivitas seperti batuk dan berteriak.

BACA JUGA:  Be Smart, Be Beauty, Be You!

Penelitian baru yang dilakukan oleh BMJ menyatakan bahwa aturan jarak yang ditetapkan WHO masih ketinggalan jaman dan tidak menghitungkan kompleksitas virusnya. Nicholas Jones, seorang peneliti dari Oxford University yang merupakan penulis utama dari penelitian tersebut menyatakan bahwa aturan yang didasari pada satu jarak tertentu berasal pada dikotomis, terlalu sederhana untuk menggambarkan proses transfer virus melalui udara.

Penelitian yang membenarkan jarak 2 meter ini diterbitkan pada tahun 1897, hanya dengan menggambarkan perpindahan virus melalui tetesan berukuran besar dan kecil di udara tanpa memperhitungkan jangkauan saat udara dihembuskan. Nicholas Jones menyarankan untuk mempertimbangkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi risiko, seperti pengaturan dalam ruangan dengan luar ruangan.

Kenyataannya bukti penelitian menunjukkan tetesan cairan yang berukuran lebih kecil bisa menyebar dan melayang di udara hingga 7-8 meter dari pusatnya, atau dari orang yang terinfeksi melalui aktivitas seperti batuk dan berteriak. Studi laboratorium juga menunjukan bahwa partikel virus SARS-CoV-2 stabil dalam sampel udara dan bertahan paling lama yaitu hingga 16 jam.

BACA JUGA:  Menemukan Hobi Baru di Tengah Pandemi

Physical Distancing harus dilakukan dengan dibarengi protokol lain, untuk mengurangi risiko penularan virus tersebut. Seperti contoh memakai masker, memakai Face Shield, mencuci tangan, menjaga kesehatan,berada dilingkungan yang bersih dan lain-lainya. Pertimbangan mengenai hal tersebut juga berpeluang memungkinkan keadaan aspek kehidupan sosial dan ekonomi suatu negara kembali ke arah normal dalam waktu yang lebih singkat. []

Komentar

Berita lainnya