oleh

Mempersiapkan Dana Darurat di Era Pandemi

Oleh: Kresna Prameswara, Property Investment Consultant

Pada awal kuartal 2 tahun 2020 kemarin, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa penyebaran Covid-19 secara cepat dan meluas akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional yang pada skenario terberatnya, dapat menyentuh negatif 0,4% di tahun 2020.

Pada skenario terburuk tersebut, Indonesia Crude Price (ICP) berada di level US$ 31 per barel, dan nilai tukar rupiah menyentuh Rp. 20.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dan inflasi yang mencapai 5,1%

Resesi sudah didepan mata, dan wacana pemerintah melakukan cetak uang supaya roda perekonomian tetap berputar pun terus digaungkan. Dengan atau tanpa adanya covid-19, Indonesia sudah memiliki rate inflasi yang lumayan pertahunnya, yakni sekitar +-3% /tahunnya.

Padahal, bisa jadi kenaikan upah dan gaji karyawan tidak mencapai 3% pertahunnya. Dengan adanya inflasi, Uang anda akan mengalami penurunan nilai. Gampangnya, yang mungkin sebelumnya dengan uang Rp. 10.000 anda dapat membeli 5 sabun seharga Rp. 2500-an, sekarang hanya bisa membeli 3 sabun saja dengan asumsi adanya kenaikan Rp. 500/sabunnya.

BACA JUGA:  Dilarang Banyak Pikir Banyak Omong, Kenapa?

Ditambah dengan pandemi yang terjadi dan inflasi yang lebih tinggi, alih-alih menabung untuk dana darurat, bisa jadi malah habis dimakan inflasi.

Lalu bagaimana tips menyiapkan dana darurat di era pandemi ini?

Membiasakan mencatat pengeluaran

Cara paling penting dan mendasar sebelum melakukan perencanaan keuangan untuk mempersiapkan dana darurat adalah dengan membiasakan mencatat apapun pengeluaran anda. Anda dapat mencatat pengeluaran dimana saja, entah di buku, atau mungkin di grup chat yang isinya anda sendiri. Dengan mendisiplinkan pencatatan keuangan, anda dapat mengetahui apa saja yang sebenarnya kebutuhan anda, atau mungkin hanya keinginan saja. Selain itu, anda juga dapat mengetahui pola tertentu yang anda miliki, misalkan adanya pengeluaran jajan setiap minggu atau setiap akhir bulan.

BACA JUGA:  Wakaf dan Kapitalisme

Gunakan Prinsip 60-30-10-10

Prinsip ini berbunyi : maksimal 60% untuk konsumsi, maksimal 30% untuk cicilan dan utang, paling tidak 10% untuk investasi, dan paling tidak 10% untuk dana darurat. Loh jadi 110% dong? Nah prinsip maksimal 60% dan 30% untuk konsumsi dan cicilan berarti anda harus mengusahakan untuk konsumsi dan cicilan tidak melebihi 90% dari pemasukan anda.

Bisa lebih rendah, lebih baik. Paling tidak 10% dan 10% untuk investasi dan dana darurat maksudnya adalah untuk sebisa mungkin mengupayakan menyisihkan 10% dari pendapatan kita untuk investasi, dan 10% lagi untuk dana darurat. Namun jika dibawah itupun, misalnya baru sanggup di 5% untuk investasi, dan 10% untuk dana darurat, juga tidak masalah. Hanya lebih baik, bisa menyisihkan hingga 10%.

Investasi di Produk Deposito

Produk terbaru yang dikeluarkan oleh Bank Syariah Hasanah, Cinere, Depok, mungkin bisa jadi salah satu opsi berinvestasi bagi anda yang berminat berinvestasi menguntungkan dengan minim risiko. Produk deposito ini memiliki skema untuk investor dapat memilih sendiri proyek yang ingin diinvestasikan. Industrinya pun beragam mulai dari UMKM, hingga Properti.

BACA JUGA:  Serial Kartun Nussa Berhenti Produksi, Jutaan Anak Kehilangan Film Islami

Selain dari legalitas yang jelas karena berbadan hukum bank dan sudah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), deposito ini bisa dibilang memiliki rate promo yang cukup tinggi yakni 13% gross (exclude pajak 20%) p.a dengan jangka waktu 1-3 tahun. Dengan minimal investasi sebesar Rp. 2.500.000, nasabah juga mendapatkan perlindungan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mencapai Rp. 2.000.000.000 per nasabah sehingga nasabah tidak perlu khawatir uangnya tidak kembali jika terjadi kendala saat masa deposito berlangsung.

Nah sudah mulai ada gambaran bukan untuk bagaimana cara menyiapkan dana darurat di era pandemi ini? Yuk kita mulai persiapkan diri di era new normal ini! []

Komentar

Berita lainnya