oleh

8 Hal Penting Mencapai Kepatuhan Syariah di Lembaga Keuangan Islam

Audit syariah berhubungan erat dengan praktik audit internal dari mulai ketentuan audit operasional dan kepatuhan untuk memberikan jaminan kepatuhan syariah dalam keagiatan dan operasi keuangan Islam. Kepatuhan syariah merupakan salah satu ciri khas yang membedakan lembaga keuangan Islam dengan lembaga keuangan konvensional, dimana lembaga keuangan Islam harus beroperasi berdasarkan prinsip syariah dalam semua proses, sistem, serta aktivitasnya. Pentingnya kepatuhan syariah dalam meningkatkan kelangsungan hidup lembaga keuangan Islam dan juga untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat atas produk yang sesuai dengan syariah. Luasnya kepatuhan syariah dapat mencerminkan tingkat akuntabilitas dan integritas lembaga keuangan Islam tersebut, bermanfaat untuk mendapatkan kepercayaan yang penuh dari para pemangku kepentingan, terbentuknya kegiatan keuangan Islam yang bertanggung jawab, serta berkelanjutan.

Efektifitas audit internal sangat penting dalam tata kelola dan sistem pengendalian internal organisasi, baik dilakukan agar dapat meminimalisir dan memantau potensi risiko. Audit internal yang efektif dan efisien adalah kemampuan fungsi audit internal untuk mencapai tujuan audit internal dengan memberikan jaminan atas sistem pengendalian internal suatu organisasi. Berikut ini adalah delapan komponen penting untuk mengukur efektivitas fungsi audit internal syariah:

BACA JUGA:  Peluang dan Tantangan Perbankan Syariah di Era Revolusi Industri 4.0

Ruang Lingkup Audit Syariah
Ruang lingkup audit syariah adalah mengukur audit internal yang efektif melalui pengarahan pelaksanaan audit internal, yang berkaitan dengan laporan keuangan di lembaga keuangan Islam seperti pengakuan pendapatan, mengkaji fungsi manajemen risiko keridakpatuhan syariah dan penugasan khusus audit syariah yang diminta oleh Dewan atau Komite Syariah untuk tujuan penugasan audit internal dengan hasil menyediakan jaminan sistem pengendalian internal dalam organisasi.

Tujuan Audit Syariah
Tujuan audit syariah adalah langkah ditetapkan serta dilaksanakannya sistem pengendalian internal yang jelas, kecukupan standar operasional prosedur (SOP), keandalan sistem pelaporan dan sistem aplikasi tekhnologi informasi di lembaga keuangan Islam.

Audit Syariah dan Tata Kelola
Pengukuran audit ayariah dan tata kelola ini meliputi penetapan fungsi audit syariah pada divisi audit internal, adanya konsultasi dengan anggota Komite Syariah, menerncanakan audit syariah, dan melaporkan temuan audit syariah kepada Komite Audit Dewan. Lembaga keuangan syariah dapat menunjuk satu atau lebih dari anggota Komite Syariah sebagai bagian dari Direksi selain Dewan Komite Audit.

BACA JUGA:  Pentingnya Etika Profesional Auditor

Piagam Audit Syariah
Piagam audit syariah adalah dokumen formal yang menjelaskan tujuan, otoritas, wewenang, kemandirian fungsi audit internal syariah, akuntabilitas, standar etika, dan tanggung jawab atas aktivitas audit internal syariah.

Kompetensi Auditor Internal Syariah
Penting bagi auditor internal syariah untuk memiliki pengetahuan, keterampilan, kompetensi lain, menerapkan standar audit internal, memahami prinsip akuntansi, uji audit syariah yang relevan, memahami prinsip manajemen, memahami tata kelola perusahaan, dan komunikasi yang baik.

Proses Audit Syariah
Proses audit syariah dilakukan dengan merumuskan rencana audit melalui pemahaman kegiatan bisnis lembaga keuangan Islam, memiliki akses penuh ke bukti audit lembaga keuangan Islam, mengembangkan program audit internal yang komprehensif, mendapatkan sumber syariah yang relevan, dan melakukan audit syariah secara proses berkala

BACA JUGA:  Pengukuran Fungsi Audit Internal Syariah yang Efektif di Lembaga Keuangan Syariah

Persyaratan Pelaporan
Hasil proses audit syariah harus dilaporkan ke Dewan Audit Anggota Komite dan Komite Syariah. Perlunya rekomendasi dari auditor internal syariah tentang tindakan perbaikan untuk setiap masalah ketidakpatuhan syariah yang ditemukan diseluruh proses audit syariah, serta laporan audit internal syariah harus disahkan oleh Komite Audit Dewan dengan menyertakan temuan ketidakpatuhan syariah, penilaian pada tingkat ketidaksesuaian kepatuhan yang dilakukan berulang, jadwal perbaikan dan opini.

Kemerdekaan
Perlunya sikap mental yang mandiri dan bebas dari campur tangan orang lain untuk dimiliki oleh auditor internal syariah dalam melaksanakan praktik audit syariah, agar terhindar dari ancaman apapun yang dapat menyebabkan hasil yang bias. Auditor internal syariah harus tetap independen di mata para pemangku kepentingan.

Oleh: Siti Nurfitriani
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI

Komentar

Berita lainnya